Monilando's First Giveaway : The Reviving Moment


Terkadang, hidup tak berjalan sesuai yang kita inginkan…
Terkadang, kita harus jalani apa-apa yang tak sesuai harapan…
Tetapi ketika kita jalani dengan penuh keikhlasan…
Selalu, Tuhan menunjukkan bahwa Dia lah sebaik-baik Pembuat Rencana
dan Pemberi Keputusan…

Punya pengalaman menarik ketika kehidupan tak berjalan sesuai harapan? Sempat kecewa, sedih, terpuruk atau merasakan perasaan-perasaan tak enak lainnya sebelum pada akhirnya, pada suatu titik menyadari bahwa selalu ada hikmah di balik setiap kejadian dan pada akhirnya, mensyukuri hal tersebut sebagai suatu hal terbaik yang telah dipilihkan. Nah, izinkan saya menyebutnya ‘The Reviving Moment’, sebuah momen ‘penyadaran kembali’ bahwa kita hanyalah manusia, yang terbaik di mata kita belum tentu terbaik di mata-Nya dan selalu, rencana-Nya lah yang terbaik bagi kita…

Jangan ragu-ragu untuk berbagi kisah menarik teman-teman, barangkali ada yang terinspirasi dari kisah yang dibagikan, barangkali ada yang kemudian bangkit dari kesedihan…

Ketentuan penulisan  :
1.  Dapat menuliskan pengalaman pribadi/pengalaman orang lain yang sesuai tema tersebut di atas, dituliskan di blog pribadi milik teman-teman (domain bebas), panjang tulisan bebas
2.  Pada akhir tulisan teman-teman, tambahkan tulisan :  “Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s First Giveaway yang diberi tautan hidup ke blog/tulisan ini dan jangan lupa sisipkan banner ini 



3.  Daftarkan nama penulis beserta judul dan tautan tulisan pada kolom komentar di bawah
4. Setiap peserta hanya dapat mengikutsertakan satu tulisan saja
5.  Peserta memiliki alamat di Indonesia untuk memudahkan pengiriman hadiah
6. Waktu pelaksanaan giveaway dari tanggal 4 September 2012 hingga 15 September 2012
7.  Pengumuman peserta insya Allah pada tanggal 21 September 2012

Jika ada keterangan yang belum jelas, silahkan ditanyakan melalui kolom komentar ya..

Nah hadiah untuk tulisan yang terpilih sebagai berikut :
Peserta paling cepat (peserta paling cepat bisa jadi pemenang juga lho) akan mendapatkan buku Tere Liye ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’, buku bagus yang mengajarkan tentang penerimaan hidup.
   1. Most reviving one akan mendapatkan buku ‘The 3rd Alternative’ yang ditulis oleh Stephen R. Covey
     
   2. Peserta paling mengesankan kedua akan mendapatkan buku ‘7 Keajaiban Rezeki’ yang ditulis oleh Ippho Santosa 

   3. Peserta paling mengesankan ketiga akan mendapatkan buku ‘Negeri Para Bedebah’ yang ditulis oleh Tere Liye
 
Atau 
Ketiga peserta paling mengesankan dapat memilih sendiri satu buah buku yang diinginkannya pada rak ‘book review’ di blog ini.
Selain itu juga tulisan ketiga pemenang akan dipublikasikan kembali di blog ini agar lebih luas pembaca yang dapat terinspirasi :D 

Bismillah.. Monilando’s First Giveaway resmi dibuka… 
Terengtengtengteng… Ditunggu partisipasinya ya teman-teman.. ^^

Salam persahabatan dan happy blogging ^^








Buku yang Tak Usai-usai

Beberapa buku digeletakkan begitu saja. Ada yang terasa begitu membosankan untuk dilanjutkan, ada yang rasa-rasanya meminta 'energi lebih' untuk memahami kata demi kata. Ah, ya sering kali kita ingin merasa 'terhibur' bukan. Memilih komik misalnya (Conan tetap pilihan pertama) dibandingkan buku biografi, memilih buku tipis dibandingkan buku tebal.

Seperti dikatakan sebuah film yang kurang lebih mengatakan, "Hidup seperti toko buku, kita memilih yang ringan dan meninggalkan yang berat,"

Hanya perlu sehari untuk menyelesaikan sebuah novel tetapi dengan tebal yang sama, buku agama bisa jadi diselesaikan berminggu-minggu lamanya. Kitab berjudul 'Shahih Fiqih Wanita' misalnya satu jam membacanya paling saya cuma dapat sepuluh halaman, terkadang perlu berulang kali membaca sebelum paham. Mungkin itulah mengapa belajar memerlukan guru, tak bisa semata-mata dari buku. Beberapa buku bagus masih dibaca sebagian hingga sekarang.

Beberapa buku ada yang memang sengaja tak diselesaikan...

Ah ya, seperti itu mungkin hidup. Ada yang bisa kita lewati selintas saja, ada yang membuat kita berhenti dan termangu memikirkannya, ada yang harus dihadapi meskipun pelan-pelan kaki melangkah...
Mungkin...

I wish i could finish these books like reading a novel ;)


Menikahi Orang Tak Dikenal?

Kata ta’aruf terdengar amat asing bagi saya ketika masih SMA. Seorang teman berbaik hati menjelaskannya : “Jadi Mon, ta’aruf itu singkatnya perkenalan antara laki-laki dan perempuan dengan tujuan menikah. Nggak pakai pacaran gitu, langsung nikah,” Saya kaget, masih kurangnya pemahaman saya pada waktu itu sehingga timbul pertanyaan “Kok bisa nikah tanpa pacaran? Nanti gimana tau sifat aslinya? dan bla bla bla...” “Kan saat perkenalan itu ditanya visi misi perkenalan, sifat-sifatnya, terus kita kan juga bisa menanyakan sifat orang tersebut kepada orang terdekatnya,” Saya terdiam, berusaha memikirkan kata-katanya.

Kata ta’aruf sepertinya hanya sebuah kata yang akan saya temui di cerita-cerita Islami atau kisah orang-orang yang tak saya kenal hingga dua tahun kemudian salah seorang kakak kelas yang akrab dengan saya pada waktu itu (beliau lima tahun di atas saya) memberi berita mengejutkan, “Dek, mbak mau nikah ya,” Hah?” seru saya terkejut, bukan apa-apa, beliau tak pernah bercerita atau nampak tengah dekat dengan seseorang. “Kapan mbak?” . “Tanggal 16 dek,” seketika mengingat tanggal, kala itu tanggal sembilan. “Haaaaah,”

Beliau kemudian bercerita tentang prosesnya menuju pernikahan  bahwa beliau dan sang calon saling bertukar biodata dengan perantara murobbi sebelum kemudian bertemu pada majelis ta’aruf yang berlangsung selama 45 menit, saling bertukar visi misi pernikahan dan mengajukan pertanyaan tentang kehidupan pernikahan maupun kepribadian, mbak tersebut juga menanyakan sifat-sifat mas itu kepada orang-orang yang mengenalnya dengan baik, kemudian sholat istikharah beberapa kali sebelum akhirnya menemukan kemantapan, lamaran dan menentukan tanggal. Cukup sebulan proses yang dijalani beliau. Yang membuat saya lebih terkejut adalah Mbak dan calonnya sebelumnya tak saling kenal sama sekali, keduanya memang sesama alumni STAN tetapi tak pernah kenal. Pertemuan pertama mereka ya di majelis ta’aruf itu.

“Kok bisa mbak berani banget menikahi orang tak dikenal?”

Mbak pun bercerita tentang keinginannya memiliki seorang suami yang sholeh serta keinginannya untuk menjaga diri dan menjadikan pernikahan sebagai jalan menuju keridaan Allah. ‘Bukan dengan siapa, tetapi mau dibawa kemana’ agaknya ungkapan yang tepat untuk mewakili keinginan Mbak kala itu. Sesosok perempuan yang sholehah nan santun yang senantiasa berusaha menjaga dirinya, kata-kata yang dikeluarkannya pun dipilih dengan hati-hati lantaran takut menyinggung orang lain. Pendek kata, saya mengenal beliau sebagai seorang yang baik, amat baik malah.

Mencari keridaan Allah

Tujuan yang seharusnya ke sana lah setiap perbuatan seorang Muslim bermuara. Pernikahan sebagai sebuah ikatan yang kokoh antara laki-laki dan perempuan yang ditujukan untuk mencari keridaan Allah dengan menyempurnakan setengah agama. Saya mengangguk, seketika itu mata saya terbuka lebar, pemahaman baru akan arti sebuah pernikahan melalui kata demi kata yang diucapkan Mbak. Menikah tak sekadar hanya menikah. Ia adalah ibadah, yang terlalu indah jika dicapai melalui jalan yang tak diridai-Nya. Ia adalah sarana, sarana menggapai keridaan-Nya. Ia adalah awal, awal sebuah generasi baru mengenal Tuhannya. Mitsaqan ghalitza. Perjanjian yang kuat.

Tetap saja, ketika itu timbul pertanyaan selanjutnya, “Bisa ya mbak menikah dengan orang yang baru dikenal? Menikahi laki-laki yang belum dicintai?


Dan hey, jangan salah, kemudian saya melihat rona kemerahan dari pipi Mbak, nada malu-malu Mbak saat menceritakan sang calon seperti dimana kerjanya, asalnya darimana, dan sebagainya. Mbak, agaknya, mulai memupuk perasaannya kepada laki-laki yang seminggu kemudian menjadi suaminya.

“Allah dek yang menggenggam hati manusia,”


Ah, sang pemilik hati. Mudah saja bagi-Nya menautkan hati kedua insan tak dikenal yang dikehendakinya untuk bersanding di pelaminan atau sebaliknya mudah saja baginya melepaskan perasaan antara dua orang yang telah berpacaran bertahun-tahun misalnya. Dialah yang menggenggam hati semua makhluk di muka bumi. Dialah yang memberi kemantapan kepada seorang laki-laki untuk meminang seorang wanita dan kepada seorang wanita untuk menerima pinangan laki-laki yang datang kepadanya.


Tentu saja, ta’aruf tak harus dilakukan dengan orang yang tak dikenal. Bisa juga dilakukan dengan seseorang yang telah dikenal. Meskipun telah saling mengenal tentu tak serta merta seseorang tahu apa-apa yang diinginkan seseorang dari sebuah pernikahan dan bagaimana seseorang akan menjalani pernikahan misalnya. Di sanalah peran ta’aruf, ketika seseorang dapat menanyakan hal tersebut kepada sang calon. Tentu hal tersebut dilakukan melalui perantara orang yang dapat dipercaya.


Selain melalui majelis ta’aruf, seorang teman ada yang berta’aruf melalui email. Ya, keduanya saling bertukar email yang berisi biodata serta pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan. Tentu, dengan menghindari interaksi fisik dan interaksi via email yang tak diperlukan (keduanya pada saat itu saling tahu tetapi belum kenal, tempat kerja memungkinkan untuk bertemu). Keduanya kemudian beristikharah untuk memantapkan hati. Kemudian sang laki-laki pun pergi ke kota sang perempuan untuk menemui orang tua teman saya tersebut dan mengutarakan keinginannya meminang. Ohya hal yang tak kalah penting saat ta’aruf adalah mengkondisikan kedua orang tua sebelumnya sehingga tak terkejut jika tiba-tiba sang anak mengutarakan keinginannya untuk menikah atau jika tiba-tiba ada seorang laki-laki melamar anak gadisnya. Begitulah.


Ta’aruf adalah salah satu jalan menuju pernikahan untuk lebih mengenal calon agar timbul kemantapan. Bisa juga apabila telah mantap dengan pilihannya (tanpa melalui ta’aruf, biasanya telah kenal sebagai teman), seperti salah seorang teman yang secara tiba-tiba ditanya oleh teman sekantornya apakah boleh melamarnya. Sesederhana itu. Begitulah. Semoga tujuan yang baik dicapai melalui cara yang baik. 


 “Ya Allah, aku mengharap cinta-Mu, cinta para hamba yang mencintai-Mu, dan kecintaan terhadap amal yang bisa mendekatkan diriku pada cinta-Mu,”          (HR Tirmidzi)


Wallahu a’lam.
*disarikan dari pengalaman-pengalaman teman*

Book Review #21 : Sepatu Dahlan


Mata berkunang-kunang, keringat bercucuran, lutut gemetaran, telinga mendenging... Siksaan akibat rasa lapar ini memang tak asing, tetapi masih saja berhasil mengusikku... Sungguh, aku butuh tidur. Sejenak pun bolehlah. Supaya lapar ini terlupakan...

diambil dari goodreads
Sepatu Dahlan. Buku ini merupakan pembuka dari sebuah trilogi novel yang terinspirasi oleh sosok fenomenal Dahlan Iskan yang saat ini menjabat sebagai Menteri Negara BUMN. Berlatar kehidupan masa kecil Dahlan, anak laki-laki yang baru saja menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat. Sepatu dan sepeda merupakan dua benda yang amat diidamkannya tetapi jangankan memiliki uang untuk membeli keduanya, kerap kali ia merasakan lapar akibat tak ada makanan untuk dimakan. Ya, kehidupan bisa jadi amat keras bagi orang miskin.

Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya

Pesan di atas disampaikan berulang-ulang dalam buku yang dalam waktu singkat menjadi best-seller di negeri ini. Dahlan cukup tahu diri dengan kondisi keluarganya sehingga ia pun memupus keinginannya bersekolah di SMP Magetan dan menuruti perintah ayahnya untuk menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Takeran yang dari sana lah ia banyak belajar tentang arti kehidupan. Ia juga bersekolah sembari menggembalakan domba-domba kesayangannya. Tentu saja ia tak lupa untuk terus mengupayakan keinginannya memiliki sepatu dan sepeda.
Saya seperti hanyut dalam sudut pandang orang pertama yang digunakan oleh Khrisna Pabichara, sang penulis, dalam memvisualisasikan sosok Dahlan. Penokohan Dahlan terasa begitu kuat dan hidup tetapi sayang, agaknya tokoh lain seperti sekadar pelengkap cerita saja. Ketegasan tokoh Ayah dan kelembutan tokoh Ibu misalnya tak diceritakan terlampau banyak. Yang amat saya nikmati dari novel ini adalah banyaknya pesan moral yang disisipkan dan dikemas dalam cerita yang apik serta kepandaian sang penulis merangkai kata demi kata menjadi bahasa cerita yang amat nyaman untuk dibaca dengan kejelian pemilihan kata Bahasa Indonesia baku yang tak membosankan, misalnya saat Dahlan melukiskan perasaannya untuk seorang gadis bernama Aisha : 
Di jantung rinduku kamu adalah keabadian
Yang mengenalkan dan mengekalkan kehilangan (hal. 358)

Namun, saya tak merasakan ‘emosi yang teraduk’ saat membaca buku ini. Datar-datar saja dari awal hingga akhir tanpa gereget berarti. Entahlah, saya seperti tak merasakan klimaks yang biasanya dinanti-nanti bahkan pada saat akhirnya Dahlan berhasil mewujudkan kedua impiannya. Selain itu, pada beberapa bagian saya merasakan ‘rasa Jawa’ yang 'aneh' (tentu wajar mengingat sang penulis bukan orang Jawa).
Secara keseluruhan, tentu saja, buku ini merupakan buku yang layak untuk dijadikan koleksi dalam memperkaya khazanah baca Anda.

Judul : Sepatu Dahlan
Penulis : Khrisna Pabichara
Penerbit : Noura Books
Cetakan I : Mei 2012
Jumlah halaman : 392 halaman
Mon’s rating : 3 out of 5 stars

Catatan Jilbab Enam Tahun


17 Agustus 2006-17 Agustus 2012.

Tepat enam tahun sejak pertama kali mengenakan jilbab. Aku masih ingat hari pertama memasuki kelas XII dengan penampilan baru, teman-teman tersenyum kepadaku dan memberikan ucapan selamat seraya mendoakanku agar istiqomah. Beberapa teman perempuan menyalamiku dan memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri. Hangat setiap mengingatnya :')

Dan setelah enam tahun mengenakannya...

  1.    Dulu saat SMP, aku berpikir mengenakan jilbab adalah suatu perbuatan sunah, sesuatu yang bila dikerjakan mendapatkan pahala dan jika tidak dikerjakan tidak apa-apa. Hingga aku berkenalan dengan seorang teman yang memberitahu kewajiban berjilbab bagi Muslimah. Jadi bisa jadi, seperti aku dulu, Muslimah yang belum mengenakan jilbab belum mengetahui akan kewajiban berjilbab.

 2.    Dulu saat SMA sebelum aku mengenakan jilbab, aku banyak bergaul dengan para Muslimah yang telah terlebih dahulu mengenakannya. Mereka lah panutanku dalam bertindak dengan perbuatan yang patut dijadikan teladan. Lingkungan pergaulan juga lah yang turut mempengaruhi seseorang untuk berjilbab.

3.    Dulu sebelum berjilbab, aku berpikir pantaskah seorang aku dengan ibadah yang biasa ini berjilbab. Dengan perbuatan yang masih begitu-begitu saja, belum bisa dijadikan contoh. Apa nanti aku nggak ‘mengotori’ jilbab. Lantas perkataan seorang teman menguatkanku, “Kalau kamu nunggu baik dulu baru berjilbab kapan kamu akan berjilbab? Justru jilbabmu itulah yang akan memperbaikimu,” #jleb.

4.    Dulu sebelum berjilbab berpikir apa menunggu sikap dan ibadah baik dulu baru berjilbab, menjilbabi hati dulu bahasa populernya. Perkataan seorang teman menyadarkanku, “Jilbab itu kewajiban, seperti halnya sholat, kalau kamu nunggu bisa khusyuk dulu baru mau sholat, kapan kamu mau sholat?” #jleb.

5.    Dulu sebelum berjilbab berpikir berjilbabnya nanti-nanti saja, ketika sudah mantap banget. “Nanti kalau udah berjilbab terus bongkar pasang gimana?” Ternyata setelah dimantapkan dan dijalani, hingga saat ini tak pernah sedikit pun terbersit keinginan untuk melepas jilbab. Na’udzubillah.

6.    Dulu sebelum berjilbab berpikir, “Apa nanti nggak gerah tuh berjilbab? Apa nggak panas?” ternyata setelah dimantapkan dan dijalani, biasa saja. Malah merasakan perasaaan ‘adem’ yang tak terkatakan, adem secara fisik dan hati. Alhamdulillah.

7.    Bismillah. Sudah menunda kewajiban tersebut enam tahun lamanya semenjak aqil baligh, masak mau ditunda lagi. Akhirnya memantapkan niat berjilbab dan memulainya. Awal mengenakan jilbab, badan panas dingin, bisikan-bisikan yang berusaha menggagalkan niat itu pun dihalau jauh-jauh. 

8.    Dulu awal-awal berjilbab masih mengenakan kaus panjang dan celana jeans ketat dengan jilbab pendek seleher, lama kelamaan merasa risih sendiri lalu mulai memperbaiki penampilan dengan jilbab yang minimal menutupi dada. Insya Allah.

9.    Setiap kali mematut diri di depan cermin dan melihat diri sendiri dengan jilbab yang menutupi merasa beruntung sekali menjadi seorang Muslimah. “Alhamdulillahilladzi ja’alna Muslimin (at),” begitu pula setiap merasa ‘down’ berkaca dan seperti mendapat energi baru, “Kamu Muslimah lho, nggak boleh lemah,”. My jilbab does encourage me. ^^

10. Perintah jilbab lah yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan Islam. Begini lho cara Allah SWT memuliakan para Muslimah.

Enam tahun berjilbab, semoga semakin baik ke depannya ^^

Ini ceritaku, apa ceritamu? ^^