Resep Masakan Praktis dan Enak : Sliced Beef Ala Yoshinoya


Resep Sliced Beef Ala Yoshinoya - Ingin masak enak tapi malas rempong? Tenang, kali ini saya mau bagi resep masakan andalan sebagai seorang ibu bekerja. Resep kali ini sangat simpel tapi tentu saja enak dan bergizi. Yap, resep sliced beef ala Yoshinoya.

Hanya dengan lima langkah mudah, masakan lezat sudah terhidang di meja.

Bahan Masakan :

  • Sliced beef 500 gram (biasanya saya beli online di Tokopedia/Shopee). Bisa untuk dua orang, dua kali makan atau untuk dua orang satu kali makan jika ingin porsi daging lebih banyak. 
  • Kikkoman soy sauce/teriyaki (sesuai selera). Sudah ada halal MUI
  • Bawang bombay 1 buah, iris tipis-tipis
  • Sayuran (wortel, iris tipis/jagung manis pipil)
  • Paprika (opsional)
  • Gula secukupnya

Matinya Kepakaran : Mengapa Orang Awam Berani Berkoar di Media




Review Matinya Kepakaran - Penyanyi Anji membuat gaduh dunia jagad maya. Di tengah perjuangan para tenaga kesehatan menjadi garda terdepan melawan pandemi Coronaavirus Disease-19 (Covid-19) dan masih tingginya kasus positif Corona di Indonesia, pernyataan Anji bahwa Corona tidak semenakutkan itu sungguh kontradiktif. Anji bisa jadi merupakan seorang yang jenius di bidang musik, tapi di bidang kesehatan ia merupakan seorang awam, dalam arti tidak memiliki kompetensi keilmuan atau jam terbang pengalaman yang memadai.

Namun, mengapa seorang awam berani berkoar-koar sesuatu yang bukan keahliannya?

Tom Nichols menyajikan ulasannya secara apik dalam buku berjudul The Death of Expertise (telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Matinya Kepakaran). 

Internet adalah tersangka utama dari perubahan pada masyarakat. Internet mengubah cara masyarakat membaca dan berpikir menjadi lebih instan.

Pada zaman Internet yang sangat mudah diakses seperti sekarang, kita kerap kali kesulitan untuk menelusuri mana informasi yang benar dan mana yang palsu. Internet memungkinkan semua orang untuk menemukan sumber yang mendukung apapun opini seseorang, tak peduli betapa tidak ilmiahnya opini tersebut. Akibatnya, orang menjadi merasa lebih berdaya untuk menyuarakan opininya.

Nah, apa yang lebih buruk dari hal tersebut? Orang biasa mungkin tidak memiliki basis massa yang banyak atau jangkauan menyuarakan pandangannya secara luas. Namun, bagaimana jadinya jika selebritis atau tokoh terkenal yang mempromosikan informasi yang salah? Tentu, akibatnya jauh lebih masif.

Pertanyaannya, mengapa manusia bisa percaya pada argumen yang salah dan begitu percaya diri dengan pandangannya?

Informasi berlimpah yang bisa ditemukan hanya dengan menggeser layar gawai mendukung orang memiliki sumber untuk berdebat mengenai apapun, mulai dari hal yang ringan seperti film hingga teori ilmu alam. Ketiadaan latar belakang pendidikan formal tidak menurunkan kepercayaan diri orang yang hanya didukung beberapa artikel lantas mereka merasa menguasai sebuah persoalan. Itulah mengapa banyak perdebatan yang memicu keributan di dunia maya.

Penyebab Orang Percaya pada Argumen yang Salah


Kabar buruknya, kita memiliki sifat manusiawi yang membuat kita percaya pada argumen yang salah.
Ketika ditelisik lebih lanjut, baik para ahli maupun orang awam, memiliki kecenderungan untuk percaya pada argumen yang salah. Setidaknya terdapat dua penyebab kecenderungan manusia memercayai argumen yang salah. Pertama, apa yang disebut dengan the Dunning-Kruger Effect dan kedua, bias konfirmasi (confirmation bias).


The Dunning-Kruger Effect


Pada tahun 1999, David Dunning dan Justin Kruger, psikolog dari Universitas Cornell mengemukakan bahwa orang yang kurang memiliki keahlian justru tidak menyadari bahwa mereka tidak kompeten. People don’t know that they don’t know.

Pendek kata, the Dunning-Kruger Effect merupakan sebuah bias kognitif yang membuat orang terlalu percaya diri akan pengetahuannya, khususnya malah di area yang kurang mereka kuasai. Penyebabnya adalah kurangnya kesadaran atas proses berpikir seseorang yang menyebabkan mereka malah ngeyel atas opini yang mungkin jelas-jelas salah.


The Dunning-Kruger Effect 

Pandemi, Momentum Perkuat Ketahanan Pangan


Sebagaimana lazimnya penduduk Pulau Dewata, Dek Didi menggantungkan hidup pada pariwisata. Namun, laiknya parasailing yang terbang tinggi lalu kembali ke bumi, pandemi Covid-19 memaksa Dek Didi memutar haluan demi mengisi periuk nasi. Ia kembali ke akarnya sebagai seseorang yang lahir dan besar di daerah produsen sayur. Dengan jeli, ia membuat sebuah aplikasi pertanian yang menghubungkan petani dengan calon pembeli.

Dek Didi adalah contoh kaum muda yang mengakrabi pertanian pasca pandemi. Meski tak lebih menguntungkan dibandingkan pariwisata, jelas pertanian jauh lebih memiliki daya tahan. Manusia bisa hidup tanpa jalan-jalan tapi tak ada yang bisa hidup tanpa makanan, bukan?

Sumber gambar : Unsplash

Tangguhnya sektor pertanian dibuktikan dengan meningkatnya nilai ekspor pertanian pada April 2020 yang tumbuh sebesar 12,66 persen secara tahunan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertanian merupakan satu-satunya sektor yang mencatat pertumbuhan nilai ekspor. Artinya, pertanian masih digdaya di tengah pandemi.

Peningkatan sektor ekspor pertanian tak lepas dari peningkatan permintaan pangan global sebagai efek penurunan produksi pangan di sejumlah negara lantaran kebijakan lockdown. Food and Agriculture Organization (FAO) telah memperingatkan tentang ancaman kelangkaan pangan di masa pandemi. Untuk itu, FAO mengimbau agar setiap negara menjaga kelancaran rantai pasokan pangan.

Kita boleh sedikit berbangga akan tinggi ekspor pertanian. Namun, mirisnya, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) dan Insititut Pertanian Bogor memperingatkan Indonesia tentang ancaman krisis pangan.

Bagaimana bisa terdapat ancaman krisis pangan sementara terdapat peningkatan ekspor sektor pertanian?