Kalau kau seorang menteri dan menggunakan kereta api listrik untuk
menuju istana Negara, akan ada orang yang menyebutmu paling-paling
sedang melakukan pencitraan
Kalau kau seorang muslimah
dan ingin berubah meninggalkan hal-hal jahiliahmu, akan ada yang berkata
bahwa paling-paling kau berubah karena ingin menjadi istri seorang
ikhwan
Kalau kau seorang yang diberi anugerah kemampuan
menghafal tiga puluh juz kitab suci dan kebetulan kau berkulit albino,
akan ada yang berkata wajar saja kau bisa menjadi seorang penghafal
lantaran dengan kekuranganmu paling-paling kau malu bersosialisasi,
mengurung diri dan Al Qur’an lah satu-satunya pelarianmu
Kalau
kau bersedekah dan menunjukkannya untuk syiar agama, akan ada yang
berkata bahwa paling-paling kau riya’ dan menyebut ibadahmu percuma
Kalau kau punya niat baik dan tak jadi bergerak lantaran kau takut akan perkataan orang kepadamu, alangkah ruginya dirimu, karena hanya niatmu yang dicatat sebagai kebaikanmu…
Kalau
kau yakin niatmu tertuju pada Yang Maha Satu, tetap bertahanlah dengan
niatmu dan teruskan pekerjaanmu karena hanya kau dan Dia yang tahu…
Kalau kau rasa niatmu melenceng, perbaharuilah niatmu tapi janganlah hentikan langkahmu…
Mengutip perkataan ustadz Akhlak, “Kewajiban orang yang melakukan suatu perbuatan (kebaikan) adalah ikhlas dan kewajiban orang yang melihatnya adalah khusnudzon,”
Mengutip perkataan Fudhail bin ‘Iyadh, “Beramal
karena manusia adalah syirik, meninggalkan amalan karena manusia
adalah riya’ dan ikhlas adalah Allah menyelamatkanmu dari keduanya”.
*terinspirasi dari berbagai perkataan orang tentang orang lain*
Book of The Week #9 : Garis Batas
Monday, January 30, 2012
"Berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah..."

Akhiran -stan sendiri berasal dari bahasa Persia, istan, yang bermakna tanah. Tajikistan adalah tanah orang Tajik, Uzbekistan adalah tanah orang Uzbek. Tatkala negeri adidaya bernama Uni Soviet yang pernah menjadi negara terluas di dunia pecah, itulah awal mula suatu garis batas dimulai. Garis batas fisik yang membagi satu negara-negara besar menjadi beberapa negara pecahan. Sebut saja wilayah teritorial.
Jika mendengar kata 'Uzbekistan' mungkin yang terbayang di benak kita adalah kecantikan perempuan Uzbekistan yang menjadi istri dari orang terkenal di negara ini. Di negara mayoritas Muslim ini lahirlah Imam Bukhari, seorang perawi hadits terkenal yang lahir di kota bernama Bukhara. Ibnu Sina, seorang ilmuwan mahsyur yang menguasai ilmu kedokteran dan filsafat belajar di kota ini. Kota ini adalah kota penting pada zamannya, kota yang melahirkan seniman, ilmuwan hingga penyair.
Walaupun wajah Asia Tengah yang digambarkan oleh penulis dalam buku ini adalah wajah negara yang mayoritas penduduknya adalah penganut agama Islam, tetapi lantaran pengaruh komunis yang pernah mengakar sedemikian kuat, penganut Islam di sana adalah orang Islam yang meminum minuman keras, memakan babi hingga tak berpuasa di bulan Ramadhan.
Mungkin seperti halnya sebutan 'Islam abangan' di negara ini. Selain itu, Islam juga digambarkan memiliki berbagai tarekat seperti Tajikistan yang kental dengan Islam Ismaili hingga Uzbekistan tempat pendiri aliran Naqshabandi, Bahauddin Naqshabandi menjadi pahlawan nasional.
Kelebihan buku ini terletak pada kekuatan penggambaran latar cerita sehingga pembaca sekan-akan mengikuti perjalanan penulis, ikut tegang saat penulis menyelundup ke suatu negara dan tertangkap polisi setempat, kekuatan filosofis arti kata 'garis batas' yang mengalir melalui kata-kata sarat emosi yang mengalun perlahan, penceritaan sejarah dengan detail dan foto-foto indah yang dilampirkan di buku ini.
Ah, terlalu panjang rasanya untuk menceritakan buku setebal 510 halaman ini. Buku yang menurut saya tak bagus untuk dibaca cepat-cepat lantaran dari buku ini seorang pembaca melakukan suatu perjalanan, perjalanan yang menembus suatu garis batas hingga perjalanan yang membuka mata betapa terkadang manusia dikotak-kotakkan hingga dibatasi oleh ras, warna kulit, bahasa atau hal-hal lainnya.
Hidup sejatinya adalah sebuah perjalanan panjang. Ayat yang saya nukil untuk menjadi pembuka tulisan ini adalah ayat Al Qur'an yang disebut hingga lebih dari tiga kali. Adakan perjalanan dan perhatikan. Perhatikan. Mungkin lantaran banyaknya hikmah dari suatu perjalanan. Hikmah tercecer dari luasnya jagad raya. Dan kali ini Agustin Wibowo berhasil membuka mata saya untuk belajar dari negara-negara nun jauh di sana. Recommended!
Mon's rating : 5 stars ^^
Ternyata Aku Tak Ingin Kado
Thursday, January 26, 2012
13
September 2009. Hari lahir ke dua puluh. Tengah malam, awal hari itu. Seorang teman
datang ke depan rumah setelah sebelumnya menelpon untuk menyuruhku ke halaman
rumah. Dengan pelan ia mengucapkan selamat ulang tahun, mengulurkan kado dari
celah-celah pagar lalu bergegas pergi. Kejutan pertama.
Pada
hari itu aku sedang liburan di rumah, kuliahku di Jakarta dan teman-teman dekat
berada di kota masing-masing. Telpon dan sms aku dapatkan dari teman-teman,
iseng-iseng aku membalas sms teman-teman dekat dengan kata-kata,”Makasih ya,
sayang nggak bisa ngumpul bareng kalian, coba kalian ada di Semarang kita bisa
makan malam bareng hehe,”
Eh
tak disangka, sore-sore beberapa teman dekat sudah ada di depan rumah. “Hai
Mon,” kata mereka sambil senyum-senyum. Wow. Rasanya benar-benar kejutan. Beberapa teman dekatku datang jauh-jauh dari Pasuruan, Surabaya, Klaten, Blora,
Kendal untuk makan malam bersamaku di hari lahirku, menempuh perjalanan darat
berjam-jam hanya untuk menemuiku di hari itu.
Kami
makan malam di sebuah foodcourt di Mal Ciputra Simpang Lima, berjalan
kaki menuju kawasan Undip bawah untuk mencari penjual tahu gimbal, teman-temanku
ingin merasakan makanan khas Semarang itu. Mumpung di Semarang katanya.
Bercerita kesana kemari dan berfoto-foto dengan beraneka gaya di pinggir jalan. Haha.
Ternyata
bukan kado yang aku butuhkan di hari ulang tahun, bukan itu pula yang aku
inginkan, tapi berada di antara orang-orang yang membuat kita nyaman di hari spesial (walau tak semua teman dekat bisa datang pada malam itu) adalah hal terindah yang dirasakan oleh hati. Didoakan oleh mereka, berbagi
canda dan keriangan, bercerita dan tertawa bersama adalah keindahan yang tak
dapat diungkapkan oleh kata-kata, keindahan yang hanya bisa dirasakan oleh
hati. Terima kasih untuk hari yang tak terlupakan itu dan semoga kita tetap menjadi
teman baik selalu :D
![]() |
Gadis-gadis cantik ^^ |
![]() |
Narsis dulu yuk ^^ |
Postingan ini adalah diikutsertakan dalam lomba postingan dBlogger
Those Disturbing Pictures
Monday, January 23, 2012
Internet memang ibarat pedang bermata dua, bisa jadi membawa kebaikan dan bisa jadi membawa keburukan, tergantung sang pengguna memanfaatkannya. Berbagai peristiwa dapat tersebar luas dengan cepat di dunia maya. Tak luput pula apabila ada kejadian kecelakaan, berita tersebar dengan cepat, dengan menyertakan gambar atau video tentang peristiwa tersebut.
Seperti halnya kemarin siang saat kecelakaan maut di daerah Gambir yang menewaskan sembilan pejalan kaki. Foto-foto dan video tersebar luas di dunia maya, entah di youtube atau situs jejaring sosial. Bukan kali ini saja foto atau video yang masuk dalam kategori 'disturbing pictures' itu beredar. Mungkin masih hangat dalam ingatan foto atau video pembantaian Mesuji, foto korban yang tewas saat terjatuh dari kereta api di daerah Sumatra Barat dengan kepala (maaf) terputus, foto korban kecelakaan mobil yang dikendarai Syaiful Jamil, dan lainnya. Entah betapa banyak 'disturbing pictures' yang masuk ke dalam otak kita. Enough.
Saya hanya tak habis pikir bagaimana mungkin foto yang, let me say, 'inappropriate' itu disebarluaskan dengan mudahnya, mungkin melalui twitter, facebook atau BBM. Apa iya pantas untuk disebarluaskan? Bagaimana jika anggota keluarga kita lah yang berada dalam posisi itu (na'udzubillah, semoga kita dan keluarga selalu dalam lindungan-Nya) apa iya kita tega menyebarluaskan foto jenazahnya yang mungkin berada dalam kondisi mengenaskan menjadi tontonan umum hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu orang?
So please, stop sharing those pictures, bukan hanya karena itu gambar yang (maaf) tak pantas untuk disebarluaskan tetapi lebih dari itu, hormatilah jenazah untuk yang terakhir kalinya, at least dengan tidak menyebarkan fotonya (apa pantas foto jenazah disebarluaskan?). The pictures are disturbing bur your sharing the pictures is much more disturbing. Maaf, kali ini saya hanya benar-benar risih. :(
Seperti halnya kemarin siang saat kecelakaan maut di daerah Gambir yang menewaskan sembilan pejalan kaki. Foto-foto dan video tersebar luas di dunia maya, entah di youtube atau situs jejaring sosial. Bukan kali ini saja foto atau video yang masuk dalam kategori 'disturbing pictures' itu beredar. Mungkin masih hangat dalam ingatan foto atau video pembantaian Mesuji, foto korban yang tewas saat terjatuh dari kereta api di daerah Sumatra Barat dengan kepala (maaf) terputus, foto korban kecelakaan mobil yang dikendarai Syaiful Jamil, dan lainnya. Entah betapa banyak 'disturbing pictures' yang masuk ke dalam otak kita. Enough.
Saya hanya tak habis pikir bagaimana mungkin foto yang, let me say, 'inappropriate' itu disebarluaskan dengan mudahnya, mungkin melalui twitter, facebook atau BBM. Apa iya pantas untuk disebarluaskan? Bagaimana jika anggota keluarga kita lah yang berada dalam posisi itu (na'udzubillah, semoga kita dan keluarga selalu dalam lindungan-Nya) apa iya kita tega menyebarluaskan foto jenazahnya yang mungkin berada dalam kondisi mengenaskan menjadi tontonan umum hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu orang?
So please, stop sharing those pictures, bukan hanya karena itu gambar yang (maaf) tak pantas untuk disebarluaskan tetapi lebih dari itu, hormatilah jenazah untuk yang terakhir kalinya, at least dengan tidak menyebarkan fotonya (apa pantas foto jenazah disebarluaskan?). The pictures are disturbing bur your sharing the pictures is much more disturbing. Maaf, kali ini saya hanya benar-benar risih. :(
Book of The Week #8 : Twitografi Asma Nadia
Friday, January 20, 2012
Keunggulan
utama buku ini adalah temanya yang beraneka ragam sehingga banyak ilmu yang akan
didapat pembaca dari buku setebal 292 halaman ini. Bersiap-siaplah mengenang
kembali saat pertama kali mengenakan jilbab bersamaan dengan Anda membuka
halaman pertama buku ini, merenungkan sejenak apakah busana yang dikenakan
sehari-hari telah memenuhi syarat busana muslimah seperti tidak tipis, tidak
memperlihatkan lekuk tubuh hingga salah satu busana popular saat ini, legging,
tak lepas dari sorotan Asma. Bagi yang belum menggenapkan separuh agamanya,
buku ini juga berbicara mengenai cinta, pacaran, patah hati hingga ta’aruf
(termasuk ta’aruf gagal juga!). Penulis yang produktif ini juga tak segan-segan
berbagi tips seperti tips untuk tidak menjadi muslimah nyebelin, tips diet,tips
parenting, tips menulis hingga tips traveling untuk para muslimah.
Ditulis
dengan gaya bahasa Asma Nadia yang khas yakni renyah, lugas dan menggunakan
bahasa yang mudah dicerna, buku ini disampaikan secara ringan tanpa menggurui
dengan kata-kata singkat bermakna yang tepat sasaran (jadi jangan kaget kalau
tiba-tiba merasa tertohok :P). Keunggulan lainnya adalah kepiawaian Asma Nadia
mengangkat berbagai tema yang mungkin tak terpikirkan sebelumnya misalnya saat
ia mengangkat tema #cintamusala untuk mengapresiasi tempat-tempat umum yang menyediakan
musala yang cukup representatif untuk kaum muslim. Melalui buku ini Asma juga
mengapresiasi para follower-nya dengan menampilkan cukup banyak tweet
dari para @asmanadians (sebutan untuk para follower @asmanadia) di buku ini,
siapa tahu tweet Anda ditampilkan di buku ini :)
Buku
ini membuat saya tak bosan membacanya hingga habis satu buku. Ohya, Anda bisa
memesan buku ini (selain di toko-toko buku ternama) melalui www.tokoasmanadia.com. Buku ini manis sekali dan
terlalu sayang untuk tak dikoleksi :)
China, I'm coming!
Wednesday, January 18, 2012
Not
to mention that China is the most populous country in the world, this country
is the most-wanted-to-visit country for me after Saudi Arabia. I really love
the long history of its civilization (A chinese invented the paper for first time
right?), the knowledge and wisdom of east culture which are so blended with the
life of people there nowadays. (of course from the news and books I’ve read,
coz I’ve never been there yet :P). China is called as the giant of Asia. Its
economy amazes many people all over the world. But in this posting, I’m not
going to talk about that, I just wanna share about the things which I’m really
interested in from this country.
First,
the big wall is so impressive. No wonder that it is one of the seven wonder in
the world. Coming there and wandering around the big wall will really be a
fancy for me. (of course not taking all the distance which is about 14
kilometres if I'm not mistaken :P).
A black and white animal which is often associated with this
country, Panda, is soooo cute. I wish I could just touch one (or maybe at least
taking a picture with it) ^^.
![]() |
I'll go here someday, insya Allah (all images are from google) |
![]() | |
cute |
Furthermore,
I admire the China’s rich culture and history very much. Forbidden kingdom is
also in my top list. By the way, you can
find Chinese wisdom words easily. Even, a popular Arabic quote says, “Study until
China,”. Chinese are well-known as persintent people, they work really hard for
what they dream.
![]() |
beautiful, right? |
Mandarin
is said to be the hardest language in the world. I should agree with this. The grammatical
way is like Indonesia language (not having a changing form of verb), so I think
English grammar and Arabic grammar (evenmore) are much more difficult from that
but the Chinese letters (named hanzi) reach thousands in number and I can call
it ‘makes my hair curly’. I love to listen to what the anchor of Metro Xinwen
says (Mandarin always sounds beautiful for me), try hard to understand the
quick rhythm of the words, try to imitate the accent. Hard doesn’t mean
impossible right? ^^
I
don’t know when or how but I always keep the hope that someday I will say “China,
I’m coming!”. I always wonder when I will have a warm conversation aroud the
table with friends all over the world. It is always be my dream to go visit the
places I’ve never been across the world, know people with different hair,
countries and languages. I don’t know how and when but I strive for this dream. I
used to take Mandarin course when I studied in college (it stopped because I moved
to work and I just haven’t found the suitable one near my boarding house), I
read Chinese books and eventhough I get my head full, it is so interesting to
rewrite hanzi letters on a paper (sometimes :P). I’m having my Arabic course
for now and also learn English more and more. I don’t think I can afford the ‘trip’
around the world by myself, that’s why I aim to be able to understand and speak
with those three languages because I believe it will find me my way and
something I’ll thank for someday. Someday. Maybe by scholarship or short-course
offering and I will have had myself ready when the time comes. Or maybe from other
way which I can’t expect yet, who knows, it will always be a way for what you
really dream right? ^^
By
the way, this is the book that I really want to buy but the cost is expensive
for me (I will be so excited if someone lends me or buys it for me :P).
![]() |
it costs about IDR 500k |
I
blogwalked and excitedly found Kenni's blog which sometimes talks in Mandarin (I
also envy his trip to China). It will be nice if someone offers to have a talk
in Mandarin with me (I am really a beginner and my partner in practicing is now
far from me, sadly) or maybe someone can recommend blogs which I can follow. I’ll
be glad. ^^
Sometimes it is not the dream which is worthed to pursue, however, the hard effort and the journey to get the dreams are worthed to have! (Monika, an optimistic dreamer :p)
P.S
: It takes me long time not to write in English and I hope you can enjoy this
posting (please forgive the simple vocabulary chosen :P), please let me know if you
find any grammatical mistake in this posting because I myself don’t feel
comfortable if I read the usage of inappropriate grammar. Hihi.
Republik Insya Allah
Monday, January 16, 2012
Insya
Allah. Sudah tak asing bagi kita mendengar kata insya Allah atau mungkin saja
kata insya Allah telah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari, tak khusus
untuk umat Islam saja. Bahkan ada yang memplesetkan RI (Republik Indonesia)
menjadi Republik Insya Allah lantaran betapa seringnya kata insya Allah
digunakan. Insya Allah sendiri bermakna “jika Allah mengizinkan” atau “jika
Allah mengkehendaki” sehingga mengatakan insya Allah menunjukkan bahwa
seseorang menjanjikan sesuatu kepada orang lain yang mana janji tersebut tidak
dapat dipenuhi seseorang jika dan hanya jika ada hal-hal di luar kendali
terjadi orang tersebut atau bahasa kerennya force majeur.
Rasa-rasanya
kata insya Allah telah mengalami pergeseran makna menjadi semacam “insya Allah
ya (nggak janji ya),”. Seorang teman pernah protes ketika saya mengatakan insya
Allah kepadanya. “Kok insya Allah sih? Nggak pasti ya?”. “Insya Allah-nya orang
Islam, bukan insya Allah-nya orang Indonesia,” jawab saya.
Aih,
alangkah beratnya nanti di akhirat jika ada barisan janji ‘insya Allah’
mengular dan menagih pengucapnya sementara sang pengucap hanya mengatakannya
untuk menyenangkan hati lawan bicara atau mungkin dia sekadar ‘just saying’
tanpa menyadari urgensi kata insya Allah. Misalnya mengucapkan insya Allah datang
ke pernikahan seorang teman tapi ternyata tidak datang lantaran sayang dengan
harga tiket yang mendadak mahal (walau sebenarnya punya kemampuan untuk itu).
Insya
Allah. Sudah berapa kali diucapkan semenjak akil baligh. Sudah berapa hati yang
tersakiti lantaran kata ‘insya Allah’ yang tak dimaksudkan untuk benar-benar
ditepati, melainkan sekadar pemanis kata. Berusahalah untuk benar-benar
menggunakan kata insya Allah jika yakin dengan kemauan hati dan kemampuan diri
mewujudkannya dan mengatakan untuk melakukan sesuatu tanpa mengatakan insya
Allah juga telah dilarang dalam Q.S Al Kahfi : 23-24 yang terjemahannya
berbunyi “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu : “sesungguhnya
aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut) : “insya Allah,”….”
Bi’idznillah.
Allahu
‘alam.
Catatan
untuk diri sendiri khususnya. Mohon jika ada yang masih kurang berkenan dengan
kata ‘insya Allah’ yang pernah saya ucapkan segera menagihnya daripada saya
ditagih di akhirat T.T
Subscribe to:
Posts (Atom)