Monilando's

Life. Books. Traveling. Socmed

Thursday, May 2, 2019

#AyoHijrah Menuju Pengelolaan Keluarga Makin Berkah Bersama Bank Muamalat Indonesia yang Murni Syariah


Kata orang kehidupan baru dimulai setelah menikah. Tepat tanggal 24 Maret 2019 lalu, saya resmi melepas masa lajang. Kehidupan setelah menikah ibarat hijrah yang mana berarti harus lebih baik dibandingkan ketika masih sendiri. Dalam Islam, hijrah berarti berpindah menuju hal yang lebih baik. Dalam hadits Rasulullah SAW juga disebutkan bahwa orang yang kondisi hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia termasuk merugi, bukan?


Apakah Saya Sudah Hijrah?

Jika ditanya apakah kamu sudah hijrah? Kapan kamu hijrah? Saya tak berani mengatakan bahwa saya telah berhijrah. Bagi saya, hijrah adalah sebuah proses berkelanjutan selama hayat masih dikandung badan karena akan selalu ada ruang untuk perbaikan. Namun, tentunya, ada titik mula (starting point) hijrah seseorang. Hijrah bagi saya dimulai ketika saya memutuskan berhijab di usia tujuh belas tahun, di usia itu semakin terbuka mata hati untuk menjalankan perintah agama.

Lalu kemudian saya mendalami Ma’had Tarbiyah selama dua tahun sembari kuliah jurusan akuntansi untuk memperdalam pengetahuan agama.

Apakah mulus-mulus saja macam jalan tol? Oh, tentu tidak. Orang yang mau berhijrah pasti ada saja cobaannya.  Namanya mau naik tingkat, kan?

Kondisi spiritual saya sempat mundur sekian langkah karena pada waktu itu dihampiri beberapa masalah yang membuat saya ingin menyerah. Tapi, masak iya mau udahan hijrahnya? Hijrah adalah proses menjadi lebih baik. Ada titik mulanya tetapi tidak ada titik berhentinya, kecuali jika nyawa sudah meninggalkan raga.

Hijrah selalu memiliki titik mula tetapi tidak ada berhentinya

Akhirnya, saya pun memutuskan mengambil kuliah jurusan ilmu dakwah di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al Manar selepas kerja, seminggu tiga kali. Alhamdulillah, semakin bertambahnya ilmu membuat iman semakin tebal, semakin semangat pula untuk sedikit demi sedikit menambah amal.

Jadi, ya, rasa-rasanya selalu ada momentum yang mana manusia diingatkan oleh Allah akan hijrah. Sampai mana hijrahnya? Seberapa kuat hijrahnya?
Ibarat naik tangga, selalu ada anak tangga dari sebuah proses bernama hijrah.

Membangun Keluarga Adalah Momen Hijrah

Salah satu momen hijrah yang cukup berkesan bagi saya adalah hijrah dari status single menjadi status menikah. Bagaimana bukan hijrah kalau menikah merupakan sebuah penyempurnaan agama, senda gurau suami istri saja dianggap sebagai sebuah ibadah.

Menikah ibarat mengatur ulang (reset) kehidupan menjadi dimulai lagi dari nol. Untuk suami, dialah imam yang bertanggung jawab akan keselamatan keluarganya di dunia dan akhirat. Untuk istri, bila suami ridha padanya maka istri bisa masuk surga dari pintu mana saja yang ia suka.

Saya selalu teringat kata-kata suami di hari pertama kami memulai rumah tangga, “Mulai sekarang, kalau kamu berbuat dosa misalnya ngomongin orang lain, ingatlah kamu sudah punya suami. Abang bertanggung jawab atas kamu. Yuk, kita sama-sama senantiasa memperbaiki diri,”

Hijrah Bersama dalam Ikatan Keluarga

Ibarat berlayar bersama dalam satu kapal, dalam satu keluarga haruslah menuju ke arah yang sama.  Sebagai pengantin baru, saya dan suami bersegera merumuskan hal-hal yang penting bagi keluarga kami, mulai dari aspek ibadah, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya. Ibarat membangun rumah, pondasi keluarga haruslah kuat agar tak mudah goyah. Komunikasi dan keterbukaan ibarat semen yang merekatkan pondasi dalam rumah tangga.

Khusus untuk pondasi finansial, kami menyusun tujuh pedoman pengelolaan keuangan keluarga. Tujuannya agar pengelolaan keuangan keluarga bisa dilakukan secara syariah agar hidup semakin berkah. Ya, apalagi yang dicari dalam hidup kalau bukan berkah alias kebaikan yang bertambah-tambah.

Apa saja pedomannya?


Pertama, semua yang masuk haruslah yang halal. Jangan sampai ada uang syubhat apalagi haram. Cek lagi sumber keuangan secara teliti. Apakah ada unsur halal atau syubhatnya? Misalnya, selama ini saya hampir tak pernah mengecek uang yang masuk ke rekening, saya terima-terima saja. Namun, ternyata setelah saya cek rekening pembayaran tunjangan bulan ini, jumlah tunjangan yang saya terima lebih besar sekian juta dibanding yang seharusnya. Saya pun melapor ke bagian keuangan, ternyata ada kesalahan input yang dilakukan oleh bagian administrasi. Seandainya saya tidak lapor, kemungkinan besar kesalahan tersebut tidak diketahui. Tapi, ngeri saja kan, kalau nanti harus dikembalikan di akhirat atas apa yang bukan hak saya, mending dikembalikan di dunia.

Kedua, hindari riba. Dosa paling rendah dari riba ibarat menyetubuhi ibu kandung sendiri. Serem kan ya? Kami berupaya menghindari riba, bahkan suami menolak menggunakan dompet elektronik penyedia jasa online karena mengikuti pendapat ulama yang beranggapan bahwa cashback atau diskon yang diterima merupakan tambahan kenikmatan yang bisa jatuh kepada riba. Lebih baik berhati-hati, begitu pesannya. Suami juga mengajukan permintaan kepada bank konvensional tempat rekening gaji (untuk rekening gaji tidak bisa memilih bank pembayaran) agar bunga bank atas rekeningnya tidak usah diberikan.

Ketiga, dahulukan zakat dan sedekah. Pastikan bahwa zakat harus didahulukan, misalnya dengan membayar zakat profesi di awal bulan sebagai sebuah bentuk kehati-hatian (saya mengikuti pendapat bahwa terdapat zakat profesi sejumlah 2,5%). Selain itu, Mama menanamkan kepada anak-anaknya agar bersedekah setiap waktu subuh dengan cara memasukkan uang ke dalam kenclengan. Setiap minggu atau setiap bulan uang yang terkumpul disalurkan kepada yang berhak melalui lembaga penyalur yang tepercaya.

Keempat, tidak boros dan berlebih-lebihan. Pengeluaran dicatat per hari dan dievaluasi secara berkala apakah memang diperlukan dan apakah bersifat boros atau berlebihan. Tidak boros bukan berarti pelit. Hanya saja berupaya tidak berlebihan membelanjakan uang atau bermewah-mewahan yang bisa melalaikan.

Kelima, sebisa mungkin menghindari utang. Dalam Islam, berutang memang diperbolehkan tetapi seyogianya dilakukan dalam keadaan terpaksa. Kami bertekad tidak bermudah-mudahan dalam berutang, kecuali dalam keadaan yang sangat mendesak.

Keenam, siapkan investasi syariah. Investasi yang coba kami rencanakan per bulan adalah pembelian logam mulia emas. Investasi logam mulia bukan dimaksudkan untuk mencari keuntungan karena kalau dihitung-hitung nilai emas relatif stagnan. Akan tetapi ditujukan untuk lindung nilai dari inflasi. Misalnya, 1 dinar emas sepuluh tahun yang lalu bisa digunakan untuk membeli satu ekor kambing, 1 dinar emas di tahun ini juga berdaya beli sama.

Ketujuh, mengutamakan menggunakan jasa perbankan syariah. Mengapa harus perbankan syariah? Utamanya, terkait unsur riba atau bunga bank. Akad yang digunakan oleh bank syariah berpedoman kepada ajaran agama Islam dan juga mendapat pengawasan dari Dewan Syariah Nasional, badan di bawah Majelis Ulama Indonesia (selain diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan tentunya). Jadi, terdapat perasaan nyaman dan aman sebagai nasabah.


Memindahkan pembayaran rekening tunjangan dari bank konvensional ke Bank Muamalat Indonesia

Ngomong-ngomong soal bank syariah, saya memilih menjadi nasabah Bank Muamalat Indonesia sejak tahun 2017. Tahun 2019 ini, bagian keuangan kantor saya membuka kesempatan apabila tunjangan kinerja hendak dibayarkan melalui bank manapun yang diinginkan oleh pegawai (sebelumnya rekening pembayaran gaji dan tunjangan sudah ditentukan). Diperkuat oleh pesan suami agar sebisa mungkin menghindari riba, saya pun mantap memindahkan pembayaran tunjangan kinerja dari rekening bank konvensional ke rekening Bank Muamalat Indonesia pada tanggal 24 April 2019 lalu. Prosesnya mudah, hanya menyerahkan surat permohonan pemindahan rekening sekaligus scan lembar pertama buku tabungan Bank Muamalat Indonesia. Tunjangan bulan Mei pun sudah masuk ke rekening Muamalat. Yey!



Mengapa memilih Bank Muamalat Indonesia

Ada tiga pertimbangan mendasar.

Pertama, Bank Muamalat Indonesia merupakan bank syariah pertama di Indonesia, didirikan pada tanggal 1 November 1991 dan resmi beroperasi pada 1 Mei 1992. Wah, sudah lama ya? Jadi, eksistensi sebagai bank syariah sudah tak diragukan lagi. Bank Muamalat Indonesia merupakan bank syariah Indonesia pertama yang membuka cabang di luar negeri yakni di Kuala Lumpur, Malaysia. Hingga kini, Bank Muamalat Indonesia sudah memiliki 276 kantor cabang dengan jumlah nasabah mencapai 1,5 juta. Selain itu, terdapat 103 mobile branches dan 710 ATM.

Kedua, Bank Muamalat Indonesia tidak menginduk kepada bank konvensional. Jadi tidak dikhawatirkan pengelolaan dananya akan bercampur. Cara kerja Bank Muamalat Indonesia didasarkan pada prinsip-prinsip pengelolaan keuangan Islami serta akad perbankan yang sesuai dengan syariah.

Ketiga, banyak kemudahan pilihan layanan dan fasilitas yang ditawarkan yang sesuai dengan nasabah, khususnya kaum Muslim. Misalnya, membuka rekening Muamalat sangat mudah, bisa dilakukan melalui situs www.ayo-hijrah.com atau aplikasi ponsel di Play Store atau App Store dengan nama #AyoHijrah. Aplikasi ini resmi bisa diakses oleh masyarakat umum per tanggal 1 Mei 2019 lalu bertepatan dengan ulang tahun Bank Muamalat Indonesia yang ke-27.


Mobile banking mudah digunakan

Ibarat perempuan dewasa, Muamalat makin pandai bersolek. Secara umum, Bank Muamalat Indonesia memiliki berbagai layanan unggulan untuk memberikan kemudahan kepada para nasabah yakni meliputi tabungan, Muamalat Prioritas, Giro, Deposito, kartu shar-e debit, dan pembiayaan. Secara khusus, Bank Muamalat Indonesia menyediakan berbagai layanan unggulan untuk kaum Muslim. Misalnya, ada layanan jemput zakat untuk wilayah Jabodetabek, adanya tawaran berinfak di akhir setiap transaksi di Bank Muamalat Indonesia, dan sebagainya.

Tak heran jika di tahun 2018 lalu Bank Muamalat Indonesia meraih peringkat teratas kategori engagement award dalam acara Satisfaction Loyalty Engagement Awards 2018 yang diselenggarakan oleh Infobank. Artinya, para nasabah sangat loyal kepada Muamalat. Bank Muamalat Indonesia juga meraih penghargaan bank syariah terbaik di Indonesia tahun 2018 dari majalah Global Finance. Penghargaan itu diraih untuk kedelapan kalinya. Artinya, Bank Muamalat dinilai berhasil memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan pembiayaan syariah dan dianggap cakap dalam memenuhi kebutuhan nasabah dengan didasarkan pada prinsip syariah.

Urusan pengelolaan keuangan adalah merupakan hal penting karena menjadi dasar pengambilan keputusan di kehidupan. Oleh karena itu, harus senantiasa sebisa mungkin dijaga agar sesuai dengan nilai-nilai Islam. Menggunakan jasa bank dengan cara kerja didasarkan prinsip syariah seperti Bank Muamalat Indonesia tentu memudahkan pengelolaan keuangan keluarga dilakukan sesuai prinsip syariah. Tak salah jika Bank Muamalat Indonesia mengajak kaum Muslim untuk #AyoHijrah bersama Bank Muamalat Indonesia.



Apa Itu #AyoHijrah Bersama Bank Muamalat Indonesia?


#AyoHijrah merupakan kampanye Bank Muamalat Indonesia yang dimulai sejak tanggal 8 Oktobet 2018 lalu. Pada prinsipnya, Muamalat memiliki semangat yang tinggi untuk mengajak masyarakat Indonesia berhijrah, khususnya dalam hal pengelolaan keuangan menggunakan layanan perbankan. Tujuannya agar hidup semakin berkah.

Jadi, Bank Muamalat Indonesia tak hanya ingin menjadi penyedia layanan perbankan syariah saja tetapi juga menjadi penggerak semangat umat untuk terus menerus memperbaiki diri (hijrah) sesuai dengan ajaran Islam.

Nah, bentuk konkret dari kampanye #AyoHijrah meliputi seminar perbankan syariah, penyelenggaraan kajian islami, pemberdayaan masjid sebagai salah satu agen perbankan syariah, hingga pelaksanaan edukasi literasi keuangan di kampung pemulung. Selain itu, Bank Muamalat Indonesia juga memberikan nama baru untuk produk layanan perbankan yang diberikan dengan menambahkan kata ‘hijrah’ seperti Tabungan IB Hijrah, Tabungan IB Hijrah Prima, Deposito IB Hijrah, dan Giro IB Hijrah.

Dengan gerakan #AyoHijrah, Bank Muamalat Indonesia bertekad untuk menjadi pusat dari Ekosistem Ekonomi Syariah dan turut membangun industri halal di Indonesia dengan pemanfaatan perkembangan teknologi terkini.

Untuk informasi lebih lanjut #AyoHijrah bisa dilihat di video Bank Muamalat Indonesia berikut :

Semangat dari Hijrah adalah Perbaikan Diri

Inti dari hijrah adalah peningkatan kualitas diri dalam hal apapun. Dengan demikian diharapkan seorang Muslim akan mampu menjalankan ajaran agama secara kaffah (menyeluruh) dengan didasarkan pada prinsip-prinsip syariah.

Agama Islam tak hanya mengatur mengenai urusan ibadah tetapi juga urusan muamalah yang mana pengelolaan keuangan termasuk di dalamnya.

Jadi, sudah siapkah berhijrah dalam pengelolaan keuangan keluarga yang sesuai prinsip syariah? Yuk, salah satunya mulai dengan menggunakan jasa perbankan syariah tepercaya seperti Bank Muamalat Indonesia.

***

Daftar referensi :
1. https://www.bankmuamalat.co.id/seputar-ayo-hijrah
2. https://ekonomi.kompas.com/read/2018/10/08/121404826/bank-muamalat-luncurkan-nama-produk-baru-lewat-tagar-ayohijrah
3. http://infobanknews.com/fokus-ke-segmen-muslim-muamalat-kampanyekan-ayo-hijrah/

4 comments:

  1. Alhamdulillah, kantor saya juga sudah mengakomodasi pegawainya yang ingin menggunakan bank syariah sebagai payrollnya. Bahkan tidak hanya tunjangan, full take home pay bebas menggunakan bank syariah

    ReplyDelete
  2. Terima Kasih Mon.. Renyah!!
    Jadi makin mantap untuk daftar jadi nasabah bank Muamalat. Segera insya Allah.
    Makasi sharingnya Mon.

    ReplyDelete