Catatan Sembilan Tahun Berhijab : Berhijab adalah Berjuang

Apakah berhijab itu susah? 
Tentu berbeda antara perempuan Muslimah yang sedari kecil telah dibiasakan untuk menutup aurat atau perempuan Muslimah yang tinggal di negara Islam yang mewajibkan untuk berhijab dengan perempuan Muslimah yang tinggal di negara majemuk seperti Indonesia. Hijab sendiri bisa dibilang baru ‘populer’ pada tahun 2000an seiring dengan meningkatnya pemahaman dan kesadaran masyarakat. Dan saya sendiri baru sadar bahwa berhijab adalah wajib ketika SMP (dulunya saya menganggap bahwa berhijab itu sunnah).

16 Agustus 2006. Momen pertama saya mengenakan hijab secara umum adalah ketika saya mengunjungi rumah seorang teman karib perempuan. Tampilan saya waktu itu adalah kaos manset untuk melengkapi kaos pendek C-59 hitam disertai dengan kerudung milik Mama. Di sana, teman saya yang telah lebih dahulu mengenakan hijab mengajari saya memasang kerudung segi empat dengan berbagai variasi model. Esok harinya pada saat upacara hari Kemerdekaan adalah saat pertama kali saya mengenakan hijab di depan umum.

Tahukah apa yang terjadi pada saat itu?

Satu Hari Membaca Satu Hari Menulis

Apakah Anda beranggapan bahwa menulis itu haruslah disesuaikan dengan mood? Atau apakah Anda beranggapan bahwa menulis adalah sesuatu 'yang dapat dipaksakan'?
Saya menganut golongan yang kedua. Sekalipun ide melimpah ruah di kepala, tetapi jika menuruti hawa bermalas-malasan (yang mungkin ini lah yang tersamar sebagai 'mood'), tulisan itu tidak akan jadi. Mungkin akan tertulis satu dua kalimat pada Microsoft Word yang terbuka tapi draft itu tak terselesaikan dan mengendap begitu saja.

Jadi berapa banyak tulisan belum usai yang tersimpan dalam folder Anda?

Namun, tentunya, menulis bukanlah sekadar mengetik keyboard tanpa makna. Untuk menghasilkan tulisan yang berbobot, seorang penulis haruslah banyak membaca. Ya, membaca. Apa yang akan ditulis jika tak ada yang dibaca? Tentunya kualitas tulisan akan semakin meningkat seiring dengan banyaknya membaca. Setuju?

Andrea Hirata pada 24 Agustus lalu mengatakan bahwa untuk menulis novel yang berjudul "Padang Bulan", ia menghabiskan 4 (empat) tahun untuk melakukan riset, tetapi hanya 11 (sebelas) hari untuk menuliskannya. Tentu, membunyikan data riset menjadi novel merupakan hal yang berbeda dan memerlukan keahlian tersendiri. Menulis adalah suatu keahlian (skill) yang seseorang akan semakin mahir melakukannya semakin ia mengasahnya, bukan?

Karena itu, pembiasaan dan konsistensi dalam menulis adalah hal yang penting.

Jadi, mulai hari ini, saya bertekad untuk mencanangkan 'satu hari menulis dan satu hari membaca'. Untuk apa?

Lagi-lagi, mengutip Andrea Hirata yang saya temui tempo hari, "Menulis itu possibility, menulis itu fingerprint dan menulis adalah identity"

Karena harta yang paling berharga dalam menulis adalah Anda sendiri

Adakah yang ingin bergabung?

---

Catatan : Tekad satu hari membaca satu hari menulis (ini jumlah minimal, kalau bisa tiap hari membaca atau menulis tentu lebih bagus :p) dimulai hari ini 28 Agustus 2015 dan diakhiri jika merasa udah nggak mampu hehe

Bismillah ^^

Selamat Ulang Tahun, Luvvi!

Ngomong-ngomong, saya punya teman yang terus bareng dari TK. Yap, TK-SD-SMP-SMA sama. Kemudian, lanjut kuliah D3 di STAN, lulus dan ditempatkan di unit Eselon I yang sama. Lanjut lagi satu kantor di kantor pusatnya. Kemudian bareng lagi kuliah D-IV dan bareng pula ikutan BEM. Sayangnya, oh sayangnya, temen saya ini perempuan. Jadi saya nggak mungkin ngerasa ‘jodoh nih kemana-mana ada dia’ hahaha.

Walau udah bertahun-tahun bareng, berbagi cerita yang sama atau ngomongin orang-orang yang sama nggak bikin kami bebas dari ‘berantem’. Entah jutek-jutekan atau sindir menyindir. Haha. Namanya juga perempuan, sering lebih memakai perasaan *eh.

Tepat di tanggal 12 Agustus ini, usianya menginjak angka dua puluh enam. Saya sih nggak ngarep ditraktir sama dia mengingat dia juga sebenernya tipe orang yang beranggapan bahwa berputarnya kalender ke tanggal kelahiran menunjukkan berkurangnya jatah hidup di dunia dan nggak spesial-spesial amat juga. Tapi boleh dong, saya bikin tulisan ini sebagai salah satu pengingat akan temen lingkar satu yang saya punya.

Dia pintar. Kerapkali ia menduduki peringkat pertama dan memenangkan lomba. Mau pelajaran apa juga cepet nyambungnya. Selain itu, yang saya kagumi dari dia adalah masalah kerapian dan keteraturannya. Kamarnya kayaknya nggak pernah berantakan, juga tipe pekerja yang teliti dan tertata. Selain itu, pengetahuan agamanya juga luas, kami sering berdiskusi banyak tentang agama dan ia adalah lawan bicara yang menyenangkan. Orangnya juga nggak neko-neko.

We have so much memories. Mulai dari sekadar ngemal, ngerjain skripsi bareng, membahas masalah jodoh bareng (untung seleranya beda yes), hingga berbagi rahasia demi rahasia. Dia juga salah satu orang pertama yang bakalan saya telpon kalau ada apa-apa, yang rasa-rasanya udah nggak ada jaim-jaiman di antara kami.

So, Luvvi, stay fabulous. You are growing up mature, kind and lovely. Be yourself, and be the best version of you. I’m looking forward to share any other story with you. Yes, you!

Semoga Allah senantiasa memberkahimu dan memberikanmu kekuatan untuk menjadi Muslimah yang semakin sholihah dari hari ke hari. Semoga Allah segera persatukan dengan lelaki yang telah lama kau rindui. Dan semoga Allah ikatkan hati kita pada ketaatan dan kebaikan.

Uhibukki fillah

Tahniah