Monilando's

Life. Books. Traveling. Socmed

Wednesday, October 30, 2019

Yuk, Pelajari Bahasa Cinta Agar Hubungan dengan Pasangan Makin Bahagia



“Aduh aku kayaknya udah ngelakuin apapun buat istriku, tapi kok dia ngasih pujian aja engga pernah,” 
“Suamiku nggak pernah tahu apa yang aku mau, aku maunya dia ngerti walau aku nggak bilang apa-apa,”

Pernahkah merasa hal-hal seperti di atas? Bisa jadi terdapat gap komunikasi emosional di antara kita dengan pasangan. Cara seseorang mengekspresikan perasaan cintanya berbeda sehingga penting untuk mengetahui bahasa cinta kita dan juga pasangan.

Apakah bahasa cinta itu?


Istilah bahasa cinta (love languages) pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Gary Chapman, seorang ahli antropologi yang menulis buku best seller “The Five Love Languages”.

Bahasa cinta terdiri dari lima hal :

Pertama, affirmation yang bermakna pujian atau kata-kata yang menguatkan. Misalnya seperti pujian, “Terima kasih ya sayang sudah masakin aku rendang yang enak hari ini,” atau afirmasi, “Aku tahu kamu adalah perempuan yang kuat,”

Jangan sampai pasangan merasa, “Aku sudah mengurus rumah dengan baik setiap hari tapi suamiku tak pernah mengapresiasiku,”

Jika pasangan kita termasuk orang yang membutuhkan kata-kata yang menunjukkan bahwa ia dicintai atau berharga, jangan sungkan-sungkan untuk memberikan pujian atau kata-kata positif.

Kedua, acts of service atau layanan. Pendek kata, seseorang merasa bahwa ia dicintai apabila dilayani, pasangannya mau melakukan sesuatu untuknya.

Dapat berupa hal-hal seperti memijat kaki atau membantu pekerjaan rumah. Pasangan Anda percaya bahwa perbuatan lebih penting daripada kata-kata.

Ketiga, quality time atau menghabiskan waktu bersama. Perhatian Anda benar-benar terfokus hanya untuknya. Ia akan bahagia apabila sang pasangan mendengarkannya berbicara dengan penuh perhatian tanpa melihat ponsel.

Wednesday, October 23, 2019

Lima Keunggulan Pembayaran Zakat Secara Digital

Siapa yang bisa ketinggalan dompet tapi tak bisa ketinggalan ponsel pintar? Di zaman digital, semua kemudahan ada dalam genggaman. Misalnya dalam sebulan, kita menerima transferan gaji, membayar berbagai tagihan, menggunakan jasa transportasi daring dari rumah ke kantor, membeli makanan melalui jasa layanan antar, memesan tiket bioskop melalui aplikasi, berinvestasi digital, hingga melakukan pembayaran zakat/sedekah secara digital. Semua pembayaran tak perlu dilakukan dalam bentuk uang secara fisik : cukup melalui sms banking, mobile banking, internet banking, atau berbagai dompet digital seperti Gopay, Ovo, LinkAja hingga aplikasi perbankan digital seperti Jenius atau Digibank. Pendek kata, pembayaran digital memudahkan kehidupan. Setuju, kan?

Zakat Digital di Indonesia


Salah satu perkembangan teknologi yang sangat memudahkan adalah pembayaran zakat secara digital. Sebagai umat Islam, zakat merupakan sebuah rukun Islam yang wajib dilaksanakan. Secara umum, zakat dibagi menjadi dua kategori umum yakni zakat fitrah yang dibayarkan sebelum Idul Fitri dan zakat maal atau zakat atas harta yang dimiliki.

Di Indonesia sendiri potensi pembayaran zakat sangat luar biasa. Sebagaimana dikutip dari Katadata, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa potensi zakat mencapai 1,75 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia atau sekitar Rp 232 triliun. Namun, sayangnya, potensi tersebut belum optimal. Baznas mencatat bahwa zakat yang terkumpul sepanjang tahun 2018 hanyalah sebesar Rp8,1 triliun atau sekitar 3,5% dari potensi zakat.

Sumber data : Baznas, infografis oleh Monilando
Untuk mendorong optimalisasi pengumpulan zakat, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang merupakan merupakan badan pengelola zakat yang dibentuk oleh Pemerintah, melakukan berbagai upaya untuk memudahkan para muzakki (pembayar zakat). Salah satunya berupa pengembangan pengumpulan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) melalui layanan digital yang sudah dimulai sejak tahun 2016.

Upaya digitalisasi zakat di Indonesia tersebut menunjukkan sinyalemen positif. Hal itu ditunjukkan dengan peningkatan persentase pembayaran zakat secara digital dibandingkan keseluruhan pembayaran zakat dari tahun 2016 hingga tahun 2018. Pada tahun 2016 tercatat sebesar 1% pembayaran zakat dilakukan secara digital, sementara di tahun 2017 tercatat sebesar 12%, dan di tahun 2018 sebesar 18%.

Infografis diolah oleh Monilando

Wednesday, October 16, 2019

Ingin Liburan Makin Seru dan Ceria? Ayo Coba Traveloka Xperience Saja

Akhir pekan adalah dua hari yang membahagiakan. Setuju, kan? Terlebih untuk pegawai kantoran seperti saya yang selama lima hari berjibaku dengan setumpuk pekerjaan. Biasanya saya dan suami membagi menjadi satu hari untuk beres-beres rumah dan istirahat serta satu hari untuk liburan. Untuk liburan besar, kami mengagendakan dua kali dalam satu tahun, maklum membutuhkan cuti dan alokasi anggaran. Namun, setiap pekannya, harus ada agenda untuk menyegarkan pikiran. Tak perlu jauh-jauh, dalam kota Jakarta pun sudah ada banyak hiburan.

Apa Itu Traveloka Xperience?

Tak dapat dipungkiri, Jakarta menyediakan banyak pilihan untuk menikmati akhir pekan. Terkadang, kami sekadar cuci mata di mal, jalan-jalan di taman, atau makan di restoran. Nah, akhir pekan lalu kami ingin mencoba pengalaman baru yang lebih berkesan.

Melihat advertorial Traveloka Xperience di media sosial membuat saya penasaran. Jempol saya pun scroll Traveloka, salah satu aplikasi terpopuler di Indonesia dalam hal penyedia aneka rupa layanan perjalanan. Yuk, intip video perkenalan Traveloka Xperience (bersumber dari akun Youtube Traveloka) berikut :


Traveloka Xperience adalah salah satu fitur di Traveloka yang menyediakan layanan gaya hidup dan hiburan. Terdapat banyak sekali pilihan untuk membuat hari semakin menyenangkan. Saat ini, dua belas kategori terpampang dalam satu laman. Mulai dari pemesanan tiket bioskop, perawatan kecantikan di salon atau spa, hingga yang agak serius seperti kelas dan workshop, serta berbagai aktivitas dan kegiatan.
traveloka xperience
Sumber : Traveloka, infografis oleh monilando.com

Monday, September 30, 2019

Bagaimana Cara Agar Menjadi Orang yang Penuh Hoki?


Apakah Anda percaya bahwa manusia membuat nasib baik dan buruknya sendiri? Atau apakah Anda percaya bahwa ada manusia yang memiliki keberuntungan bagus (good fortune) sementara ada yang seringkali memiliki nasib sial?
Saya memiliki seorang teman, orang-orang memanggilnya ‘si bos’ lantaran ia terkenal memiliki tingkat hoki yang tinggi. Ia menyaksikan Piala Dunia 2014 di Brazil, menonton konser Rihanna di Paris, dan menjelajah berbagai negara di dunia secara cuma-cuma. Belum lagi, berbagai hadiah seperti laptop dan ponsel pintar spek tertinggi yang berhasil ia dapatkan. Semua ia peroleh dari memenangkan kuis demi kuis yang diselenggarakan di media sosial. Contoh dari betapa beruntung ia adalah ia mendapatkan ponsel terbaru hanya dengan meninggalkan komentar di sebuah foto produk tertentu, menjadi satu yang terpilih dari sepuluh ribu komentar yang ada pada kolom komentar produk tersebut.

Bagaimana ia bisa selalu hoki? Saya menanyakan apa amalan rahasianya. Dia tertawa.

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa keberuntungan terkait dengan hal-hal di luar kuasa manusia atau ada orang-orang yang dilahirkan untuk menjadi ‘beruntung’. Namun, sebuah riset ilmiah berjudul "The Luck Factor" yang dilakukan oleh Richard J. Wiseman, seorang profesor di bidang psikologi pada Universitas Hertfordshire, selama sepuluh tahun menunjukkan bahwa orang menciptakan keberuntungan atau ketidakberuntungannya sendiri. Kabar menggembirakannya adalah manusia bisa meningkatkan tingkat kehokian dalam hidupnya.

Bagaimana?

Lebih lanjut lagi, riset yang dilakukan oleh Profesor Wiseman menunjukkan bahwa orang-orang yang beruntung menghasilkan keberuntungan mereka sendiri melalui empat prinsip dasar.

Pertama, orang-orang yang beruntung cenderung pandai menyadari adanya kesempatan dan mampu memaksimalkannya. Orang yang beruntung cenderung lebih relaks dalam menjalani hidup dan terbuka terhadap pengalaman baru.

Kedua, orang-orang yang beruntung menciptakan keputusan yang mendatangkan keberuntungan dengan mendengarkan intuisi mereka. Mereka mengikuti firasat mereka dan melakukan hal-hal yang bisa meningkatkan kemampuan intuisi, seperti refleksi diri dan meditasi.

Saturday, August 10, 2019

7 Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan untuk Turut Menjaga Lingkungan




Tahukah kamu bahwa Indonesia merupakan negara produsen sampah plastik terbesar kedua sedunia? Tahukah kamu bahwa Indonesia merupakan negara produsen sampah makanan terbesar kedua sedunia?

Sampah merupakan salah satu permasalahan besar yang dihadapi dunia dewasa ini. Dampak negatif sampah bisa menyebar begitu luas, misalnya lingkungan yang tercemar, sanitasi yang buruk, terganggunya ekosistem laut, dan lain sebagainya. Komposisi sampah di Indonesia terdiri dari sampah organik sebesar 50%, sampah plastik sebesar Mirisnya, sebagaimana dikutip dari Kompas, dari seluruh timbulan sampah plastik tersebut, hanya sekitar 10-15 persen yang akhirnya didaur ulang. Sementara sejumlah 60-70 persen ditampung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan 15 persen-30 persen sisanya belum terkelola. Sampah plastik yang belum terkelola sebagian besar berakhir di lautan yakni sejumlah 8,8 juta ton sampah plastik setiap tahunnya.

Upaya menjaga lingkungan membutuhkan partisipasi aktif dari berbagai pihak seperti pemerintah, pengusaha, aktivis lingkungan, dan masyarakat. Berikut 7 hal yang saya coba terapkan dalam upaya turut menjaga lingkungan :

1. Konsumsi makanan secukupnya
Sebisa mungkin saya meminimalisasi stok makanan berlimpah di rumah. Bukan apa-apa, stok makanan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko dibuang. Jadi cukup stok makanan seperlunya yang kira-kira akan habis dikonsumsi. Selain itu, usahakan memasak atau membeli makanan dalam jumlah yang kira-kira pas untuk penghuni rumah untuk meminimalisasi makanan tersebut tidak termakan.

2. Beli kemasan dalam ukuran besar

Jika membeli suatu produk, upayakan untuk membeli produk dalam ukuran besar. Misalnya, membeli shampo dalam botol ukuran besar daripada ukuran sachet. Produk dalam ukuran kecil dapat menimbulkan lebih banyak sampah.

3. Membawa tempat makan dan minum sendiri
Tak ada salahnya jika kita membiasakan diri membawa kotak makan dan minum sendiri ketika membeli makanan atau minuman (sebagian toko yang menjual minuman memperbolehkan pembeli menggunakan tumbler pribadi). Hal tersebut dapat mengurangi sampah dari produk yang sekali pakai seperti tempat makanan atau minuman.