Showing posts with label tulisan ringan. Show all posts

Yuk, Pelajari Bahasa Cinta Agar Hubungan dengan Pasangan Makin Bahagia



“Aduh aku kayaknya udah ngelakuin apapun buat istriku, tapi kok dia ngasih pujian aja engga pernah,” 
“Suamiku nggak pernah tahu apa yang aku mau, aku maunya dia ngerti walau aku nggak bilang apa-apa,”

Pernahkah merasa hal-hal seperti di atas? Bisa jadi terdapat gap komunikasi emosional di antara kita dengan pasangan. Cara seseorang mengekspresikan perasaan cintanya berbeda sehingga penting untuk mengetahui bahasa cinta kita dan juga pasangan.

Masak Sih Puasa Nggak Boleh Ngemut Permen?




Bulan Ramadhan yang penuh berkah sudah berjalan kurang lebih enam hari. Gimana puasanya? Semoga ibadah bulan Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ngomong-ngomong soal puasa, yuk memanjakan diri dengan kenangan puasa saat masa kecil. Masa ketika kepolosan kanak-kanak berkenalan dengan ibadah puasa. Cekidot

Yah, kesiangan! Sahurnya pagi aja ya?
Namanya anak-anak, susah sekali buat bangun pagi, apalagi sebelum Subuh sekitar 03.30. Walhasil kala itu, Monika kecil berusia sekitar enam tahun sering terlewat alias nggak bangun pada saat sahur. Bangun-bangun udah jam 6 pagi dan kemudian nangis, “Yah, aku nggak ikutan sahur. Huwaaaaa”. Eyang dan Mama kemudian kompak menenangkan,”Nggak papa, Monik sahurnya pagi aja sebelum sekolah,” Sahur apa sarapan ya? Hihi. 

Pilih puasa bedug apa puasa Maghrib?
Orang tua sering kali mulai mengajarkan anaknya untuk berpuasa dimulai dari setengah hari, yang disebut sebagai puasa bedug (‘buka puasa’ pada saat azan Dhuhur kemudian dilanjut puasa lagi hingga Maghrib). Dulu, waktu kecil, aku berpikir bahwa puasa bedug ini beneran ada, alias boleh lho makan dulu jam 12 siang dilanjut lagi puasanya. Kadang-kadang malah ‘buka puasa’ pas azan Ashar lanjut puasa lagi sampai Maghrib. Teringat Mama pernah berkata,”Nggak papa kalau anak kecil puasa bedug,” habis itu Mama yang sedang ‘berhalangan’ mengajakku dan adik makan gado-gado. Nyari temen ya ma hihi.

Jadi, dulu aku senang sekali jika azan Dzuhur berkumandang, buru-buru mencari makanan dan dipuas-puaskan hingga jam 1 siang, batas waktu aku disuruh melanjutkan puasa lagi sampai Maghrib. 

Yey, puasaku penuh, dapat dua ratus lima puluh
Waktu SD dulu, salah satu cara orang tua memberikan motivasi berpuasa adalah dengan memberikan hadiah. Dulu waktu SD, Mama membuat ‘kartu puasa’ untuk mencatat perkembangan puasa anak-anaknya. Kalau puasanya bisa ‘penuh’ hingga azan Maghrib (alias nggak puasa bedug), Mama memberikan hadiah dua ratus lima puluh perak per puasa. Jadi kalau dalam sebulan ada dua puluh puasa penuh, aku bisa dapat lima ribu rupiah. Jumlah yang besar untuk anak SD saat itu. Wohoo.

Masak sih puasa nggak boleh ngemut permen?
Pengertian puasa yang dipahami olehku saat masih kecil adalah “Nggak makan dan nggak minum dari terbit hingga terbenam matahari,” Wah, kalau gitu, puasa boleh dong ‘ngemut’ permen? Kan nggak makan dan nggak minum? Pikirku kala itu. Terus, melihat Om yang nggak merokok pada saat puasa, ku bertanya, “Om nggak merokok?” “Kan lagi puasa,” “Loh, kan rokoknya nggak dimakan atau diminum, Om,” Om cuma geleng-geleng. Hihi. Kalau teringat saat itu, aku tersenyum sendiri.

Ketika mulai beranjak remaja, baru kupahami bahwa membiarkan sahur jam 7 pagi, puasa bedug maupun iming-iming hadiah merupakan cara orang tua mengenalkan dan mengajarkan anaknya berpuasa. Seiring dengan bertambahnya usia, kesadaran dan pemahaman atas hakikat puasa datang, diri sudah tidak kaget untuk berpuasa. 

Jadi, apa kenangan puasa masa kecilmu yang berkesan? Atau gimana cara orang tua mengajarkanmu berpuasa? Share, yuk!
Happy fasting all