A Memory Rendezvous

Setahun yang lalu, ya sudah setahun rupanya, untuk pertama kalinya mengenakan toga. Pagi-pagi benar sebelum subuh berangkat dari rumah om di Bekasi berpacu di tengah lengang jalan tol arah Bogor. Ya, setahun yang lalu saat seremoni pelepasan status kemahasiswaan digelar. Saat buncah itu menyusup, saat perjuangan tiga tahun seperti terbayar lunas. Setiap melihat megah bangunan Sentul Internasional Convention Centre (SICC) saat melintasi jalan tol, masih saja senyum itu ada. Mengembang mengingat di tempat itu pernah terlukis satu kenangan indah yang tersimpan rapat di suatu sudut memori.

Setiap melintasi jalanan di daerah sekitar kampus, rasa-rasanya seperti melakukan ‘perjalanan memori’. Lebih memilih jalan yang dahulu sering dilalui meski kadang harus memutar, menyusuri ingatan di tempat ini pernah berkumpul dengan orang-orang yang tak terlupakan, di tempat ini pernah tertawa dan berbagi bersama. Melihat gedung kampus dan memejamkan mata sejenak, menikmati kenangan yang seperti datang mengajak berkencan. Kampus yang lebih dari indah untuk dikenang.

Book of The Week #7 : Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan


Kemiskinan merupakan masalah terbesar yang dihadapi oleh banyak negara. Separo penduduk dunia hidup hanya dengan dua dolar sehari bahkan kurang dari itu, sedangkan hampir satu miliar orang hidup dengan kurang dari satu dolar sehari. Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian tahun 2006, membagikan pemikirannya melalui sebuah buku yang menceritakan mengenai asal muasal Bank Grameen, sebuah bank dengan strategi kredit mikro yang menjangkau penduduk paling miskin di negaranya, Bangladesh, serta menceritakan mengenai pengalaman, harapan dan mimpi-mimpinya. Betapa ia mengangankan suatu hari nanti akan ada dunia tanpa kemiskinan.


Muhammad Yunus memulai buku ini dengan awal mula terciptanya sebuah bisnis baru, bisnis sosial, yang lahir akibat permasalahan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme, kegagalan pemerintah dalam memecahkan masalah sosial hingga kurang efektifnya gerakan nirlaba. Ia juga menunjukkan perbedaan antara perpaduan antara badan pemerintah dan kelompok nirlaba, yakni lembaga multilateral, seperti Bank Dunia dan korporasi keuangan internasional dengan Bank Grameen, sebuah bank dengan basis bisnis sosial serta Corporate Social Responsibility (CSR) yang dewasa ini telah banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Kapitalisme menurutnya tak lebih dari sekadar struktur setengah jadi yang memandang manusia sebagai makhluk satu dimensi yang hanya tertarik mengejar keuntungan sebesar-besarnya.


Bisnis baru yang ditawarkan oleh Muhammad Yunus, bisnis sosial adalah bisnis yang mengakui sifat multidimensi manusia. Pengusaha bukan mendirikan bisnis dengan target keuntungan sebesar-besarnya (profit-maximizing business-PMB) melainkan untuk mencapai tujuan sosial yang luas. Terdapat dua jenis bisnis sosial yakni perusahaan yang fokus menyediakan manfaat sosial, bukan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dan dimiliki oleh investor yangmengharapkan manfaat sosial. Yang kedua adalah bisnis pencari keuntungan maksimal yang dimiliki oleh orang miskin dan orang kurang beruntung.

Catatan (Tidak) Galau Sebelum Penempatan : Semeleh



diunduh dari google
Sebagai CPNS, memang sudah menjadi suatu konsekuensi untuk ditempatkan dimana saja di seluruh wilayah Indonesia. Namun tetap saja, bagi saya, membayangkan penempatan seperti membentangkan peta Indonesia di depan mata mengingat instansi saya, Ditjen Kekayaan Negara (DJKN) memiliki kantor vertikal yang tersebar dari Aceh hingga Jayapura. Menunggu penempatan itu ‘sesuatu banget’ dan sukses membuat galau.

Ngomong-ngomong soal galau penempatan, rasa-rasanya sudah melewati masa puncaknya. Gosip penempatan sudah santer terdengar semenjak bulan Juni dan tulisan ini dibuat belum terjadi. Apalagi DJKN adalah satu-satunya instansi di Kementerian Keuangan yang hingga sekarang belum penempatan, teman-teman yang ditempatkan di instansi lain sudah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, mulai dari kota-kota besar hingga kota-kota di daerah. Walau sudah melewati ‘puncak kegalauan’ (mungkin karena banyaknya gosip dan sudah terlalu lama galaunya :p) tetap saja rasa harap-harap cemas masih ada di dalam hati.

Salah satu bentuk nikmat Allah adalah mempertemukan kita dengan orang yang tepat, disaat yang tepat. Bulan puasa lalu tiba-tiba saja mendapatkan sms dari tante seorang sahabat saya yang tinggal di Semarang. Seseorang yang hanya sempat saya kenal sekilas saat duduk di bangku SMA. Omong punya omong, beliau sekarang sudah bersuami dan tinggal di Jakarta. Saya memanggilnya teteh. Usianya beberapa tahun di atas saya. Teteh mengajak silaturahmi ke kontrakannya yang ternyata cukup dekat dengan kos saya. Ia dan suaminya memutuskan meninggalkan pekerjaan mereka sebagai karyawan swasta dan bersama-sama merintis usaha mereka dari nol, berjualan bakso. Ya, mereka mengelola sebuah kedai bakso di daerah Kramat. Pekan lalu saya berkesempatan bertemu dengan mereka, di kedai bakso tersebut. Wajah cerah teteh kembali saya temui setelah bertahun-tahun.

Klik #1 : Pilih Satu Atau Dua Tujuh?



dari sekolahmadani.com
Akhir-akhir ini sering sholat sendirian. Di kos yang sekarang nampaknya budaya sholat berjama’ah kurang. Tentu akan terasa perbedaan antara kos mahasiswa dengan kos pegawai. Kos mahasiswa ramai, dengan budaya ‘ngumpul-ngumpul’ yang kental. Sedangkan pada kos pegawai, bisa jadi satu kos tetapi tidak saling mengenal. Berangkat atau pulang kerja sering kali tidak bertemu karena jam atau lokasi kerja yang berbeda. Hampir di setiap kamar terdapat televisi pribadi, berbeda dengan kos mahasiswa yang umumnya satu televisi untuk satu kos sehingga sering berkumpul di depan televisi. Pintu kamar kos pegawai rasa-rasanya juga selalu tertutup, jarang sekali ada yang membuka pintunya. Dulu waktu kuliah, semua pintu teman satu kos diketok semua, hingga semua bangun, lalu sholat berjama’ah. Sholat berjama’ah menunggu semua personel lengkap.

Biasanya saya sholat berjama’ah dengan dua orang teman kos yang sebelumnya sudah saya kenal saat kuliah. Bukan apa-apa, hanya saja sebagai penghuni baru di kos ini, saya merasa sungkan mengajak penghuni lama yang baru saya kenal untuk sholat berjama’ah sementara di kos ini tak ada budaya sholat berjama’ah.

Selain itu, menurut saya, tak semua orang mau diajak sholat berjama’ah. Pernah saya mengajak seorang teman (perempuan) yang saya kenal di suatu mushola sebuah kantor dan ia menjawab “Sendiri-sendiri saja ya,”. Dan cukup sering jawaban itu saya peroleh. 

Suatu ketika saya melihat ketika sedang dilaksanakan sholat berjama’ah di suatu tempat, seorang ibu datang. Saya pikir beliau akan menjadi makmum masbuk dari jamaah tersebut tapi ia malah mendirikan sholat sendiri (kebetulan saya masbuk dan di belakang ibu tersebut sehingga sempat melihatnya). Hal yang cukup sering saya lihat.

Pernah juga saya membaca tweet yang dibagikan oleh seseorang di twitter yang kira-kira begini bunyinya : “Gue orangnya mandiri, sholat pun gue mandiri, sendiri”.

Have You Ever?

Have you ever felt like being lonely in a crowded place?
Have you ever felt like you wanna scream loudly but you don't wanna anyone hear?
Have you ever felt like you can't rely on no one but you?
Have you ever felt like going no direction?
Have you ever wanted to dance under the rain that no one sees you crying?
Have you ever pretended like everything happened?
Have you ever proscratinated something, hoped for better thing then you got nothing?
Have you ever wondered what life would be if you chose another way?
Have you ever been hurted that you felt you would not be healed?
Have you ever been underestimated by someone you adore so much?
Have you ever regreted the things you had missed?
Have you ever hated yourself for being someone you hate to be?
Have you ever asked what God had created you for?
Have you ever cried so loudly knowing that your tears were for vain?
Have you ever thought it would be easier to be someone else?


Kata-Kata Ini

dicari dari google


Ada kata-kata yang menjatuhkan kita. Ada kata-kata yang membuat kita senang, sedih, jengkel, kecewa dan merasakan perasaan lainnya.  Namun akan selalu ada kata-kata yang mengubah hidup kita. Mengubah cara pandang...

Niat saya berjilbab saya utarakan kepada beberapa orang dekat, dua diantaranya mengatakan kata-kata yang tak hanya menguatkan niat saya tetapi juga menjadi kata-kata yang menjadi salah satu dasar cara saya memandang suatu persoalan. 

“Sebenernya aku pengen berjilbab tapi gimana ya? Sikapku kan belum baik-baik amat, nanti kalau ada orang bilang orang jilbaban kok sikapnya gitu gimana coba? Ntar imej orang berjilbab jadi buruk gimana? Lagian gimana ya kalau aku pakai jilbab terus ntar di tengah jalan aku pengen lepas lagi?” (Biasa, mau bertambah baik pasti ada bisikan keraguan)

Teman saya yang pertama menjawab, “Mon, justru dengan berjilbab itu kamu akan termotivasi untuk menjadi lebih baik mon, bukan kamu nunggu baik dulu baru berjilbab, jilbab itu akan menjagamu mon”

Teman saya yang kedua berkata, “Mon, kayak sholat deh, kalau kamu nunggu sholatmu khusyuk kapan kamu mau sholat? Kalau kamu nunggu kamu jadi orang baik dulu sebelum berjilbab, kapan kamu mau berjilbab? Sementara kewajiban berjilbab itu telah ada semenjak kamu baligh..”

Bismillah. 17 Agustus 2006 niat itu terwujud menjadi tindakan. Waktu itu saya tidak begitu paham dengan kata-kata ‘jilbab itu akan menjagamu’. Namun seiring berjalannya waktu, kata-kata itu tak hanya sekadar kata-kata, ia membuktikannya. Mulai dari pikiran “Aduh, saya akan pakai jilbab, malu dong sama jilbab saya,” hingga “Nggak pantes orang berjilbab bersikap seperti ini,”. Ya, sedikit banyak jilbab menjadi perisai bagi pemakainya.

Kata-kata ‘ajaib’ dalam hidup saya berikutnya dilontarkan oleh seorang teman dekat saat menyemangati saya yang waktu itu sedang enggan berangkat liqo. Dia berkata, “Kebaikan itu terkadang harus dipaksakan Mon,” katanya tegas. Saya berangkat juga dengan setengah malas dan pulangnya saya bertanya kepadanya, “Kalau kebaikan dipaksakan berarti nggak ikhlas dong? Sementara syarat diterimanya suatu ibadah itu kesesuaian dengan syariat dan niat bukan?” Dia menjawab panjang lebar, ”Mungkin pada awalnya kamu kurang ikhlas melakukan suatu kebaikan, tapi paksakan saja melakukannya. Lama-lama kamu akan terbiasa melakukannya dan setelah kamu terbiasa melakukannya, kamu akan merasa kehilangan jika kamu tidak melakukannya. Tahu nggak mon, suatu perbuatan itu akan menjadi kebiasaan jika dilakukan terus menerus tanpa henti selama minimal dua bulan,”

Book of The Week #6 : 9 Summers 10 Autumns


"Bapakku, sopir angkot yang tak bisa mengingat tanggal lahirnya. Dia hanya mengecap pendidikan sampai kelas 2 SMP. Sementara ibuku, tidak bisa menyelesaikan sekolahnya di SD. Dia cermin kesederhanaan yang sempurna. Empat saudara perempuanku adalah empat pilar kokoh. Di tengah kesulitan, kami hanya bisa bermain dengan buku pelajaran dan mencari tambahan uang dengan berjualan pada saat bulan puasa, mengecat boneka kayu di wirausaha kecil dekat rumah, atau membantu tetangga berdagang di pasar sayur. Pendidikanlah yang kemudian membentangkan jalan keluar dari penderitaan. Cinta keluargalah yang akhirnya menyelamatkan semuanya."

Bagaimana rasanya berdamai dengan masa lalu? Mengambil kepingan-kepingan terdalam dari sebuah puzzle besar bernama kehidupan? Memanggil kenangan, menyusunnya pada lembaran kini dan perlahan-lahan menyembuhkan luka yang timbul ketika sebelumnya hidup dengan keterbatasan?
Iwan Setyawan, seorang anak sopir di kota apel berhasil menembus batas mimpinya saat ia menjejakkan kaki di The Big Apple, salah satu kota megapolitan di tengah gemerlapnya negeri Paman Sam. Dalam buku setebal 221 halaman ini, ia menceritakan tentang lika-liku perjalanannya dari Sekolah Dasar hingga berhasil menjadi direktur di New York. Betapa ia, dengan segala keterbatasannya, menjelma menjadi seorang yang pembelajar dan pekerja keras berkat kegigihannya untuk mengubah nasib keluarganya dan berkat doa serta cinta kasih keluarganya yang begitu besar.

Dalam buku yang menurut pandangan saya merupakan perpaduan antara novel dan autobiografi ini, Iwan mengajak pembacanya untuk menyelami masa lalu untuk kemudian menyembuhkan perasaan sepi yang pernah mendiami hati seperti puisi “Hampa” karya Chairil Anwar dikutipnya dalam buku ini :

Sepi.
Tambah ini menanti menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Ya, terkadang kita perlu menggali masa lalu dan mungkin membagikannya melalui cerita, untuk sembuh dari luka yang pernah ada, untuk tumbuh dan bertambah kuat. Seperti kata Iwan :

“I can imagine if there’s nothing in my pocket
But I can not imagine if there’s no knowledge in my mind and religion in my heart.
They are my other suns in my life”