2019 : Menikah dan Hamil

My 2019 is much better than 2018... 

Alhamdulillah. 2019 adalah tahun ketika doa untuk menyempurnakan separuh agama dikabulkan Allah. 24 Maret 2019, saya resmi menjadi seorang istri dari laki-laki yang tak pernah saya tahu namanya sebelumnya, yang tak pernah saya bayangkan wajahnya, yang tak pernah saya tahu keberadaannya. Namun, begitulah, dengan kuasa-Nya, penyatuan dua insan dalam sebuah ikatan suci pernikahan berjalan begitu indah. Tiga minggu setelah kami saling bertukar CV, kami dipertemukan untuk pertama kalinya, sebulan setelah itu dia melamar saya, dan tiga bulan sesudahnya kami menikah.

Ketika ia mengucapkan perjanjian yang berat itu

Secepat itu? Ya, mengapa tidak? Saya menuliskan alasan mengapa saya menikah tanpa cinta.

Pernahkah kamu menulis impianmu dengan begitu detail? Ia adalah sosok yang menjelma dari doa-doa panjang yang saya lantunkan, isakan tangis di tengah kesunyian malam, dan pengharapan akan besarnya kasih sayang Tuhan.

Saya tidak meminta sosok yang sempurna tapi saya memohonkan ia yang menyempurnakan jiwa....

Suatu ketika, saya membuka sebuah buku catatan pribadi. Pada buku yang sudah hampir saya lupakan itu (sudah ganti buku ceritanya), saya menuliskan enam kriteria yang saya cari dari seorang lelaki. Sejujurnya, saya cukup terkejut ketika ia memenuhi kriteria-kriteria itu. He is just exactly what I am looking for... 

Impian Membahagiakan Keluarga Terwujud Saat Bahagia Bersama AirAsia



“Naik pesawat terbang hanya untuk orang kaya,”

Naik pesawat terbang adalah sebuah kemewahan. Apalagi buat keluarga saya yang untuk makan saja pas-pasan. Boro-boro memikirkan jalan-jalan, tidak berutang untuk hidup hingga tanggal gajian adalah sebuah pencapaian. Kondisi perekonomian yang memprihatinkan itu berlangsung dari saat saya bersekolah di bangku SMA hingga lulus kuliah diploma. Syukurlah, saya langsung bekerja pasca lulus sehingga sedikit demi sedikit bisa membantu meringankan beban orang tua. Namun, masih ada satu yang mengganjal, saya ingin mengajak keluarga liburan. Naik pesawat, impian yang sudah lama diangankan.

Impian Mama Berlibur ke Pulau Dewata


Sudah bertahun-tahun Mama tidak bertemu dengan Eyang Hari, adik bungsu dari Nenek yang tinggal di Denpasar. Ketika muda, Eyang Hari sangat dekat dengan Mama karena Eyang Hari sempat tinggal di rumah Nenek selama beberapa tahun. Usia Mama dan Eyang Hari hanya terpaut beberapa tahun sehingga dulu sempat menjadi teman sepermainan, bertiga dengan salah seorang kakak perempuan Mama. Tak heran Mama sangat merindukan Eyang Hari yang sudah lama tak dijumpainya. Apa daya, jarak Semarang-Denpasar cukup jauh, belum lagi diperlukan kelonggaran finansial hingga waktu untuk dapat bertemu.

Desember 2017, Mama pensiun sebagai PNS di sebuah dinas. Mama mengutarakan keinginannya untuk bisa mengunjungi Eyang Hari sekaligus berlibur ke Pulau Bali. Awalnya, saya utarakan ke Mama agar kami pergi berdua saja karena keterbatasan dana. Lalu, dua adik saya, Muthia dan Hilmy, mendengarnya dan kemudian pun merajuk,

“Mbak, masak aku nggak diajak, aku kan pengen ikutan jalan-jalan,” seru Muthia.

“Mbak, aku belum pernah naik pesawat. Aku pengen naik pesawat,” Hilmy tak mau kalah.