Dilarang Sombong di Madinah

Kamu harus menjaga kata-kata di kota suci Mekah dan Madinah, begitu pesan teman-teman yang sudah umroh sebelumnya ketika saya meminta nasihat sebelum menjejakkan kaki di Saudi. Hari menunjukkan pukul 10 malam waktu Madinah ketika kami sampai di hotel Grand Oasis.

“Besok Subuh langsung di Masjid Nabawi ya. Lurus mentok, belok kanan mentok sudah masjid,” begitu kira-kira pesan Ustadz Bakir, muthowif (pembimbing) kami. “Besok langsung aja ya berangkat sendiri-sendiri,”

Ah, gampang lah, pikirku. Lurus mentok, belok kanan mentok. Paket internet ada, tinggal buka Google Maps kalau bingung. Kalaupun nyasar, kemampuanku berbicara dalam Bahasa Inggris bisa diandalkan, Bahasa Arab bisa juga sedikit-sedikit. 

Sungguh saya merasa percaya diri pada saat itu. 


***


Waktu Subuh di kota Madinah sekitar pukul 5.45. Saya bersama dengan adik Muthia, dan Papa menuju Masjid Nabawi sekitar pukul 5.15. Shaf perempuan sudah penuh. Alhamdulillah, saya dan Muthia masih kebagian shaf paling belakang yang masih berada di dalam masjid. Sebisa mungkin kami tak sholat di halaman masjid. 

Kami berdua  janjian bertemu Papa di depan Gate 15 sebelum kembali ke hotel. Pukul 07.30 kami harus sudah siap di lobi hotel karena rombongan jama’ah akan bersama-sama menuju Raudhah. Kami meninggalkan Masjid Nabawi ketika langit masih gelap, matahari belum terbit. 

Tiba-tiba Muthia nyeletuk,”Wah, pengen deh liat sunrise, Mbak. Bagus pasti ya,” 

Saya mengangguk. Siluet Masjid Nabawi dalam balutan sinar matahari pagi pasti indah.

Sekian menit kami bertiga berjalan, kami mendadak bingung. “Eh tadi darimana kita ya? Ini kita belok kiri, kanan, apa lurus?”