Traveling ke Golden Triangle India : Penuh Warna


Traveling ke Golden Triangle India - Apa yang ada di benakmu ketika mendengar negara India? Film yang penuh tarian dan musik? Taj Mahal? Atau malah kesan bahwa India adalah negara yang tak aman untuk para wisatawan, khususnya para perempuan?

India sudah lama mencuri hati saya. Mungkin karena dulu saat kecil, saya sering menemani nenek menonton film Bollywood. Mayoritas bercerita tentang film India, ingat Inspektur Vijay? Mungkin juga karena ketika saya dewasa, saya kecanduan film India yang makin ke sini makin berkurang nari-narinya, Saya juga takjub melihat kemegahan Taj Mahal ketika pertama melihatnya melalui gambar di buku sejarah. Apalagi melihatnya langsung, ya kan?

Ketika pak suami menanyakan mau bulan madu ke mana beberapa hari setelah nikah, saya pun googling negara-negara yang tak mempersyaratkan visa untuk pemegang paspor Indonesia, bisa menggunakan visa on arrival atau visa elektronik. Cuti nikah masih sisa sekitar delapan belas hari dan posisi kami di rumah orang tua di Semarang. Bukannya nggak cinta Indonesia, tapi demi melihat harga tiket ke destinasi wisata di Indonesia yang belum pernah kami kunjungi mahalnya gila-gilaan, sekaligus pengen mencari suasana baru, kami pun memutuskan untuk bulan madu ke luar negeri. Dan akhirnya, ting ting, saya pun berkata,”India, yuk!”

Harga tiket pesawat ke India yang masih terjangkau, visa ke India menggunakan visa elektronik yang (katanya) mudah dan cepat didapat, biaya hidup di India yang (katanya) lebih murah dari di Indonesia, dan keinginan terpendam mengunjungi India menjadi perpaduan kebulatan tekad kami memilih India sebagai destinasi honeymoon.
Katanya nggak aman? Bismillah!

Hiruk Pikuk New Delhi

Dari Jakarta, kami terbang ke Kuala Lumpur selama 2 jam 10 menit, transit sekitar 3 jam 35 menit, kemudian terbang ke New Delhi selama 5 jam 47 menit. Maskapai yang kami gunakan Malindo. Malindo ini masih satu grup dengan Lion Air, tampilan dan fasilitasnya serupa dengan Batik Air. Kami tiba di Bandara Internasional Indira Gandhi sekitar pukul 19.30 waktu setempat.  Rencananya, kami akan dijemput dengan mobil pribadi yang saya pesan melalui aplikasi Klook. Kami pun dengan pedenya menunggu di Terminal 3 International Arrival karena di aplikasi saya sudah menulis waktu kedatangan dengan jelas sekaligus melebihkan waktu kedatangan, jaga-jaga jika pesawat kami delay dan menunggu proses pengambilan bagasi.

Dan…  Drama pertama di India pun dimulai!

Kami celingak-celinguk mencari nama di antara penjemput sambil sesekali mengecek ponsel, mana tahu ada kabar dari pihak rental atau Klook. Nihil. Setelah menunggu sekitar satu jam, kami pun menerima kenyataan bahwa tidak ada pihak rental yang menjemput. Hiks. Plan B pun dijalankan. Kami memesan Uber untuk mengantar kami dari bandara ke hotel (jangan lupa install aplikasi Uber dulu). Terdapat semacam Uber pick point di seberang Terminal 3 International Arrival. Ohya, dulu Uber pernah beroperasi di Indonesia sebelum diakuisisi Grab. Bedanya dengan Uber yang di Indonesia yakni armada Uber yang beroperasi di India seragam alias seperti taksi berwarna putih sedangkan dulu armada Uber di Indonesia bisa berbeda-beda karena mobil pribadi.

Sekitar jam 11 malam lewat kami tiba di hotel Aiwan-E-Shahi. Saya memesan hotel di Jalan Chandni Chowk, daerah Old Delhi, kota New Delhi. Nah, di sinilah saya sedikit ‘luput’. Pertimbangan saya memesan hotel tersebut karena dekat dengan Masjid Jama’ sehingga suami bisa sholat di masjid dan juga banyak makanan halal di sekitarnya. Namun, ternyata daerah Old Delhi yang merupakan bagian dari Old Delhi merupakan daerah yang bisa dibilang (maaf) kumuh. Sempat terkejut juga ketika kami bermaksud jalan-jalan pagi dan di depan hotel banyak orang tidur begitu saja di trotoar.

Masjid Jama’ New Delhi

Destinasi pertama kami di New Delhi tentu saja Masjid Jama’ yang berada di seberang hotel. Baru kali ini saya masuk masjid dan disuruh bayar 300 rupee (sekitar Rp60 ribu) per orang, alasannya karena membawa ponsel berkamera. Saya bilang kami menggunakan satu ponsel saja untuk memotret tapi tetap disuruh membayar 600 rupee untuk dua orang. Ya sudahlah. Ngomong-ngomong, aturan ini diberlakukan untuk turis asing saja. Orang lokal dibiarkan lalu lalang begitu saja.

Masjid Jama’ New Delhi didirikan oleh Shah Jahan, raja yang membangun Taj Mahal, pada tahun 1656 M. Arsitekturnya bergaya Mughal dengan bangunan yang dibangun dari batu tanahmerah dan marmer. Megah. Sayangnya, masjid ini nampak agak kotor dan kurang terawat.

Ada pengalaman menarik saat kami mengunjungi Masjid Jama’ New Delhi. Kami didatangi seorang Bapak orang India yang mengajak berbincang dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Ia mengatakan bahwa beberapa tahun sebelumnya ia pernah ke Jakarta. Kemudian, ia memperkenalkan kami ke rombongan keluarga besarnya yang berasal dari Jaipur (sekitar dua puluh orang) dan kemudian mengajak foto bersama. Di situ kami merasakan persaudaraan Muslim antar negara.


Jami Mosque New Delhi

Interior di Jami Mosque New Delhi

Red Fort New Delhi

Red Fort atau disebut juga Lal Qila merupakan kompleks benteng yang terbuat dari batu pasir merah yang dibangun oleh Shah Jahan juga di pertengahan abad ke-17. Dulunya, Red Fort merupakan istana Shah Jahan untuk ibukota pemerintahannya yakni Shahjahanbad, kota baru yang dibuat ketika Shah Jahan memindahkan ibukotanya dari Agra ke Delhi. Arsitekturnya perpaduan arsitektur Islam dan Mughal. Arsitektur Mughal sendiri merupakan perpaduan Persia, Timurid, dan Hindu.
Dan ya.. kompleks Red Fort benar-benar indah. Mulai dari istananya, bentengnya, tamannya. Banyaknya pohon membuat suasana menjadi teduh, di tengah kota New Delhi yang panas kala itu.

Jadi, jangan sampai melewatkan Red Fort yang merupakan salah satu situs warisan dunia Unesco jika berkunjung ke New Delhi ya. Pemandangannya memanjakan mata dan suasananya membuat betah berlama-lama.


Red Fort New Delhi

Yang Menarik dari New Delhi

New Delhi merupakan kota metropolis terpadat kedua di India setelah Mumbai. Jadi, tak heran kalau kotanya sangat padat. Yang menarik, tiga stasiun kereta lokal di New Delhi yang kami datangi bisa dibilang (maaf) kumuh dengan lalat beterbangan dan juga ada anjing liar di dalam stasiun tetapi stasiun Metro (MRT) New Delhi sangat modern, rapi, dan bagus seperti halnya Bandara Internasional Indira Gandhi yang pernah dinobatkan sebagai bandara terbaik di dunia.

Selain itu, penampilan masyarakat pengguna kereta Metro dan kereta lokal pun berbeda. Dari sana, saya merasakan kesenjangan sosial masyarakat India yang cukup tinggi.

Ngomong-ngomong, saran saya, jika traveling ke India sebaiknya jangan sendirian, apalagi perempuan. Secara data, pada tahun 2018, lima orang perempuan diperkosa setiap harinya di New Delhi. Mungkin, karena itulah, di bus ditempel nomor aduan untuk melaporkan pemerkosaan.

Jaipur, A Beautiful Pink City

Jaipur.. Jaipur..

Begitu teriakan kondektur bus yang membawa kami dari Inter State Bus Terminal di New Delhi menuju Jaipur. Ngomong-ngomong, India memiliki 29 negara bagian dan 7 wilayah persatuan. Nah dari New Delhi yang merupakan ibu kota dari negara bagian Delhi, kami bermaksud melanjutkan perjalanan menuju Jaipur yang merupakan ibu kota negara bagian Rajashtan. Perjalanan menggunakan bus Super Luxury Volvo ditempuh dalam waktu sekitar lima jam. Harga tiket bus untuk laki-laki senilai 852 rupee dan perempuan senilai 705 rupee, jadi memang ada harga diskon untuk penumpang perempuan. 

Awalnya, kami mau menggunakan kereta lokal tapi ternyata kami kehabisan tiket. Kami terlalu pede nggak memesan via online sebelumnya, kami pikir masih ada lah tiket kereta go show. Eng ing eng, setelah mencari di tiga stasiun lokal, kami akhirnya menyerah dan memutuskan naik bus. Namun, hal itu membawa hikmah. Kami jadi tahu kalau terminal bus tersebut bagus dan modern, berbeda dengan kondisi stasiun lokal yang (maaf) kumuh. 

Jaipur merupakan ibukota sekaligus kota terbesar di negara bagian Rajashtan. Jaipur dijuluki sebagai ‘Pink City’ lantaran bangunan berwarna pink (warna pink batu bata atau mirip pink salmon) tampak mendominasi kota. Belum lagi banyak pria Jaipur yang mengenakan kemeja pink muda. 

Jaipur, Perpaduan Kota Tua dan Modern

Di antara tiga kota yang disebut sebagai Golden Triangle India (New Delhi-Jaipur-Agra), Jaipur lah yang mencuri hati saya dengan kecantikannya. Empat hari di Jaipur rasanya teramat kurang. 

Jaipur ditetapkan sebagai ibukota Rajashtan (Rajashtan sendiri bermakna tempat tinggal para raja) pada tahun 1727 dan merupakan kota pertama yang didesain dengan terencana. Yes, tata kotanya rapi dan elok dipandang dengan nuansa pink yang kuat. 

Menjelajah Jaipur ibarat menjelajahi kota yang merupakan perpaduan unsur modern dan kuno. Mal besar dengan desain futuristik ada, benteng megah nan amat indah membuat mata terpana, bangunan peninggalan sejarah dengan desain khas Rajashtan yang penuh warna. 

Kami menyewa tuk-tuk untuk mengantarkan aktivitas kami selama dua hari penuh di Jaipur, dua hari lainnya kami menggunakan Uber yang cukup mudah didapatkan di kota ini. 

Tempat Wisata Menarik di Jaipur

Beberapa tempat wisata yang kami datangi di Jaipur :

Hawa Mahal


Hawa Mahal (Mahal memiliki arti istana) atau disebut juga istana Angin (Palace of Breeze) dibangun pada tahun 1799 sebagai perpanjangan The Royal City Palace of Jaipur. Hawa Mahal yang memiliki 953 jendela ini dibangun dengan batu pasir berwarna merah dan pink dengan arsitektur khas Rajput dan Mughal, ornamen yang mengelilinginya sungguh cantik. Ketika kami masuk ke dalamnya, udara sejuk dapat kami rasakan, di tengah panasnya kota Jaipur.


Hawa Mahal dari luar

Hawa Mahal tampak atas
Dari atas Hawa Mahal tampak kota Jaipur
Hawa Mahal

Amer Fort

Amer Fort disebut juga Amber Fort atau Amer Palace karena dahulu pernah menjadi tempat kediaman Raja Rajput. Amer Fort merupakan benteng yang terletak di daerah Amer, Rajashtan, sekitar sebelas kilometer dari kota Jaipur. Siapkan energi untuk mendaki benteng yang berada di atas bukit ini, apalagi ketika kami datang, matahari sudah mulai terik. Namun, semua itu terbayar ketika menyaksikan kemegahan dan keindahan benteng yang dibangun pada tahun 1592 ini.

Bangunannya disusun dari batu pasir merah dan juga batu marmer putih dengan dikelilingi arsitektur indah dan dihiasi ornamen cantik perpaduan Hindu dan Islam. Belum lagi lukisan tentang kehidupan India kuno dan pemerintahan Rajput menambah keelokan Amer Fort. Berdiri di salah satu sisi bangunan, dari balik jendela kita bisa menyaksikan Danau Maotha, danau yang merefleksikan kemegahan benteng.

Yang membuat saya takjub adalah betapa cantik arsitektur di dalam Amer Fort, terutama dekorasi dinding berwarna dominan hijau yang ramai, khas Rajashtan. Sangat artistik.

Ada pengalaman menarik saat kami berada di Amer Fort. Kami didekati oleh seorang polisi yang kemudian mengajak kami mengikuti langkahnya. Sedikit deg-degan tapi kami pun mengikutinya, ia mengajak kami masuk ke berbagai ruangan di dalam benteng dan memberi penjelasan tentang detail, dulu ruangan tersebut digunakan sebagai apa dan bagaimana filosofinya. Pada akhirnya, ia kemudian menanyakan apakah kami senang dan menunjukkan bahasa tubuh meminta tips. Tentu, kami dengan senang hati memberikannya karena ia bersikap sopan dan tidak memaksa. 


Amer Fort


Albert Hall Museum


Museum Albert Hall merupakan museum tertua di Jaipur yang selesai dibangun pada tahun 1887.  Museum ini juga merupakan museum negara bagian Rajashtan. Desain bangunannya mirip dengan Victoria and Albert Museum di London. Maklum, desainer museum Albert Hall merupakan orang Inggris. Nama museum sendiri terinspirasi dari King Albert Edward VII dari Inggris.

Kesan saat memasuki museum ini adalah cantik dan megah. Arsitekturnya perpaduan Mughal dan Rajput dengan kubah putih yang khas. Burung dara yang terbang di sekitar museum menambah kecantikan lanskap. Di dalam museum Albert Hall terdapat 16 galeri mulai dari lukisan, seni patung, seni marmer, instrumen musik, dan sebagainya. Penataannya rapi dan tidak membosankan.

Ohya, ketika malam hari, tak ada salahnya menyempatkan diri berfoto di depan Museum Albert Hall karena lampu hias berwarna-warni menambah keindahan museum. 


Di depan Albert Hall Museum

Dari dalam Albert Hall Museum

Patrika Gate


Patrika Gate merupakan gerbang pintu masuk Jawahar Circle Garden. Walau ‘hanya’ sebuah gerbang, arsitekturnya sangat cantik berwarna-warni khas tanah Rajashtan. Jadi, jangan lewatkan untuk mampir ke Patrika Gate dan mengambil dokumentasi di sana.


The Patrika Gate, Jaipur

Maharaja Sawai Mansigh II Museum Trust

Nah, ini salah satu hidden gem yang kami temukan di Jaipur. Tempat ini tidak ada di itinerary kami sebelumnya karena memang dari hasil googling tentang tempat wisata di Jaipur, kami tidak menemukannya. Tiba-tiba supir tuk-tuk yang kami sewa membelokkan kami ke sini. Katanya tempat ini merupakan cemetery sang Maharaja dan keluarganya. Oke, kami coba masuk dulu, supir tuk-tuk meyakinkan kalau tempat ini bagus dan worth a visi
Langit cerah Jaipur pada hari itu menyambut kami. Tidak adanya pengunjung lain selain kami membuat kami leluasa menikmati keindahan arsitektur museum ini sekaligus tentu mengambil foto banyak-banyak tanpa ada photobomb. Arsitekturnya sangat cantik, berpondasikan marmer putih dengan desain khas perpaduan Rajput (Hindu) dan Mughal (Islam).