Showing posts with label klik. Show all posts

Klik #2 : Kecil Kecil Cabe Rawit


Mama selalu menyuruh menyimpan bukti pembayaran, meletakkan peniti, bros, lem, gunting kuku, karet gelang dan benda-benda kecil lainnya di wadah khusus yang kadang-kadang berbeda letaknya di lemari. Terkadang saya masih asal saja menggeletakkan benda-benda itu di satu tempat. Praktis. Namun agaknya ‘mencari benda kecil yang dibutuhkan dalam waktu singkat’ menunjukkan bahwa hal sederhana yang selalu Mama contohkan adalah hal yang amat berguna pada waktu yang tepat. 

Peniti, misalnya, benda kecil ini senantiasa ada di kantong kecil dompet biru kesayangan. Terutama untuk para muslimah, benda ini bisa jadi merupakan benda yang wajib selalu dibawa. Peniti yang lepas dari jilbab atau kancing yang longgar bukan hal yang menyenangkan tapi tak menutup kemungkinan hal tersebut terjadi bukan? Hehe..

Ngomong-ngomong soal hal kecil, ingat dan hafal nama orang itu merupakan hal yang kadang-kadang bermanfaat besar. Saat asyik-asyiknya mengobrol dengan seseorang yang pernah kenalan sebelumnya, sedikit banyak akan ‘gondok’ juga kan kalau di tengah obrolan tiba-tiba ia berkata, “Eh kamu siapa namanya ya?” Gubrak. Nama merupakan identitas dasar seseorang. Lupa nama orang merupakan hal yang manusiawi bagi sebagian besar orang tapi tentu respek orang akan berbeda apabila pertama bertemu dan kita berbincang sambil menyebut namanya. Lebih respek lagi bila kita menyebut nama lengkapnya. Selain itu memperhatikan ejaan nama seseorang merupakan hal yang berguna juga loh. Pernah suatu ketika ada teman yang mau mengerjai saya melalui sms (menggunakan nomor asing) dengan mengaku-ngaku sebagai salah seorang teman. Hampir saja ‘terperdaya’ dengan isi smsnya tapi langsung sadar dikerjain begitu ia menyebutkan nama sang teman. Penulisan ejaan namanya keliru. Penulisan nama Rahmad, Rahmat, Rachmat, Rachmad berbeda bukan meski lafalnya mungkin sama. Satu yang pasti : tak mungkin orang salah mengeja namanya sendiri. Terhindar deh dari ‘dikerjain’ orang gara-gara hafal ejaan nama (btw facebook merupakan tempat yang amat bagus buat hafal nama orang lantaran kerapnya kita melihat nama lengkap teman-teman).

Klik #1 : Pilih Satu Atau Dua Tujuh?



dari sekolahmadani.com
Akhir-akhir ini sering sholat sendirian. Di kos yang sekarang nampaknya budaya sholat berjama’ah kurang. Tentu akan terasa perbedaan antara kos mahasiswa dengan kos pegawai. Kos mahasiswa ramai, dengan budaya ‘ngumpul-ngumpul’ yang kental. Sedangkan pada kos pegawai, bisa jadi satu kos tetapi tidak saling mengenal. Berangkat atau pulang kerja sering kali tidak bertemu karena jam atau lokasi kerja yang berbeda. Hampir di setiap kamar terdapat televisi pribadi, berbeda dengan kos mahasiswa yang umumnya satu televisi untuk satu kos sehingga sering berkumpul di depan televisi. Pintu kamar kos pegawai rasa-rasanya juga selalu tertutup, jarang sekali ada yang membuka pintunya. Dulu waktu kuliah, semua pintu teman satu kos diketok semua, hingga semua bangun, lalu sholat berjama’ah. Sholat berjama’ah menunggu semua personel lengkap.

Biasanya saya sholat berjama’ah dengan dua orang teman kos yang sebelumnya sudah saya kenal saat kuliah. Bukan apa-apa, hanya saja sebagai penghuni baru di kos ini, saya merasa sungkan mengajak penghuni lama yang baru saya kenal untuk sholat berjama’ah sementara di kos ini tak ada budaya sholat berjama’ah.

Selain itu, menurut saya, tak semua orang mau diajak sholat berjama’ah. Pernah saya mengajak seorang teman (perempuan) yang saya kenal di suatu mushola sebuah kantor dan ia menjawab “Sendiri-sendiri saja ya,”. Dan cukup sering jawaban itu saya peroleh. 

Suatu ketika saya melihat ketika sedang dilaksanakan sholat berjama’ah di suatu tempat, seorang ibu datang. Saya pikir beliau akan menjadi makmum masbuk dari jamaah tersebut tapi ia malah mendirikan sholat sendiri (kebetulan saya masbuk dan di belakang ibu tersebut sehingga sempat melihatnya). Hal yang cukup sering saya lihat.

Pernah juga saya membaca tweet yang dibagikan oleh seseorang di twitter yang kira-kira begini bunyinya : “Gue orangnya mandiri, sholat pun gue mandiri, sendiri”.