Showing posts with label Islam. Show all posts

Islam Rahmatan Lil ‘Alamin : Ketika Religiusitas Selaras dengan Perdamaian


Hampir empat belas abad yang lalu, pada bulan suci Ramadhan, Rasulullah SAW beserta sekitar 10.000 pasukan Muslim menguasai kota Mekah. Peristiwa bersejarah tersebut terekam sebagai Fathu Makkah atau Pembebasan Kota Mekah. Syaikh Ramadhan Al Buthi mengisahkan dalam kitab Fiqhus Sirah bahwa Sa’ad bin Ubadah berkata kepada Abu Sofyan,  Hari ini hari berkecamuknya perang, hari ini dihalalkan hal yang disucikan, hari ini Allah akan menghinakan Quraisy!”
 
Syahdan, Rasulullah SAW menjawabnya, “Bahkan hari ini adalah hari kasih sayang. Di hari ini, Allah mengagungkan Ka’bah,”1

Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri dalam kitab Ar-Rahiq Al Makhtum  menarasikan bahwa Rasulullah SAW menjawab, “Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan (pemuka kaum Quraisy) maka ia selamat ”2

Kedamaian dan keamanan dirasakan oleh kaum Quraisy yang memerangi Rasulullah. Andai saja Islam tidak menjunjung tinggi kasih sayang antar sesama umat manusia, niscaya kala itu tertumpah darah kaum Quraisy. Namun, dengan kasih sayang dan sifat memaafkan dari Rasulullah, penduduk Mekah berbondong-bondong masuk Islam tanpa paksaan. 

Menebar Kasih Sayang untuk Semua : Bagaimana Perdamaian Diperintahkan

Dalam Islam, heterogenitas umat manusia merupakan suatu hal yang menjadi ketetapan Allah. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal…” (terjemahan Q.S. Al Hujurat:13). 

Tidak ada satu pun dalam ajaran Islam yang menyatakan bahwa bumi hanya dihuni oleh umat Islam saja. Hal tersebut menimbulkan suatu konsekuensi logis bahwa Islam memerintahkan pemeluknya untuk berbuat baik kepada semua makhluk, tanpa terkecuali. Allah akan menunjukkan belas kasih-Nya kepada mereka yang bermurah hati. Bermurah hatilah kepada penduduk bumi, maka penguasa surga akan bermurah hati kepadamu” (H.R. al-Turmudzi)

Frasa “penduduk bumi” menunjukkan bahwa perintah untuk bermurah hati diberikan tanpa membedakan  apa dan bagaimana penduduk bumi. Bahkan, selaras dengan perintah bermurah hati, perintah untuk berlaku adil diiringi larangan untuk memperturutkan kebencian, “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (terjemahan Q.S. Al Ma’idah:8)

Perbuatan baik dalam Islam tidak memandang atribut yang melekat pada seseorang. Rasulullah SAW bersabda, “Jibril senantiasa mewasiatkan aku untuk berbuat baik kepada tetangga sampai-sampai aku mengira ia akan mendapatkan warisan dariku” (Muttafaqun ‘alaihi). Kata ‘tetangga’ yang dirujuk secara umum merupakan sebuah indikasi yang kuat akan perintah Islam untuk menebar kasih sayang tanpa terkecuali. 

Berbuat Adil :  Satu Langkah Lebih Dekat dengan Perdamaian 

Jika keadilan merupakan sebuah prasyarat bagi terciptanya perdamaian, Islam telah mengaturnya secara tegas. Secara eksplisit, dikatakan bahwa Allah SWT menyukai orang-orang yang berlaku adil, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,”(terjemahan Q.S. Al Mumtahanah:8)

Jika harta merupakan salah satu pemicu mengenai persengkataan yang dapat mengusik perdamaian dalam keluarga, Islam telah mengatur tentang hukum Faraid (hukum waris). Pembagian harta dibuat dengan suatu ketentuan yang diharapkan mampu memberikan rasa keadilan. 

Jika keadilan hanya diperuntukkan bagi satu golongan tertentu, maka hal tersebut amat layak untuk dipertentangkan. Sebuah riwayat termahsyur dari Imam Al Hakim menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib, khalifah keempat sekaligus menantu Rasulullah SAW, kehilangan baju besinya pada saat terjadi perang. Kemudian, ia mendapati bahwa baju besinya ada di tangan seorang Yahudi. Singkat cerita Ali ra. berperkara di depan hakim dengan orang Yahudi tersebut. Lantaran Ali ra. tak mampu mengajukan dua orang saksi yang independen (ia memiliki dua orang saksi dan salah satunya adalah Hasan sang anak), maka hakim memutuskan menolak kesaksian Hasan dan memenangkan orang Yahudi dimaksud. Ali ra. dengan kelegawaannya menerima keputusan tersebut dan justru hal itulah yang membuat hati sang lawan tersentuh dan kemudian memeluk Islam. Keadilan harus ditegakkan, meski pemimpin yang berdiri di hadapan.

Tidak Ada Paksaan dalam Agama : Bagaimana Islam Mendorong Perdamaian 


Ia lah Muhammad Al Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Tatkala penduduk Konstantinopel memadati Gereja Hagia Sophia dengan ketakutan, Sultan Mehmed memberikan jaminan keamanan kepada para penduduk. Selain itu ia juga memerintahkan para pengawalnya untuk menjaga gereja, rumah dan tempat publik sipil. Tidak ada paksaan bagi penduduk kota taklukannya untuk memeluk Islam, seperti diterangkan pada ayat, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam),” (terjemahan Q.S. Al Baqarah:256)

Islam Bukan Sekadar Ayat Transendental

Islam bukan hanya sekadar berbicara tentang ayat transendental. Ia lah Islam yang mengatur bagaimana urusan sebesar tata negara dan roda pemerintahan harus dijalankan. Pun, ia mengatur bagaimana unit terkecil seperti hubungan antara dua manusia seyogianya dibangun. Islam bukan hanya sekadar ritual penyembahan Tuhan sebagai implementasi dari konsep Hablu Minallah (hubungan makhluk dengan Allah), melainkan juga bagaimana membina hubungan antar manusia. Kalimat nan kuat secara maknawi seperti “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir” diikuti dengan perintah untuk memuliakan tetangga dan tamu. Barangsiapa beriman kepada Allah & hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yg baik atau diam. Dan barangsiapa yg beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya,(H.R. Muslim)

Maka, berbicara perdamaian adalah berbicara tentang Islam. Islam adalah sebuah integrasi holistik mengenai ketuhanan sekaligus kemanusiaan. Islam rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) adalah tentang bagaimana universalitas dari nilai-nilai Islam mengejawantah dalam kehidupan sehari-hari. Islam adalah tentang menebar kebaikan, berbuat baik kepada semua makhluk, berperilaku adil, menciptakan rasa aman dan damai serta memberikan manfaat bagi semua. Tak diragukan, semakin religius seseorang maka semakin ia mencintai perdamaian, sebagaimana ia mencintai bagaimana Islam ada dalam dadanya. Semakin religius seseorang maka ia akan terdorong untuk semakin meneladani sang Nabi, Rasulullah SAW, yang menjunjung tinggi perdamaian di muka bumi. Semakin religius seseorang akan semakin terhentak lakunya untuk selaras dengan ajaran Islam, menjadikan Islam sebenar-benar rahmat untuk semesta.


“dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam, (terjemahan Q.S. Al-Anbiya: 107)

#70thICRCid 

----

Referensi :
1.  Sirah Nabawiyah oleh Muhammad Sa'id Ramadhan Al Buthy
2. Ar-Rahiq Al-Makhtum oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
3. Muhammad Al-Fatih 1453 oleh Felix Y. Siauw
4. http://hizbut-tahrir.or.id/2011/06/05/hukum-dan-peradilan-islam-menjamin-keadilan-dan-ketegasan-hukum/







Tuhan, Aku Menyerah

: kepada Tuhan yang menguasai jiwa ragaku

Tuhan, aku menyerah
membiarkan air mata menumpah ruah
lemah berpeluk pasrah

aku hanya seonggok daging yang Kau beri akal
serta nafsu duniawi yang kerapkali membuatku terjungkal
ayat-ayat Qur'an banyak yang tak ku hafal
dosa-dosa menjulang berujung sesal

gelap, Tuhan
masa depan
aku tak tahu bagaimana kelak takdir yang Kau berikan
aku tak tahu manakah jalan-jalan yang bermuara kebaikan
gelap, Tuhan
betapa ramai pikiran, pilihan demi pilihan berseliweran
betapa kelam ketakutan

Tuhan, aku tak mampu
untuk tak menaatimu
walau kerapkali laku menipu hati kecilku
aku ini hamba-Mu

Tuhan, pilihkan
Tuhan, limpahkan
Tuhan, ampunkan
Tuhan.....

Aku menyerah
izinkan jiwa dan ragaku berserah
lingkupi aku dengan semesta berkah
lindungi aku dengan gelisah tak berarah

tanpa-Mu, aku sungguh menyerah







Catatan Sembilan Tahun Berhijab : Berhijab adalah Berjuang

Apakah berhijab itu susah? 
Tentu berbeda antara perempuan Muslimah yang sedari kecil telah dibiasakan untuk menutup aurat atau perempuan Muslimah yang tinggal di negara Islam yang mewajibkan untuk berhijab dengan perempuan Muslimah yang tinggal di negara majemuk seperti Indonesia. Hijab sendiri bisa dibilang baru ‘populer’ pada tahun 2000an seiring dengan meningkatnya pemahaman dan kesadaran masyarakat. Dan saya sendiri baru sadar bahwa berhijab adalah wajib ketika SMP (dulunya saya menganggap bahwa berhijab itu sunnah).

16 Agustus 2006. Momen pertama saya mengenakan hijab secara umum adalah ketika saya mengunjungi rumah seorang teman karib perempuan. Tampilan saya waktu itu adalah kaos manset untuk melengkapi kaos pendek C-59 hitam disertai dengan kerudung milik Mama. Di sana, teman saya yang telah lebih dahulu mengenakan hijab mengajari saya memasang kerudung segi empat dengan berbagai variasi model. Esok harinya pada saat upacara hari Kemerdekaan adalah saat pertama kali saya mengenakan hijab di depan umum.

Tahukah apa yang terjadi pada saat itu?

Resensi Buku Khilafah Remake



resensi buku khilafah remake
sumber : Goodreads
Apa yang muncul di benak Anda ketika mendengar kata ‘khilafah’? Suatu pemerintahan Islam yang menjalankan syariat Islam, menaungi negara-negara yang tunduk padanya? Atau apakah Anda membayangkan bahwa khilafah Islam merupakan suatu bentuk pemerintahan yang ‘menakutkan’? Jiwa dibalas dengan jiwa, mata dibalas dengan mata, hukuman potongan tangan untuk pencuri, para pezina yang telah menikah dirajam hingga mati? Benarkah demikian? Felix Siauw, seorang ustadz muda populer, menghadirkan buku berjudul ‘Khilafah Remake’ untuk memberikan pemahaman mengenai khilafah secara ‘berbeda’. Mari kita kupas ‘Khilafah Remake’.

Apa yang Membuat Seorang Agnostik Memeluk Islam?
Sekitar dua belas tahun yang lalu, pasca pengeboman World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001, telunjuk dunia menuding Islam sebagai agama teroris yang penuh kebencian dan menebar permusuhan. Islam dinilai dari perilaku kaum Muslimnya, begitu pikir Felix kala itu, sebelum ia berdiskusi dengan rekan kuliahnya Samsul hingga mempertemukannya dengan seorang ustadz bernama Fatih Karim. Sang ustadz memuaskan ‘dahaga keimanan’ dengan tak hanya mengedepankan dalil semata, tetapi juga memuaskan akal. Salah satunya adalah dengan menjelaskan konsep kepemimpinan dalam Islam, Khilafah Islamiyah, yang tak hanya memberi konsep kehidupan tetapi juga menuntun prosesi detail implementasinya melalui sistem tersebut. Felix Siauw, dalam acara rilis buku ‘Khilafah Remake’ di masjid Baitul Ihsan kompleks Bank Indonesia pada 7 Desember 2014 lalu, menuturkan bahwa ia dibuat terkesima oleh betapa sempurnanya Islam mengatur kehidupan, contohnya dalam Islam diatur mengenai ‘azl (senggama terputus).  Sempurnanya Islam mengatur kehidupan tentunya tak akan lepas dari Khilafah Islamiyah. Islam bukanlah sekadar agama ritual.

Penuturan Sejarah yang Tak Membosankan
Bila lazimnya buku yang mengisahkan sejarah dituturkan dengan paragraf demi paragraf panjang dengan spasi rapat, bersiaplah menemukan hal yang berbeda pada buku setebal 296 halaman ini. Seluruh halaman dicetak full colour dengan desain grafis yang memanjakan mata di setiap halamannya. Buku bersampul dominan hitam ini diawali dengan penjelasan mengenai sejarah peradaban dunia yang meliputi kegemilangan tiga peradaban besar di zamannya : peradaban Mesopotamia (Persia), Romawi hingga peradaban Islam. Tak perlu mengerutkan kening membaca sejarah, bukan?

Runtut dan Sistematis
Setiap buku tentunya diciptakan dengan tujuan, buku ini bertujuan untuk memudahkan pemahaman umat Islam mengenai khilafah. Sistematikanya runut dengan kalimat-kalimat tak terlalu panjang (jarang ditemui paragraf panjang) yakni dimulai dari sejarah peradaban Islam, kondisi umat Islam sekarang hingga kondisi umat Islam yang ideal seperti apa.  Tak lupa juga dijelaskan mengenai apa itu khilafah dimulai dari arti kata secara harfiah dan istilah, syarat khilafah hingga sejarah khilafah dari awal hingga kehancurannya. Beberapa potongan pemahaman tentang konsep khilafah yang saya dapatkan dari berbagai buku seperti dirangkum secara utuh dalam buku ini.

Konsep Khilafah Dimudahkan untuk Dipahami
Perpaduan kata dan infografis secara ciamik membantu visualisasi pembaca tentang konsep (yang menurut saya) berat yang diembannya : khilafah. Mengapa berat? karena (lagi-lagi menurut saya) belum banyak umat Islam yang mengetahui secara mendalam mengenai konsep ini, bahkan mungkin hanya tahu khilafah dari kulit luarnya saja (termasuk saya). Bahasanya sederhana dan tepat sasaran, boleh dibilang, tak semembuai Muhammad Al-Fatih 1453, karya fenomenal pertama laki-laki yang telah dikaruniai empat buah hati ini. Bisa jadi karena dukungan visual yang luar biasa telah sedemikian memperkuat kata demi kata yang dituliskan (Felix Siauw menyebutnya sebagai magnum opus –sebuah karya besar-  Al Fatih Studios yang merupakan hasil keroyokan 1 penulis, 1 scriptwriter, 1 ilustrator dan 3 visualis) atau memang lantaran ingin memberikan pemahaman secara mudah bagi pembaca lintas usia maupun pemahaman. Tak lupa, berbagai dalil baik ayat Al Qur’an dan hadits serta dukungan fakta sejarah dari berbagai sumber melengkapi buku ini.

Feel the Spirit!
Buku ini menyedot perhatian saya pada halaman pertama, lagi dan lagi. Hanya dalam tiga jam saya mampu menyelesaikannya. Saya seperti merasakan energi yang dibagikan oleh sang penulis, sosok yang telah saya temui empat kali dan terasa sekali semangat keislamannya dari nada bicara dan pilihan kata yang digunakan. Ia berkali-kali menekankan urgensi khilafah dalam potongan demi potongan buku ini, mulai dari wajibnya berjamaah, kritikan mengenai sekularisme hingga tiga pilar yang menyokong kejayaan Islam : pilar individu yang bertakwa, masyarakat yang berdakwah dan negara yang menerapkan syariah.

“Masalah terbesar yang ada di tengah umat Islam adalah syirik modern bernama sistem SEKULARISME! Paham ini menganggap bahwa Allah hanya melihat kita pada saat-saat tertentu saja.
Sistem sekularisme ini perumpamaannya seperti perempuan yang biasa memperlihatkan auratnya dengan tank-top dan hot-pants pasti tidak akan berani memakai pakaian minim itu ketika sedang sholat. Karena dia merasa bahwa ketika sedang shalat Allah sedang menyaksikannya. Tetapi ketika solatnya selesai, dia memperlihatkan auratnya lagi,” (halaman 142)

Bukan Sekadar Romantisme Sejarah
Hadis Imam Ahmad juga diriwayatkan oleh Baihaqi dari Nu'man Bin Basyir;
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
Selanjutnya masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ’Adhan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
Setelah itu, masa kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.”
[HR Ahmad dan Baihaqi dari Nuâman bin Basyir dari Hudzaifah]
- dikutip dari Wikipedia

Merujuk pada hadits di atas, Felix Siauw menyatakan keyakinannya akan bangkitnya khilafah Islamiyah. Kehancuran suatu peradaban memiliki pola dan kehidupan yang berkiblat pada barat akan runtuh dan digantikan oleh sistem Islam. Buku ini tidak dibuat untuk sekadar mengenang ‘romantisme sejarah’ bahwa Islam pernah berjaya tetapi juga untuk mempersiapkan umat untuk menghadapi masa yang akan  datang, menjadi bagian dari tegaknya khilafah Islamiyah. 

Bagian epilog menjelaskan mengenai pertanyaan mendasar yang mungkin dirasakan pembaca : lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Tentu tak seru jika saya membocorkannya di sini.

Syariat Islam : Menyeramkan?
Yang saya pahami Allah tentu tak akan menurunkan suatu syariat jika hal tersebut tidak membawa manfaat atau tak sanggup dipikul manusia. Syariat yang mengatur mengenai hukum qishash misalnya, diiringi dengan diperbolehkannya ‘pemaafan dari pihak keluarga’ dan bahwa memaafkan lebih baik. Hukuman potong tangan juga mengatur mengenai berapa jumlah minimal uang yang dicuri hingga dilaksanakan hukuman tersebut dan ada tahap-tahapnya (koreksi saya jika salah). Semakin umat Islam mengkaji syariat Islam, akan menemukan bahwa syariat tak lain diberikan Allah untuk memuliakan manusia. Yang perlu kita lakukan adalah mengkajinya lagi dan lagi.

Bukan Milik Harakah Tertentu
Meski referensi buku ini sebagian besar merujuk pada sebuah harokah tertentu, tidak ada provokasi atau ajakan untuk mengikuti golongan tersebut. Pada halaman 278, penulis menegaskan bahwa untuk mengkaji bisa dengan kelompok yang mana saja asal sesuai dengan QS Ali Imran 104 dan asal berjuang untuk Islam.

Buku ini bisa jadi menjadi pintu gerbang pemahaman umat mengenai khilafah Islamiyah yang sayang untuk dilewatkan!

--

Judul : Khilafah Remake
Penulis : Felix Y. Siauw
Visual : Al FatihStudios
Penerbit : Al Fatih Press
Cetakan pertama : September 2014

***

Resensi buku menarik lain karya Ustadz Felix Siauw dapat dibaca di resensi buku How to Master Your Habits

Muslimah Aktif? Ini Dia 6 Tips Simpel dan Syari

Muslimah aktif yang punya banyak kegiatan tetapi tetap ingin syari sehari-hari, tak ada salahnya mencoba beberapa tips simpel yang bisa dicoba :)

1.   Selipkan peniti di dompet
      Peniti merupakan alat kecil yang penting bagi Muslimah. Tentu tak ingin kan ketika tiba-tiba ada kejadian kancing baju lepas atau rok sobek tercantol paku, muslimah terlihat auratnya. Tak ada salahnya, berjaga-jaga dengan menyimpan peniti di dompet. Toh ringan dan tak memberatkan, bukan? :)

2.   Bawa manset tangan di tas
      Meskipun lengan baju tampak menutup tangan, tetapi tetap ada kemungkinan 'tertarik'. Jika kamu cukup percaya diri bahwa bajumu syar'i, tak perlu membawa mukena (fyi, mukena hanya digunakan Muslimah di Indonesia dan Malaysia). Cukup dengan baju yang dikenakan, plus manset tangan untuk makin menyempurnakan menutup aurat, siap untuk melaksanakan ibadah sholat :)

3.   Bawa kaos kaki cadangan   
      Melanjutkan poin kedua, kaos kaki merupakan barang yang wajib dipakai Muslimah untuk menyempurnakan menutup aurat. Bawa selalu kaos kaki bersih cadangan di tas (kaos kaki tak berat rasanya dibawa-bawa) berjaga-jaga jika kaos kaki yang dipakai misal terkena lumpur becek atau terinjak sesuatu yang najis.

4.   Gunakan rok dalaman
      Meskipun telah menggunakan dalaman celana (misal legging), itu belum cukup jika mengenakan rok yang tidak cukup tebal (bahan sifon misalnya). Mengenakan dalaman celana saja jika menggunakan rok yang tak tebal akan berisiko tinggi memperlihatkan lekukan kaki. Penggunaan dalaman rok membantu mencegahnya *kecuali rok dilengkapi furing tebal :)

5.   Gunakan tas ketika berdesakan di tempat umum

      Bukan hal yang nyaman bagi Muslimah untuk berdesakan di tempat umum, utamanya di angkutan umum seperti bus kota atau Commuter Line, tas bisa digunakan untuk melindungi tubuh dari berhimpitan dengan lawan jenis :)


6.   Jangan buka jilbab di tempat umum, bahkan sekalipun terasa aman 
      Tak ada tempat umum yang benar-benar aman untuk membuka jilbab. Toilet wanita misalnya, tak ada yang menjamin jika tak akan ada petugas pria yang tiba-tiba menyelonong masuk. Tetap waspada dan berhati-hati :)

Sekian enam tips singkatnya, semoga sedikit banyak bermanfaat. Keep syar'i, keep active, keep productive. Proud to be Muslimah :)

*Adakah yang ingin menambahkan? :)
     

Grand Launching One Day One Juz : Dahsyat!


Apa yang menggerakkan lebih dari tiga puluh ribu pasang kaki para Muslimin dan Muslimah melangkah menuju Istiqlal pagi ini? Dari berbagai penjuru negeri, menempuh ribuan kilometer untuk menggelorakan salah satu masjid kebanggaan Indonesia ini. Grand Launching Komunitas One Day One Juz merupakan jawabannya. 

Apa Itu One Day One Juz?

Gerakan One Day One Juz (ODOJ), seperti dikutip dalam situs resminya, merupakan sebuah gerakan yang memiliki visi membudayakan (terbiasakan) tilawah sehari sejuz di seluruh lapisan masyarakat muslim dari berbagai kalangan serta memiliki misi menyebarluaskan One Day One Juz dengan memaksimalkan program kerja kepengurusan. Yang menarik, gerakan ODOJ ini bukan digagas oleh alumni Perguruan Tinggi Agama Islam melainkan oleh para alumni Perguruan Tinggi Negeri. Gerakan yang pada awalnya merupakan gelombang kecil kini menjelma menjadi gerakan masif yang menggerakkan negeri.

Secara teknis, melalui grup whatsapp/BBM program ini dijalankan. Tiga puluh orang dalam satu grup memiliki target bacaan masing-masing satu juz berbeda setiap harinya, sesuai dengan urutan masing-masing. Tiga puluh orang dari seluruh penjuru negeri, dengan latar belakang yang berbeda-beda, semuanya bertekad menyelesaikan tilawah satu juz perharinya. Tercatat hingga saat ini, komunitas ODOJ telah memiliki lebih dari 95.000 anggota. Dalam pemberian award ODOJ pagi tadi disebutkan bahwa anggota ODOJ tertua berusia 78 tahun dan anggota termuda berusia delapan tahun. 

Grand Launching ODOJ dihadiri oleh Ustadz Yusuf Mansyur (Pendiri PPPA Darul Quran), Prof Nasarudin Umar (Wakil Menteri Agama), Dr. Amir Faishol al-Fath (Pakar Tafsir Al-Quran), Ust Fadyl Usman Baharun (Muhdhir Rumah Al-Quran Daarut Tarbiyah) serta para pesohor negeri yang merupakan anggota komunitas ini, sebut saja Dimas Seto, Dhini Aminarti, Oki Setiana Dewi, Baim Wong, Teuku Wisnu, Dude Herlino dan Alyssa Soebandono.

Apa Kata Para Pesohor Negeri tentang ODOJ?

Dude Herlino menyatakan bahwa pada awalnya terasa berat membiasakan membaca satu juz dalam satu hari tetapi dalam ibadah adalah niat, tentang keikhlasan bacaan kita karena Allah. Membaca Al Qur’an merupakan cara agar kita lebih dekat kepada Allah. Efek membaca Al Qur’an sangat memberikan keuntungan seperti langkah-langkah yang dimudahkan, ditenangkan pikiran hingga diberikan jalan atas permasalahan kehidupan. 

Tak kalah dengan Dude Harlino, Baim Wong menuturkan pengalaman berkesannya selama bergabung dengan Komunitas ODOJ. Ia pernah terpancang dengan target selesai satu juz lantaran tidak enak dengan anggota grupnya hingga ia pun takut bahwa ibadahnya berbumbu riya’. Selanjutnya, ia mulai membaca arti dari apa yang telah ia lafalkan dan apa hikmah dari bacaannya. Hal penting dalam membaca Al Qur’an adalah dilakukan setiap hari, diserap di dalam hati hingga memahami arti dan merenunginya. Bukan dilakukan secara terburu-buru maupun hanya mengejar target selesai, melainkan juga menikmati setiap huruf yang dibaca.

Membumikan Al Qur’an, Melangitkan Manusia

Tak berlebihan kiranya jika diharapkan dengan gerakan ini membaca Al Qur’an mampu menjadi budaya di Indonesia, di mana saja. Seperti dalam video pendek berjudul “Aku Kembali Padamu” yang diputarkan pagi tadi, berkisah tentang seorang pria (diperankan oleh Teuku Wisnu) yang kehilangan arah setelah kematian sang istri. Ia berjudi dan berkelahi. Di sebuah gang ia bertemu dengan seorang perempuan (diperankan oleh Oki Setiana Dewi) kemudian ia membawa lari tas sang perempuan lantaran perempuan tersebut menolak menyerahkan uang. Namun, ‘nahas’ baginya, alih-alih uang yang didapatkan, ia hanya menemukan Al Qur’an dan sejumlah buku. Ia kemudian membuka Al Qur’an tersebut dengan asal dan menemukan surat Thoha sesuai dengan nama pria tersebut. Tertarik dengan namanya, ia mulai membaca dan kemudian tergugu.
Thaa Haa
Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah
tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah) “
(QS Thaahaa: 1-3)
Hal yang menarik, dalam pelarian sang laki-laki setelah mengambil tas si perempuan, ia bertemu dengan berbagai orang di berbagai tempat yang semuanya melakukan aktivitas sama : memegang mushaf Al Qur’an dan membacanya. Mulai dari tukang ojek hingga warga yang sedang duduk-duduk di depan rumah. Bisa jadi, hal tersebut bukanlah suatu hal yang berlebihan. Dalam sebuah gambar yang dibagikan seorang teman, tampak seorang ibu penyapu jalan beristirahat dengan membaca Al Qur’an.

Pecahkan Rekor Dunia
Dalam rangkaian kegiatan acara akbar ini disiarkan pula taushiyah on air “Damai Indonesiaku” TV One dengan tajuk “Membumikan Al Qur’an, Melangitkan Manusia”.  Acara kemudian ditutup dengan deklarasi gerakan Indonesia Cinta Al Qur’an dengan duta ODOJ Teuku Wisnu dan Oki Setiana Dewi. Yang patut dicatat, dalam acara Grand Launching ODOJ kali ini dihadiri pula oleh Ketua Yayasan Museum Rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana yang menyerahkan tiga rekor kepada Komunitas ODOJ yakni membaca Al Qur’an oleh Peserta Terbanyak, komunitas pecinta Qur’an terbanyak. Sebelumnya, pada pukul 09.30 hingga setengah jam berikutnya, lebih dari tiga puluh ribu hadirin diminta untuk secara bersama-sama membaca Al Qur’an. Betapa indahnya tatkala lantunan ayat-ayat suci berdengung merdu.



Bila Al Qur’an Bukan Sekadar Mahar

Indah bukan? Bila Al Qur’an bukan sekadar kitab yang menjadi mahar pernikahan, bukan pula sekadar penghias ruangan. Membaca Al Qur’an dilakukan setiap hari. Bukankah Allah menyukai amalan yang dilakukan secara konsisten? Bisa jadi awalnya dipaksakan melalui gerakan ODOJ, kemudian menjadi sebuah kebiasaan lalu bertransformasi menjadi sebuah kebutuhan. Tak malu para Muslimin membaca Al Qur’an di tempat umum, tak takut dibilang riya’ jika niatnya hanyalah Allah semata.  Saat berada di Commuter Line, saat berada di pesawat seperti ibu dalam gambar di bawah ini.

Dan tentu saja, betapa indahnya bila negeri ini berisi orang-orang yang gemar mengaji. Indonesia Mengaji. Tak hanya sekadar membaca, tetapi memahami dan kemudian mengaplikasikan ayat-ayat illahi dalam kehidupan sehari-hari. Betapa rahmat dan hidayah Allah akan semakin tercurah untuk negeri ini. Semoga Allah meridhoi.



Sumber gambar :
1. Akun twitter @onedayonejuz
2. Akun twitter @oki_setiana
4. Gambar beredar via whatsapp (khusus gambar ibu penyapu jalan)