7 Pertanyaan yang Perlu Diajukan Ketika Ta’aruf




“The right question is usually more important than the right answer.” (Plato)

Ta'aruf - Bagaimana kamu yakin bahwa dia adalah jodohmu? Bagaimana kamu tahu bahwa seseorang adalah orang yang tepat untukmu? Kalau kamu pacaran, mungkin kamu memiliki waktu yang lama untuk mencari tahu. 

Namun, jika kamu memutuskan untuk ta’aruf, apalagi dengan orang yang sama sekali tidak kamu kenal sebelumnya, apa yang harus kamu lakukan agar kamu tidak membeli kucing dalam karung?

Bayangkan kamu duduk di sebuah ruangan bersama seseorang yang tak pernah kamu kenal sebelumnya, dengan perantara di antara kalian. Kamu sudah membaca CV ta’aruf yang disampaikan oleh bakal calon pasanganmu dan dia juga dia telah membaca CV kamu. Lalu, kalian dipertemukan. Ini adalah kesempatanmu untuk mengenal lebih lanjut tentang sosoknya. Kamu memiliki waktu, katakanlah 2-3 jam untuk kemudian memutuskan apakah ta’aruf bisa dilanjutkan menjadi khitbah atau cukup disudahi. Bisa jadi ini adalah satu-satunya kesempatanmu.

Apa saja yang akan kamu tanyakan? Pertanyaan-pertanyaan apa yang bisa memberikan jawaban yang meyakinkanmu untuk berkata ya atau tidak atas kelanjutan ta’aruf?


Dalam konteks ta’aruf, kira-kira mengapa kamu harus menanyakan pertanyaan yang tepat?

Karena pertanyaan yang tepat akan bisa memvalidasi.

Benarkah ia adalah orang yang tepat untukmu? Benarkah kamu adalah orang yang tepat untuknya? Benarkah kamu dan dia bisa menjadi dua orang yang beriringan bersama dalam menjalani kehidupan?

Jadi, apa saja pertanyaan yang perlu kamu tanyakan ketika ta’aruf?

Jangan ta’aruf dengan tangan kosong

Sebelum kamu mengajukan pertanyaan ketika ta’aruf, jangan ta’aruf dengan tangan kosong. Kamu harus mengidentifikasi kebutuhan dan keinginanmu dengan menetapkan kriteria pasangan yang kamu mau dan mengidentifikasi rumah tangga seperti apa yang kamu inginkan.

Mengapa? Agar kamu bisa fokus dan memudahkanmu melakukan filter.

Misal, kamu memiliki kriteria utama suami yang sholat 5 waktu berjama’ah di masjid, tidak merokok. Itu akan menjadi panduanmu ketika ta’aruf. Semisal, bakal calon pasangan tidak memenuhi kriteria itu. Ya sudah, jangan lanjutkan jika memang hal tersebut tidak ada pada bakal calon pasangan.

Kamu ingin rumah tangga yang bersama-sama menjadi penghafal Al Qur’an. Kamu bisa menanyakan bagaimana pandangannya tentang hal tersebut.

Setelah menentukan kriteria utama pasangan dan rumah tangga yang kamu inginkan, silakan siapkan pertanyaanmu ketika ta’aruf. Apa saja?

Pertanyaan Penting Ketika Ta’aruf



Saya membaginya menjadi tujuh jenis pertanyaan :

Pertama, AGAMA
Wanita dinikahi karena 4 hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, maka kalian akan beruntung.” (H.R. Bukhari)



Agama seyogianya menjadi kriteria utama dalam memilih pasangan hidup. Ulama Hasan Al Bahri pernah memberikan nasihat kepada seorang ayah yang menanyakan sebaiknya putrinya ia nikahkan dengan siapa. “Nikahkan dia dengan orang yang bertakwa kepada Allah. Jika orang itu mencintai putrimu, ia akan memuliakannya; dan jika ia membencinya, ia tidak akan menzhaliminya.”

Artinya, tidak akan rugi seseorang yang memilih pasangan karena agamanya.

Lalu, bagaimana pertanyaan tentang agama yang bisa kamu tanyakan?

Akidah adalah fundamental dari agama Islam. Jadi, tanyakanlah pertanyaan terkait akidah terlebih dahulu. Kamu bisa menanyakan “Apa sih tauhid menurut kamu dalam aplikasinya di kehidupan sehari-hari?”

Terkait agama, berikut contoh pertanyaan yang bisa kamu ajukan :
  • Kamu memandang dirimu sebagai seorang Muslim yang bagaimana?
  • Apakah kamu mengikuti aliran tertentu dalam beragama?
  • Ibadah sunnah yang rutin kamu lakukan sehari-hari apa?
  • Apa pengalamanmu dalam beragama yaang paling berkesan?

Mengapa pertanyaan tentang agama penting? Karena pasangan merupakan orang yang akan beribadah bersama dengan kita dalam jangka waktu yang lama, bahkan katanya pernikahan merupakan ibadah terpanjang.


Kedua, PERSONAL



Ingatlah bahwa tidak cukup menikah dengan orang baik, tetapi juga carilah orang yang cocok dengan kita. Ketika ta’aruf, kita berkesempatan untuk menggali lebih jauh tentang kepribadian dan sudut pandang seseorang.

Kamu bisa menanyakan :
  • Apa saja kelebihan dan kekuranganmu yang menonjol/utama?
  • Apa yang menjadi impian terbesar dalam hidupmu?
  • Apa yang kamu lakukan ketika marah kepada seseorang?
  • Apa yang kamu lakukan di waktu senggangmu?
  • Apa yang menjadi prioritasmu saat ini?
  • Bagaimana caramu menyelesaikan masalah?
Dari jawaban yang ia sampaikan, kamu bisa menilai kepribadian dan juga karakter seseorang. Pertanyaan tentang cara mengelola kemarahan menunjukkan tentang bagaimana ia akan memperlakukan seseorang ketika marah, termasuk memperlakukanmu ketika menjadi pasangannya. Dari caranya menyelesaikan masalah, kamu bisa menilai seberapa dewasa dia.


Ketiga, KELUARGA


Banyak orang berkata bahwa menikahi seseorang adalah juga ‘menikahi’ keluarganya. Jadi, mau tak mau, kamu harus paham kamu menikah dengan orang dari keluarga seperti apa. Filosofi Jawa mengatakan “bobot, bibit, bebet”, bibit terkait dengan asal usul (keturunan) calon pasangan.

Bagaimana cara mengetahui lebih dalam tentang keluarga? Tanyakanlah :
  • Bagaimana kamu mendeskripsikan keluargamu? (Pertanyaan ini merupakan pancingan awal untuk mengetahui latar belakang keluarga dan keluarga seperti apa yang akan kamu hadapi jika kalian jadi menikah)
  • Adakah preferensi orang tua terkait menantu?
  • Apakah orang tua keberatan jika memiliki menantu yang... (sebutkan kondisimu yang menurutmu bisa membuat orang tua keberatan, misal beda suku, perempuan karier, dari keluarga broken-home, dsb)

Dengan pertanyaan pancingan seperti di atas, kamu bisa menanyakan pertanyaan lanjutan yang lebih sesuai dengan kondisi keluarganya secara spesifik. Misal, dia bercerita bahwa dia merupakan anak tunggal. Kamu bisa menanyakan pertanyaan lanjutan, “Ohya berhubung anak tunggal, kira-kira ada syarat dari orang tua nggak ya misal untuk tinggal bareng orang tua?”

Ketika ta’aruf dulu, saya memastikan kepada suami pada waktu itu bahwa keluarganya sudah paham mengenai ta’aruf. Bagi sebagian keluarga untuk menerima orang baru sebagai anggota keluarga itu tidak mudah, apalagi melalui ta’aruf yang mana sang calon belum dikenal sama sekali oleh keluarganya.

Selain itu, saya juga menanyakan apakah orang tuanya (Minangkabau) keberatan bila memiliki menantu orang Jawa. Hal tersebut saya tanyakan untuk memitigasi risiko saya tidak diterima oleh keluarganya.

Jadi, pertanyaan tentang keluarga amat penting karena nantinya keluarga pasangan akan menjadi keluarga kita. Tentu, kita ingin tak hanya diterima oleh pasangan, tetapi juga diterima oleh keluarganya. Kita juga harus bisa menerima keluarga pasangan seperti kita menerima dia.


Keempat, KRITERIA PASANGAN


Tanyakanlah apa ekspektasi bakal calon pasanganmu tersebut dan nilailah apakah kamu dan dia bisa saling melengkapi.

Kamu bisa memancingnya bercerita lebih dalam tentang kriteria yang diinginkannya dengan menanyakan :
  • Bagaimana kamu memandang pasangan hidup (suami/istri)?
  • Kriteria pasangan yang menurutmu harus ada itu apa?
  • Hal apa yang paling tidak kamu harapkan ada pada diri pasanganmu?
  • Apakah kamu keberatan jika memiliki pasangan yang (sebutkan kekurangan/kondisimu yang kira-kira bisa membuat seseorang keberatan menerimamu sebagai pasangan, misal : pencemburu, cerewet, tidak bisa memasak, tidak bisa menyetir, dsb)

Misal, ketika itu saya menanyakan apakah dia keberatan jika saya bermaksud mengambil beasiswa S2 di luar negeri, apakah keberatan jika memiliki istri yang bekerja.


Kelima, RUMAH TANGGA


Menikah bukan hanya untuk mengganti status di KTP, tetapi kamu akan membangun rumah tangga dengan seseorang yang bakal bersamamu hingga akhir hayat. Jadi, kamu harus memastikan dahulu rumah tangga apa yang akan kamu bangun bersama orang tersebut.

Tanyakanlah pertanyaan tentang rumah tangga yang diinginkan seperti :
  • Awali dengan pertanyaan pancingan, “Keluarga seperti apa yang kamu inginkan?”
  •  Rumah tangga ideal menurutmu itu yang bagaimana?
  • Bagaimana pembagian tugas domestik antara suami istri menurutmu? (Mungkin terdengar sepele, tetapi ketika berumah tangga urusan domestik bisa jadi sumber permasalahan)
  • Apabila ta’aruf ini berlanjut menikah, kira-kira akan tinggal di mana (kos/kontrak/sama orang tua)?
  • Bagaimana pandanganmu tentang poligami? Dan apakah ada keinginan untuk melakukannya?

Pastikan kamu menanyakan hal-hal yang penting bagimu dalam sebuah pernikahan. Misal, dari pertanyaan tentang keluarga saya mengetahui bahwa suami tinggal bersama adik laki-lakinya. Kemudian, saya pun menanyakan “Jika memang ta’aruf ini berlanjut, kira-kira bisa nggak ya kalau nanti tinggalnya hanya kita berdua saja?”

Saya juga mengemukakan preferensi dalam berumah tangga bahwa saya nggak ingin membeli rumah dengan cicilan bank dan menanyakan pendapatnya tentang hal tersebut.


Keenam, FINANSIAL




Jangan malu untuk menanyakan tentang finansial sebelum menikah. Masalah ekonomi merupakan salah satu penyebab perceraian utama di Indonesia. Jadi, alangkah lebih baiknya jika dapat diantisipasi dari awal.

Kamu bisa menanyakan :
  • Bagaimana caramu mengelola keuangan?
  • Apakah kamu memiliki kewajiban finansial ke keluarga?
  • Apakah kamu memiliki tanggungan finansial/utang?
  • Nafkah istri itu menurutmu seperti apa?
  • Sebutkan kasus terkait keuangan misal istri tidak bekerja dan orang tuanya membutuhkan bantuan finansial, tanyakanlah apakah dia tidak keberatan untuk membantu
  • Bagaimana pandanganmu tentang utang?
  • Kalau suami memiliki gaji UMR, apakah kamu keberatan?

Dari pertanyaan tentang finansial, kamu bisa menilai kondisi dan cara pandang bakal calon pasangan tentang finansial. Misal, kamu bisa menilai seseorang itu boros atau pelit.

Kebetulan, saya dan suami satu instansi tapi beda unit eselon I. Saya tidak perlu menanyakan berapa gajinya karena saya sudah tahu gaji PNS golongan tersebut. Jadi, ketika ta’aruf saya hanya menanyakan, “Adakah penghasilan lain di luar gaji?”

Saya juga memberikan persyaratan terkait keuangan kepada suami. “Ketika saya menikah, saya ingin terus bekerja dan tidak ingin dibatasi dalam memberikan bantuan finansial kepada keluarga. Kira-kira keberatan nggak ya dengan hal tersebut?”


Ketujuh, KESEHATAN


Dalam ta’aruf, kita dianjurkan untuk bertanya tentang kesehatan pasangan. Kamu juga mengemukakan kondisi kesehatanmu.

Pertanyaan yang bisa diajukan :
  • Apakah kamu memiliki penyakit tertentu?
  • Apakah kamu merokok? Jika misal ya, bersediakah kamu untuk berhenti merokok setelah menikah?

Dengan mengetahui kondisi kesehatan pasangan, kamu bisa memperkirakan banyak hal. Jika bakal calon pasanganmu memiliki riwayat penyakit tertentu, kamu bisa mengetahui di awal kondisi yang akan dihadapi. Kamu juga bisa mengetahui kemungkinan riwayat penyakit tersebut menurun pada anak atau tidak. Ingat, kamu juga mencari ayah/ibu anakmu. 

Kedelapan, PAMUNGKAS

Ketika ta’aruf, ingatlah bahwa kita tidak boleh mencari aib seseorang. Jangan menanyakan dosanya di masa lalu. Namun, menurut saya, jangan sampai kondisi masa lalu bakal calon pasangan bakal mengganggu perjalanan rumah tangga ke depan, jika berlanjut.

Saya menganjurkan untuk menanyakan pertanyaan ini, “Adakah hal di masa lalu yang kira-kira masih menjadi ganjalan dan bisa mengganggu rumah tangga ke depan?”

Jangan sungkan ketika bertanya dalam ta’aruf karena itulah kesempatanmu untuk menggali lebih dalam. Namun, tentu saja, sampaikanlah pertanyaan dengan kalimat yang sopan dan nada bicara yang santai. Tanyakan secara halus dan hindari nada judging dalam mengemukakan pertanyaan. Ingat untuk memasukkan kondisimu dalam pertanyaan kepadanya sehingga jawaban yang ia berikan akan benar-benar relevan.

Dalam Islam, kamu boleh mengajukan syarat tertentu kepada calon pasangan sebelum menikah. Namun, tentu saja, syarat yang tidak bertentangan dengan syariat. Masukkanlah syaratmu itu ketika ta’aruf.

Sesungguhnya persyaratan yang paling layak untuk dipenuhi adalah persyaratan yang diajukan untuk melanjutkan pernikahan.” (HR. Bukhari 2721, Muslim 1418, dan yang lainnya).

Semisal, laki-laki boleh mensyaratkan untuk memiliki istri yang masih perawan dan apabila nanti setelah menikah istri ternyata sudah tidak perawan, suami memiliki hak fasakh (membatalkan pernikahan) apabila ia tidak ridha terhadap kondisi sang istri. Perempuan juga boleh mengajukan syarat tidak mau dipoligami.

Pertanyaan ketika ta’aruf sangat penting untuk mengetahui kondisi bakal calon pasanganmu, memberitahukan kondisimu kepadanya, dan sebagai pembuka penilaianmu apakah ta’aruf bisa dilanjutkan atau cukup sampai itu saja.

Bukan untuk mencari kekurangan seseorang tetapi untuk mengetahui apakah kamu bisa bersama orang seperti itu. Kamu tahu kondisi apa yang kamu hadapi jika menikah dengannya.

Kamu tahu di awal tentang konsekuensi yang sekiranya kamu hadapi ketika mengambil keputusan 

Bagaimana kita tahu seseorang mengatakan yang sebenarnya ketika ta’aruf?


Secara pribadi, saya tidak menyarankan kamu menikah dengan orang yang sama sekali tidak kamu kenal alias stranger. Dalam tulisan sebelumnya, 7 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Memutuskan Ta’aruf, saya menuliskan bahwa perantara sebaiknya orang yang mengenal kamu dan bakal calonmu dengan cukup baik. Mengapa? Karena kamu akan bisa melakukan check and recheck atas jawaban yang diberikan bakal calon pasanganmu saat ta’aruf. Apa benar dia bekerja di perusahaan yang dikatakannya? Apa benar dia benar orangnya suka ke masjid? Apa benar statusnya benar-benar belum menikah? Dan sebagainya.

Ketika saya memutuskan ta’aruf dengan laki-laki yang saat ini menjadi suami saya, saya menggali info sebanyak-banyaknya dari mutual friends alias orang-orang yang sama-sama mengenal saya dan dia (jadi walaupun saya dan dia tidak kenal sama sekali, kami memiliki beberapa teman yang sama). Saya memverifikasi beberapa jawabannya saat ta’aruf dan meminta testimoni teman-teman. Begitu juga dengan dia yang mencari testimoni beberapa orang tentang saya.

Jadi, ta’aruf tidak berarti membeli kucing dalam karung. Jangan sampai mengalami kejadian yang tidak diinginkan seperti ‘ikhwan’ yang menipu ketika ta’aruf (silakan googling sendiri terkait ini).

Enaknya ta’aruf menurut saya adalah nothing to lose. Kalau berlanjut ya alhamdulillah bertemu jodoh, jika tidak pun tidak ada ruginya. Mengapa? Karena dalam ta’aruf, rasa baper bisa diminimalkan. Interaksi tidak dilakukan secara langsung tetapi melalui perantara.

Jadi, kamu sudah siap untuk ta’aruf?

***

Baca juga alasan saya menikah dengan cara ta'aruf di Menikah Tanpa Cinta, Mengapa Tidak? dan persiapan ta'aruf di 7 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Memutuskan Ta'aruf

***

https://firanda.com/342-nikahilah-aku-tapi-dengan-syarat-tidak-berpoligami.html
https://konsultasisyariah.com/22591-ternyata-istriku-tidak-perawan.html




12 comments

  1. Wah bisa menjadi referensi nih, terimakasih ya! Sangat bermanfaat sekali.

    ReplyDelete
  2. Menarik sekali kontennya mbak. Sangat bermanfaat. Btw, salam kenal

    ReplyDelete
  3. Warbyasa
    Dulu perasaan kami gak gini" banget ya karena udah semanhaj aja si
    Tapi ya masing" orang kan beda" ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya kondisi dan prioritas masing2 beda hehe.. semoga ada yang bermanfaat yang bisa diambil pembaca

      Delete
  4. Sangat menginspirasi mba, semoga sehat selalu dan keluarganya sakinah mawadah warahmah yaa. Thankyou for sharing, mbaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. terima kasih doanya.. doa baik kembali kepada yang mendoakan

      Delete
  5. Hi kak. Sangat bermanfaat, walaupun mungkin dipraktikkannya masih 5-8 tahun ke depan, hehe. Izin share ya kak, terima kasih. :)

    ReplyDelete
  6. Sangat bermanfaat dan membantu tulisannya mba. Izin share ya mba :)

    ReplyDelete