Jika yang Dikejar Hanyalah Nilai (Sebuah Refleksi Hardiknas)



Beberapa waktu lalu, ramai diberitakan mengenai catatan yang diunggah pada akun Facebook salah seorang pelajar SMA yang baru saja mengikuti Ujian Nasional. Nurmillaty Abadiah, pelajar SMA Khadijah Surabaya menantang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh dalam catatan tertanggal 18 April 2014 lalu, “Saya tantang Bapak untuk duduk dan mengerjakan soal Matematika yang kami dapat di UNAS kemarin selama dua jam tanpa melihat buku maupun internet. Jika Bapak bisa menjawab benar lima puluh persen saja, Bapak saya akui pantas menjadi Menteri.”

Dalam catatannya, perempuan berjilbab menyoroti mengenai kecurangan yang ada dalam pelaksanaan UNAS, soal UNAS yang memiliki tipe soal hingga dua puluh buah hingga soal yang tak sesuai dengan SKL serta soal yang memiliki tingkat kesulitan yang disebutnya belum pernah disosialisasikan ke siswa. Ia memungkasinya,

“Pada akhirnya, Pak, izinkan saya untuk mengatakan, bahwa apa yang sudah Bapak lakukan sejauh ini tentang UNAS justru hanya membuat kecurangan semakin merebak. Bapak dan orang-orang dewasa lainnya sering mengatakan bahwa kami adalah remaja yang masih labil. Masih dalam proses pencarian jati diri. Sering bertingkah tidak tahu diri, melanggar norma, dan berbuat onar. Tapi tahukah, ketika seharusnya Bapak selaku orangtua kami memberikan kami petunjuk ke jalan yang baik, apa yang Bapak lakukan dengan UNAS selama tiga hari ini justru mengarahkan kami kepada jati diri yang buruk. Tingkat kesulitan yang belum pernah disosialisasikan ke siswa, joki yang tidak pernah diusut sampai tuntas letak kebocorannya, paket soal yang belum jelas kesamarataan bobotnya, semua itu justru mengarahkan kami, para siswa, untuk mengambil jalan pintas. Sekolah pun ditekan oleh target lulus seratus persen, sehingga mereka diam menghadapi fenomena itu alih-alih menentang keras. Para pendidik terdiam ketika seharusnya mereka berteriak lantang menentang dusta. Kalau perlu, sekalian jalin kesepakatan dengan sekolah lain yang kebetulan menjadi pengawas, agar anak didiknya tidak dipersulit.”

Kami yang berusaha jujur masih belum tahu bagaimana nasib nilai UNAS kami, Pak. Tapi barangkali hal itu terlalu remeh jika dibandingkan dengan urusan Bapak Menteri yang bejibun dan jauh lebih berbobot. Maka permintaan saya mewakili teman-teman pelajar cuma satu; tolong, perbaikilah UNAS, perbaikilah sistem pendidikan di negeri ini, dan kembalikan sekolah yang kami kenal. Sekolah yang mengajarkan pada kami bahwa kejujuran itu adalah segalanya. Sekolah yang tidak akan diam saat melihat kadernya melakukan tindak kecurangan. Kami mulai kehilangan arah, Pak. Kami mulai tidak tahu kepada siapa lagi kami harus percaya. Kepada siapa lagi kami harus mencari kejujuran, ketika lembaga yang mengajarkannya justru diam membisu ketika saat untuk mengamalkannya tiba...”
Izinkan saya mencetak tebal kata kejujuran, sesuatu yang ia resahkan. Tatkala dibenturkan antara mengerjakan dengan kejujuran, soal yang memiliki tingkat kesulitan tinggi, ia dan teman-temannya yang berusaha begitu keras bisa jadi kalah dengan pihak yang mendapatkan ‘wangsit jawaban’.
Saya tak hendak membicarakan mengenai polemik perlu tidaknya UNAS.
Ingatan saya melayang sekitar delapan tahun yang lalu tatkala naik kelas dua belas. Seseorang yang hampir selalu mendapatkan nilai ulangan matematika di bawah batas tuntas yang dipersyaratkan begitu ketakutan di bawah ‘momok’ bernama Ujian Nasional. Jatuh bangun memahami ilmu-ilmu matematika yang dahulunya tak diseriusi dalam belajar, mulai dari bangun pagi, bersekolah, mengambil kelas bimbingan belajar, mengundang guru privat, bahkan tak bisa tidur sebelum menemukan jawaban soal. Satu tahun untuk mengejar ketertinggalan pemahaman selama dua tahun. Saya begitu takut sungguh kala itu.
Pada akhirnya, nilai UN Matematika saya tercetak sempurna di ijazah. Satu, nol dan nol. Murni hasil kerja keras ‘berdarah-darah’, tak ada yang hasil mencontek, tak ada yang hasil membeli jawaban joki.
Bisa jadi saya lebih beruntung daripada Nurmillaty. Soal UN Matematika yang saya hadapi tahun 2007 bisa dibilang ‘tidak susah’. Jauh lebih susah soal tahun sebelumnya. Tanpa bermaksud sombong, saya bisa mengkoreksi jawaban UN saya tatkala itu sebanyak dua kali karena waktu masih bersisa banyak. Pun seingat saya, ada soal dimensi tiga yang bisa diselesaikan hanya dengan satu buah rumus.
Namun, sedih untuk saya akui, saat SMA masih zaman jahiliyah di mana belum sepenuhnya jujur dalam mengerjakan ulangan (kecuali UN). Saya baru benar-benar jujur mengerjakan soal tatkala menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Keras diperingatkan, “Sekali ketahuan mencontek, tanpa ampun langsung kena DO,” Bisa jadi pada awalnya tak mau mencontek lagi karena takut terkena DO jika ketahuan mencontek, terlalu sayang jika keberhasilan menembus ratusan ribu pendaftar  menjadi sia-sia. Tiga tahun menempuh pendidikan Diploma-III di kampus tersebut merupakan kawah candradimuka yang ampuh untuk menghapuskan keinginan mencontek dan membentuk mental yakin dengan kemampuan diri serta berani bertanggung jawab atas usaha yang telah dilakukan. Ya, kejujuran itu mungkin pada awalnya harus dipaksakan.
Hingga akhirnya saya bekerja selama dua tahun sebelum kemudian kembali menjadi mahasiswa D-IV pada kampus yang sama. Saya terhenyak mendapati bahwa hafalan demi hafalan saat D-III seperti menguap entah kemana. Beberapa pertanyaan dosen yang seharusnya mudah, membuat bingung dalam menjawab. Nilai IPK yang tinggi saat D-III tak menjadi jaminan bahwa saya akan ingat apa yang telah saya pelajari.
Jangan-jangan saya belajar selama ini hanya demi mengejar nilai?
Jangan-jangan, jatuh bangun saat hendak UN SMA hanya untuk mendapatkan nilai Matematika bagus? Jangan-jangan, catatan demi catatan serta susah payah memahami dan menghafal berbagai ilmu akuntansi dan ekonomi hanya untuk mendapatkan IP tinggi?
Apa yang sesungguhnya saya cari?
Mana tahu selama ini saya melupakan esensi dari belajar itu sendiri, saya terlalu terpukau oleh target pengejaran hasil akhir, sesuatu yang memang kasat mata. Innamal a’malu binniyati, sesungguhnya perbuatan dinilai sesuai dengan niatnya. wa innama likulli 'mri'in ma nawa, dan sesungguhnya setiap orang mendapat sesuai dengan apa yang diniatkannya. Bisa jadi saya ‘hanya’ berhasil dapat nilai bagus dan IPK tinggi karena itu yang saya inginkan saat itu, tetapi saya tak benar-benar paham. Bisa jadi nilai bagus itu bukan merupakan indikasi akan kepandaian tetapi keridhoan Allah memberi nilai bagus lantaran doa-doa munajat yang terpanjat oleh ibu menembus langit. Tak ada yang tahu bukan apa yang membuat Allah ridho akan suatu hasil.
Jika hanya mengejar nilai, mungkin hanya itulah yang akan didapatkan...
Jika hanya mengejar nilai, segala cara dihalalkan...
Gambar diambil dari penelusuran internet
Mati-matian sebagian orang menghalalkan segala cara demi apa yang disebut dengan ‘nilai bagus’, mulai dari mencontek teman hingga membeli jawaban dari joki. Mental ‘mendapatkan hasil bagus bagaimana pun caranya’ bisa jadi kemudian akan berlanjut, ketika hendak menjadi pegawai menyogok sana sini. Tak jarang kita jumpai dalam berita, ada orang yang rela membayar ratusan juta demi menjadi pegawai negeri.
Semoga akan ada Nurmillaty-Nurmillaty berikutnya, yang setengah mati menggenggam kejujuran di tengah berbagai terpaan. Semoga seperti harapannya, kejujuran adalah segalanya, termasuk direpresentasikan dalam seluruh aspek pendidikan di negeri ini.
Semoga pendidikan tak hanya sekadar untuk mencari nilai yang tercetak di selembar ijazah, tetapi mampu menghasilkan siswa-siswa yang menjunjung tinggi kejujuran dan merasai manisnya proses pembelajaran.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Untuk semua siswa yang menggenggam kejujuran. Untuk semua guru yang tak lelah mengajarkan. Pun teruntuk siswa usia sekolah yang masih belum mampu mengenyam bangku sekolah lantaran beratnya kehidupan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.
 ---








ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku


Ngomong-ngomong soal laptop, kali ini saya mau berbagi pengalaman menggunakan laptop Asus A45A. Laptop ini dibeli pada bulan Januari 2013 lalu. Sebelumnya saya belum pernah menggunakan laptop merk Asus, lalu setelah mendengar rekomendasi banyak teman yang sudah menggunakan Asus hampir semuanya mengatakan “Asus speknya bagus, harganya nggak terlalu mahal,” meluncurlah saya ke pameran komputer mencari laptop Asus. Spesifikasi minimal yang saya cari adalah layar berukuran 14 inchi, kebetulan intensitas menggunakan laptop tinggi sehingga perlu laptop yang nyaman untuk mata minus ini, prosesor minimal Core i3, ada CD/DVD Room bisa sehingga tak perlu lagi membeli yang portable dan tentunya harga tak terlalu mahal. And yes, saya mendapatkannya pada Asus A45A. Pertama melihat tampilan fisiknya, saya langsung naksir. Selain merah adalah warna favorit, casing laptop yang terbuat dari alumunium membuatnya tampak lebih kokoh. Cukup dengan 4,8 juta saya sudah bisa membawa pulang laptop ini.

Merah salah satu warna favorit

Dibuat Kerja, Oke Punya

Dan ya, saya rasa saya tak salah pilih. Terhitung lima belas bulan sudah saya menggunakan laptop ini dan bisa dibilang puas banget. Sebagai pegawai yang amat terbiasa melakukan input data keuangan dalam jumlah banyak dan sering, touchpad laptop yang luas semakin memudahkan dalam melakukan pekerjaan, selain kebetulan saya memang tak suka menggunakan mouse. Yang lebih menyenangkan lagi, fitur instant on membuat laptop siap digunakan hanya dalam waktu sekian detik setelah memencet tombol power. Hal yang amat menyenangkan mengingat ketika menggunakan laptop terdahulu, saya perlu waktu minimal satu menit menunggu selesai booting. Ketika menggunakan berbagai aplikasi pun, performa laptop ini memuaskan. 

Jadi si bos tak lagi berkata, “Monik, buruan ganti laptop. Lemot banget,” demi melihat pengolahan data yang lambat. Hehe.
Touchpad luas, casing dari alumunium

Mendukung Hari-Hari Mahasiswa

Ketika teman-teman lain sibuk mencari colokan kosong dan memasang rol kabel saat ujian praktik (kebetulan saat ini berstatus pegawai tugas belajar/mahasiswa), saya santai-santai saja. Dengan laptop yang fully charged, laptop ini mampu bertahan empat jam dengan pemakaian penuh (ujian berlangsung selama tiga jam). Yang lebih menyenangkan lagi, meski digunakan berjam-jam laptop ini tak terlalu panas (kebetulan sebelumnya pernah menggunakan dua buah laptop dengan merk berbeda sehingga bisa membandingkan).  Bisa dibayangkan, hal utama yang dihadapi mahasiswa yakni tugas paper demi paper yang memakan waktu berjam-jam setiap harinya membuat saya amat sering menggunakan laptop, akan terganggu kalau tidak ditunjang dengan laptop dengan kinerja handal.
Prosesor Core i3 cukup untuk penggunaan casual sehari-hari

Daya Tahan Buat Jatuh Cinta

Hal yang paling membuat saya jatuh cinta dengan laptop ini adalah daya tahannya yang mumpuni. Bisa dibilang saya menggunakannya cukup ‘semena-mana’, mulai dari membiarkan adaptor terpasang lebih dari setengah hari, menggunakannya berjam-jam tanpa henti (sepertinya pernah hingga delapan jam), hingga tak mematikan laptop dalam waktu berhari-hari (sleep mode saja) tetapi laptop ini menunjukkan ketangguhannya. Nyaris tak pernah rewel (hang dapat dihitung jari) dan daya tahan baterainya pun patut diacungi jempol. 
Beneran baterai tahan lama, tak mudah panas dan nyala dalam detik

Rasa-rasanya saya seperti punya teman yang setia. Mulai dari berjam-jam menemani mengolah data menggunakan Excel, merangkai kata demi kata untuk menulis blog hingga mengerjakan tugas menggunakan Word, menjelajah internet menggunakan browser, mengedit berbagai gambar untuk berjualan online, hingga menonton film, dia selalu menunjukkan performa yang dapat diandalkan dan cepat. Selain itu, dibawa kemana-mana pun tak terlalu berat (mengingat aktivitas yang mobile), sekitar 2,4 kg dengan desain slim.

Jadi, bisa dibilang, ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku bukanlah hal yang berlebihan. Laptop Asus A45A merupakan notebook terbaik yang pernah saya miliki dan rasanya kalau mau ganti pun, ingin berganti lagi dengan merk Asus saja.








Islam : Apa yang Membuatmu Jatuh Cinta? (Pengumuman Pemenang Giveaway)

“Berjanjilah, Khan. Berjanjilah untuk berjihad dengan pena,”

Adegan itu begitu membekas. Anak laki-laki Pakistan bernama Khan, kelak menjadi rekan kuliah Rangga Al Mahendra saat menempuh pendidikan S3 di Wina dalam film layar lebar “99 Cahaya di Langit Eropa part 2”, mengangguk demi mendengar perkataan sang Ayah. Menggenggam erat sebuah pena pemberian ayahanda, ia yang mulanya bersiap berlatih tempur dengan teman-temannya (jamak diketahui bahwa Pakistan merupakan salah satu negara di mana pertempuran demi pertempuran adalah hal yang amat mungkin terjadi) mengurungkan niatnya dan mengubah caranya memandang jihad. Mengangguk dan berjanji, suatu hari nanti akan menjadi Muslim cerdas yang mampu mengubah dunia.  Menjadi seorang agen Muslim yang baik.

“Islam is like diamond, shine it away,”

Saya tak tahu kata-kata itu pertama kali diucapkan oleh siapa. Namun, lihat perkataannya dan jangan lihat siapa orangnya bukan, begitu perkataan Sayyidina Ali. Cahaya Islam yang berpijar dan menerangi diri seorang Muslim teramat sayang jika tak disebarkan. Islam rahmatan lil ‘alamin. Sebagai rahmat bagi semesta Alam, Islam mengatur semuanya. Pelajaran fiqh paling dasar adalah fiqh thaharah, menunjukkan bahwa Islam mengutamakan kesucian. Mulai dari tata cara bersuci : menggunakan air, tayamm jika tak menemukan air, tata cara istinja’ mulai menggunakan air hingga batu, dan sebagainya. Hal-hal yang tampak sederhana sekalipun ada tuntunannya. Tentu saja, jika hal seperti kaki mana yang sebaiknya keluar lebih dahulu dari kamar mandi saja di atur, Islam pastilah mengatur hal yang lebih besar lagi. Islam memberikan pedoman bagaimana seorang pemimpin bersikap melalui teladan para nabi, tata cara bernegara, hingga bagaimana keluarga di atur : munakahat dan mawaris misalnya.

“Islam kamil (sempurna) dan syamil (menyeluruh)”

Dan jika ditanya apa yang membuatmu jatuh cinta dari Islam? Semua. Semua tentang Islam membuat saya jatuh cinta. Islam adalah cinta itu sendiri.

Sebagian peserta giveaway ini menjawab bahwa perintah berhijab membuat mereka jatuh cinta. Salah satu syari’at dari Allah yang begitu indah dan memuliakan wanita. Kata siapa, perintah berhijab adalah bentuk diskriminasi kepada wanita seperti apa yang kaum feminis dengung-dengungkan? Jilbab adalah identitas seorang Muslimah, sesederhana itu. Ketundukan akan perintah berhijab adalah salah satu bentuk ketaatan dan kemudahan demi kemudahan pasti akan diberikan.

Lalu sebagian menjawab bahwa Al Qur’an adalah sumber dari cinta terhadap Islam. Risalah suci yang diturunkan kepada seorang nabi mulia yang tak bisa membaca dan menulis. Tak pernah kuno oleh zaman, ialah cahaya penerang kehidupan. Kepada siapa yang mampu mengambil pelajaran.

Dan semakin mempelajari Islam niscaya cinta akan tumbuh. Bagaimana mengaku cinta jika ayat demi ayat yang dilafalkan dalam lima kali shalat fardu sehari saja tak tahu artinya? Bagaimana akan tumbuh cinta jika hikmah dari berbagai syariat seperti puasa dan qishash misalnya tak dipahami? Dan bagaimana cinta akan bertunas jika interaksi dengan ayat-ayat cintanya dilakukan dengan lekas-lekas? Bagaimana mengaku cinta jika keseharian menolak tuntunan Islam dengan berkata “Jangan dikaitkan dengan agama deh,”?

Iman, ilmu dan amal adalah tiga kesatuan yang tak terpisahkan. Iman akan bertambah seiring ilmu, ilmu tanpa iman adalah buta, dan iman serta ilmu tanpa amal adalah sia-sia. Azzam untuk menjaga ayat-ayat cinta-Nya adalah salah satu bentuk cinta yang indah, maka izinkan saya dan Ninda memilih bang Nuzulul Arifin sebagai pemenang pertama giveaway kali ini dengan hadiah sebuah gamis brand Hijab Alila (bisa dihadiahkan kepada ibu/saudara/pasangan atau bisa memilih pulsa senilai 200.000). Gamis persembahan Hijab Alila Semarang, warna dan ukuran dapat dipilih sesuai persediaan.

Lalu, kami memilih kisah luar biasa mbak Inge yang jatuh cinta kepada Islam bahkan sebelum ia mengucapkan kedua kalimat syahadat, tutur mbak Diah mengisahkan bagaimana Islam membawa cahaya terang benderang dalam keluarganya, serta tulisan indah mbak Maulida tentang refleksi iman dengan hadiah bergo/kerudung instan brand Hijab Alila (atau pulsa senilai 100.000)

Dan tentu saja, terima kasih kepada mbak Siska yang mengingatkan untuk semakin mempelajari Islam, mbak Rosa yang mengingatkan betapa beruntungnya menjadi muslimah dan mbak Yulita yang 'menantang' : bagaimana mungkin tidak jatuh cinta dengan islam. Ketiganya mendapatkan voucher diskon 15% (tanpa minimum pembelian, bisa dihadiahkan juga vouchernya) untuk pembelian di Hijab Alila Semarang yang bisa digunakan maksimal hingga satu bulan sejak pengumuman pemenang giveaway.

Akhirul kalam, jazakumulloh khoirul jaza kepada semua peserta giveaway. Semoga Allah memberikan balasan yang jauh lebih banyak lagi kepada orang-orang yang meninggikan kalimat Islam di muka bumi, salah satunya melalui tulisan-tulisan pada giveaway kali ini. Terlalu tinggi jika mengatakan 'jihad' tetapi mudah-mudahan tulisan tersebut mampu memberikan jejak kebaikan kepada para pembaca. 

Dan tentu saja, jatuh cinta tidaklah cukup dibuktikan dengan perkataan "Aku cinta" tetapi melalui perbuatan yang merefleksi kecintaan maupun atas apa yang dicintainya. Semoga kita mampu menjadi agen Islam yang baik.

Semoga Allah SWT ridha.

----

Mohon maaf atas kekurangan dalam penyelenggaraan. Kepada para pemenang, mohon berkenan menuliskan alamat email di kolom komentar atau konfirmasi melalui email ke monikayulando@gmail.com. Teknis hadiah akan disampaikan melalui email.





Giveaway I Love Islam : Apa yang Membuatmu Jatuh Cinta?


Islam is perfect
Its people are not

Rasa-rasanya akhir-akhir ini saya beberapa kali membaca postingan di media sosial yang bisa dibilang ‘menghujat atau mencaci’ Islam lantaran perilaku oknum umat agama ini atau syariat Islam malah misal poligami. Gerah, iya gerah sekali membacanya. Islam itu indah, sangat indah. Islam bukan sekadar agama, melainkan cara dan sudut pandang dalam menjalankan kehidupan. 

Sungguh, saya jatuh cinta dengan agama ini. Pada awalnya bisa jadi saya beragama karena keturunan, tetapi semakin hari semakin mempelajari agama ini membuat saya semakin jatuh cinta. Inilah jalan yang saya pilih, dengan penuh keyakinan dan kemantapan, tak ada keraguan sedikit pun. Saya jatuh cinta dengan betapa lengkap dan sempurnanya Islam mengatur kehidupan pemeluknya, mulai dari urusan se-privat (maaf) hubungan suami istri hingga urusan negara dan mengatur pemerintahan. Tak ada yang luput sedikit pun.

Oleh karenanya, giveaway “I Love Islam” ini dihadirkan oleh saya dan Ninda. Semata-mata untuk menggali hal-hal apa sih yang membuat para pemeluk Islam jatuh cinta dengan agamanya. Mudah-mudahan sekaligus bisa menyebarkan keindahan Islam :)

Ketentuan dan Persyaratan :
1.    Bentuk tulisan bebas : bisa opini, pengalaman pribadi, pengalaman orang lain dsb asalkan sesuai dengan tema “I Love Islam” misal :
·      jatuh cinta dengan Islam karena indahnya Islam mengatur hubungan pernikahan dan keluarga
·      jatuh cinta dengan Islam karena keindahan Al Qur’an
·      jatuh cinta dengan Islam karena perintah berjilbab yang melindungi kehormatan para muslimah
·      dsb
2.    Dituliskan di blog pribadi milik teman-teman (domain bebas), panjang tulisan bebas. Belum pernah dipublikasikan sebelumnya/tulisan baru.
3.    Pada akhir tulisan teman-teman, tambahkan tulisan :  “Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway I Love Islam” yang diberi tautan hidup ke postingan ini atau postingan tentang giveaway ini di blog Ninda serta sisipkan banner ini 

4.    Tuliskan nama penulis beserta judul dan tautan tulisan pada kolom komentar di bawah. Sebaiknya di blog ini dan di blog Ninda juga biar kami sama-sama bisa cek dengan cepat :)
5.    Setiap peserta maksimal mengirimkan dua buah tulisan
6.    Peserta memiliki alamat di Indonesia untuk memudahkan pengiriman hadiah
7.    Waktu pelaksanaan giveaway dari tanggal 11 Maret hingga 1 April 2014. Pengumuman peserta insya Allah pada tanggal 5 April 2014.

Hadiah Giveaway :
1.    Satu orang pemenang dengan tulisan yang menurut kami terbaik akan mendapatkan sebuah gamis brand Hijab Alila (bisa dihadiahkan kepada ibu/saudara/pasangan jika kebetulan pemenang laki-laki atau pulsa senilai 200.000). Gamis persembahan Hijab Alila Semarang, warna dan ukuran dapat dipilih sesuai persediaan.
2.    Tiga orang berikutnya mendapatkan bergo/kerudung instan brand Hijab Alila (bisa dihadiahkan kepada ibu/saudara/pasangan jika kebetulan pemenang laki-laki atau pulsa senilai 100.000). Bergo persembahan Hijab Alila Semarang, warna dan ukuran dapat dipilih sesuai persediaan.
3.    Tiga orang berikutnya mendapatkan voucher diskon 15% (tanpa minimum pembelian, bisa dihadiahkan juga vouchernya) untuk pembelian di Hijab Alila Semarang  yang bisa digunakan maksimal hingga satu bulan sejak pengumuman pemenang giveaway.
Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, kenali dan gali hal-hal yang membuat kita jatuh cinta dengan Islam lalu sebarkan pada dunia keindahan agama ini. Let’s write!

Pesona Taman Laut 17 Pulau Riung

Petualangan di Pulau Flores berlanjut. Dari Kelimutu, kami beranjak menuju Riung, sebuah kecamatan di kabupaten Ngada, sebuah kabupaten di bagian utara pulau Flores. Tujuan kami berikutnya adalah Taman Laut 17 Pulau Riung yang pernah masuk dalam daftar sementara World Heritage oleh Unesco.

Perjalanan dari Moni ke Riung menempuh waktu sekitar lima-enam jam. Kami singgah sejenak di Ende, sebuah kota kecil yang sempat menjadi tempat pengasingan Bung Karno selama empat tahun. Sayang, saat kami tiba rumah yang pernah didiami oleh sang Proklamator sedang tak bisa dikunjungi, pintu pagarnya terkunci rapat. Kami terpaksa puas melongok dari atas pagar yang tak terlalu tinggi.
Rumah Peristirahatan Bung Karno di Ende. Sayang tak bisa masuk.
Jika Nusa Tenggara Timur disebut-sebut sebagai salah satu daerah paling gersang di Indonesia, kesan yang kami tangkap saat perjalanan overland Flores  pada awal Februari ini adalah sebaliknya. Hijau. Pepohonan nan meneduhkan mata dan sabana yang terhampar luas di kanan kiri jalan. Bang Us, pengemudi mobil Avanza yang kami sewa menunjukkan keahliannya mengemudi, ia melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Padahal kami melewati jalur yang berkelok-kelok, tak jarang lebar jalan hanya satu meter dengan semak lebat menghalangi pandangan, sehingga membuat pengemudi harus senantiasa waspada karena kendaraan dari arah berlawanan tak nampak oleh pandangan mata.

Seperti membentuk mata bukan?
Jalanan berkelok dengan pemandangan sabana
Kami berhenti sejenak di tepi jalan pada sebuah kota bernama Mbay, ibukota Kabupaten Nagakeo yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Ngada. Hijau sabana dan dua buah bukit yang seperti membentuk mata memantik keinginan kami mengambil foto dari dekat.  Tak cukup sampai di situ, sebuah bukit bernama Tanjung Lima Belas (lepas Nagakeo) merupakan spot yang amat sayang untuk dilewatkan. Dari atas bukit, kami memandang Riung dari kejauhan seraya membidik lanskap sabana. Matahari bersinar amat cerah siang itu.

Dari atas Tanjung Lima Belas
Kami tiba di Riung saat hari menjelang sore. Selepas meletakkan barang-barang di sebuah penginapan kami berjalan-jalan ke dermaga seraya menikmati pemandangan senja. Pak Alex, seorang nelayan warga setempat, memandu kami. Ia yang akan mengantarkan kami menjelajah Taman Wisata 17 Pulau keesokan harinya. Saya sempat tertegun sejenak mendengarkan suara azan melengking dari sebuah pengeras suara sebuah masjid kecil pada saat perjalanan pulang dari dermaga menuju penginapan. Maklum, Flores merupakan daerah minoritas Muslim. Rupanya, penduduk Nangamese (nama kelurahan dermaga berada) yang mayoritas nelayan sebagian merupakan keturunan dari suku Bugis yang notabene merupakan Muslim. Mereka meninggalkan tanah kelahiran di Sulawesi dan mengadu nasib di pulau seberang. Yang perlu dicatat, kehidupan di Nangamese antara penduduk asli Riung dengan pendatang dari Bugis berjalan rukun dan harmonis.

Aktivitas para nelayan
 Pagi-pagi, lepas Subuh kami bersiap ke dermaga. Pak Alex ditemani seorang keponakannya telah menunggu kami. Kami menyewa kapal seharian dengan tarif sewa Rp500.000,00 (di luar biaya sewa alat snorkeling dan makan siang). Meski memiliki nama Taman Wisata 17 Pulau, bukan berarti pulau-pulau yang ada berjumlah tujuh belas. Pak Alex menyebut angka dua puluh empat. Katanya, angka 17 sendiri merujuk pada tanggal kemerdekaan bangsa Indonesia.  Tiga pulau menjadi tujuan kami : Pulau Ontoloe (atau disebut juga Pulau Kelelawar), Pulau Tiga dan Pulau Rutong.

Pagi Nan Memukau di Kelimutu


The best lens in the world is your eye 

Sebelumnya, danau Kelimutu hanyalah suatu tempat yang tercetak pada lembaran uang lima ribu lama. Keindahan danau yang juga disebut sebagai danau tiga warna ini hanya sempat sekilas tergambar dari foto demi foto di artikel jalan-jalan. Hingga beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjejakkan kaki di Pulau Flores. Danau Kelimutu merupakan destinasi pertama dari perjalanan sembilan hari ini. Dari Jakarta, saya dan beberapa orang teman transit di Denpasar untuk kemudian melanjutkan penerbangan dengan maskapai berbeda ke Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, yang merupakan pintu gerbang wilayah Timur pulau yang mendapatkan namanya dari bahasa Portugis yang berarti ‘bunga’ ini. 

Selama tiga jam, mobil Avanza yang kami sewa melaju menuju Moni, sebuah desa terakhir sebelum memasuki Taman Nasional Kelimutu. Malam telah menjelang tatkala kami tiba di desa kecil tersebut, kami memutuskan untuk bermalam di sebuah homestay bertarif 250 ribu per malam. Tujuan utama kami adalah mengejar sunrise di puncak gunung Kelimutu, sambil memandang indahnya danau yang berisi air yang dapat berubah-ubah warna. Danau Kelimutu. 

Sekitar pukul lima pagi kurang WITA, kami memulai perjalanan dari Moni. Kira-kira sekitar tiga belas kilometer sebelum kami bertemu dengan pos jaga Taman Nasional Kelimutu. Tarif masuk yang kami bayar bisa dibilang sangat murah, hanya Rp2.500,00 per orang ditambah Rp5.000 per kamera (kamera DSLR, kamera saku digital tidak) dan Rp6.000,00 untuk ongkos parkir mobil. Dari parkiran mobil, pendakian menuju puncak gunung kami mulai. 

Angin bertiup cukup kencang tatkala kami melangkahkan kaki mendaki gunung Kelimutu. Gemerisik suara pohon memecah pagi, menambah suasana mistis sekitar danau. Pemerintah setempat agaknya telah mempersiapkan sarana pendakian dengan baik, jalur pendakian telah dibuat nyaman untuk mendaki. Matahari belum menyembulkan sinarnya tatkala kami tiba di puncak gunung sekitar tiga puluh menit kemudian, kami sholat subuh berjama’ah di tengah terpaan angin. 

 
Perlahan-lahan keindahan itu tersibak. Surya seakan muncul malu-malu. Seindah apapun kamera mengabadikan, tak ada yang lebih indah dibandingkan dengan kecantikan yang tertangkap langsung oleh lensa mata. Dari atas tugu di puncak gunung Kelimutu, jepret kamera kami beradu. Untuk sekian lama, waktu seakan berhenti, memberi jeda untuk sang insan menarik nafas menikmati. Perpaduan birunya air danau (tatkala kami datang air berwarna biru), kuning matahari pagi, biru langit dan putihnya awan berarak membuat pagi itu terasa begitu memukau. Pagi itu begitu syahdu.

Masyarakat sekitar danau percaya bahwa roh-roh orang yang telah mati akan tinggal di danau Kelimutu selamanya. Roh (atau dalam bahasa setempat disebut Mae) akan dikelompokkan berdasarkan usia dan karakter ketika hidup. Warna air berubah tanpa ada tanda-tanda alam sebelumnya disebabkan oleh mineral yang terkandung di dalam air dan perubahan iklim. Diyakini bahwa perubahan warna air merupakan salah satu pertanda alam yang patut diperhatikan.