For The Sake of Quality

Tepat dua bulan mencoba menerapkan sehari menulis sehari enggak dan ya berhasil. Meski terkadang cuma kejar setoran hehe.

Setidaknya berhasil membangkitkan bara menulis yang terpendam.

Namun, saya tak terlalu puas dengan hasilnya dan banyak hal yang akan terjadi di November yang menyita waktu dan pikiran jadi saya memutuskan untuk tak lagi mengharuskan diri menulis satu postingan per dua hari mulai hari ini.

Semoga tulisan berikutnya lebih berkualitas dan semoga blog ini bisa diperbaharui secara berkala.

Serunya Menjelajah Flores Bersama Avanza

Terbayang nggak sih serunya perjalanan darat di sebuah pulau indah? Jauh dari hingar bingar ibukota, kanan kiri hanya pemandangan hijau dan hijau saja, dengan persinggahan setiap tempat wisata yang dilalui sepanjang perjalanan dari timur ke barat. Flores overland atau jelajah darat Pulau Flores adalah salah satu pengalaman tak terlupakan dalam hidup saya. Setahun lalu, saya dan keempat teman memulai perjalanan darat sembilan hari menelusuri Pulau Flores dimulai dari Maumere (hampir ujung timur Pulau Flores) menuju titik akhir di Labuan Bajo (ujung barat Pulau Flores). Dari Maumere menuju Labuan Bajo kami singgah di berbagai destinasi seperti Ende, Taman Wisata 17 Pulau Riung, Wae Rebo yang merupakan salah satu warisan Unesco, Ruteng hingga Taman Nasional Komodo.
Mengintip medan tempuh dari balik jendela Avanza
Berapa total jarak yang kami lalui dalam sembilan hari? Lebih dari lima ratus kilometer. Wow, terbayang kan jauhnya. Jangan dibayangkan jalanan yang lurus dan lebar ya! Jalanan yang kami lalui adalah jalanan penuh kelokan, terkadang menyempit dan harus bergantian antar mobil. Ganjarannya? Pemandangan yang luar biasa indah! Kalau ada yang beranggapan bahwa provinsi Nusa Tenggara Timur identik dengan ‘kering’, wah harus main ke Flores dulu lah. Kanan kiri pemandangan sabana dan sawah, hijau sejauh mata memandang. Belum ketika melintasi jalan lebar dengan bukit di kanan kiri, serasa menjadi lakon dalam sebuah film petualangan (ini serius).

Pemandangan sepanjang jalan kira-kira seperti ini 

Melintasi sabana
Melintas bukit
Hijau dimana-mana!

Konsisten Itu Susah?

Apa yang paling susah dari melakukan perbuatan baik? Memulai? Konsistensi?

Saya memilih konsistensi. Sudah tiga bulan mencoba untuk menulis satu postingan dalam dua hari. Ternyata tidak mudah. Bukan lantaran tak ada ide (alhamdulillah ide selalu ada saja) tapi banyak hal yang membuat untuk tidak konsisten.

Pertama adalah menunda-nunda. Tiap mengikuti lomba blog misalnya hampir selalu dipos di jam-jam akhir ditutupnya pendaftaran. Penyebabnya semata adalah ketika membaca tanggal waktu terakhir pengiriman selalu merasa bahwa waktu itu masih lama. Nyatanya? Ujung-ujungnya di akhir atau bahkan tak jadi ikutan. Menyedihkan.

Kedua, situasi dan kondisi yang kurang mendukung. Semisal jadwal rapat malam yang berentetan di kantor menguras energi dan waktu luang. Pulang dalam kondisi yang sudah amat lelah.

Ketiga, kurangnya motivasi. Tentu, Anda akan selalu menemukan waktu untuk apa yang benar-benar Anda suka bukan?

Jadi apakah konsisten itu susah? Hal apa yang ingin Anda lakukan secara konsisten?

The Not-Good-Enough Feeling

Sometimes i just suddenly stop at the point where i am

Aku tak tahu apakah perasaan ini wajar, yang kurasakan setiap hendak memublikasikan sebuah tulisan adalah "Is it good enough?"

Kadang aku merasa begitu rapuh. Terdiam di titik keberadaanku,mempertanyakan hasil dari upaya yang telah kulakukan. Apakah cukup bagus? apakah cukup pantas?

Dan kemudian aku meragu. Terkadang aku berputar arah, terkadang berhenti, terkadang diam bergeming.

Seringkali aku meyakinkan diriku untuk terus melangkah dan mengabaikan suara yang menyuruhku berhenti.
Because if you are not confident enough with yourself, then nobody will...

And i hope that i will be good enough for you

[Movie Review] 3 (Alif, Lam, Mim)

Bagaimana jika negara Indonesia menjadi negara liberal tanpa agama? Bagaimana jika negara dianggap sebagai sumber kekacauan?

Jakarta tahun 2036.Ketika hak asasi manusia merupakan hal yang didewakan, Indonesia menjadi sebuah negara liberal. Salat di tempat umum dianggap sebagai suatu hal yang aneh, taat beragama dianggap sebagai sebuah simbol kekolotan. Masjid berubah menjadi gudang, pondok pesantren diberangus, orang-orang yang menggunakan simbol agama dicap sebagai teroris. 

Adalah Alif (diperankan oleh Cornelius Sunny), seorang penegak hukum yang berupaya menjunjung tinggi keadilan. Kariernya yang cemerlang menjadi ternoda dengan tuduhan menggunakan peluru tajam, sesuatu yang dilarang di masa itu, tatkala ia berhadapan dengan sang kriminal. Ia bersahabat karib dengan Herlam (diperankan oleh Abimana Aryasatya), seorang jurnalis cerdas di kantor berita Libernasia. Suatu kejadian pemboman di sebuah kafe  yang diduga dilakukan oleh sekelompok orang berjubah membawa Alif kepada Mimbo (diperankan oleh Agus Kuncoro), sahabat karibnya ketika berguru di Pesantren Al Ikhlas bersama dengan Herlam yang kini menjadi pengurus pesantren tersebut. Konflik pertama dalam film ini adalah perseteruan antara dua sahabat, Alif dan Herlam, yang kini berada di dua kubu berseberangan.

Bisa dibilang, film berdurasi 122 menit ini bergenre action dengan efek visual yang keren. Pesan demi pesan religi dikemas secara bernas melalui dialog atau laku para tokoh. Tengoklah misal ketika Herlam sang jurnalis ditegur oleh bosnya lantaran melakukan salat sementara ia bekerja di sebuah media liberal yang melepaskan diri dari simbol agama. Ia menjawab, “Apa urusannya tulisan saya dengan salat?”

Atau ketika akhirnya Kyai Mukhlis pemimpin utama pondok pesantren dengan suka rela ‘menyerahkan diri’ dengan adanya surat penangkapan yang dibawa oleh Alif, ia mengatakan ketundukannya pada aturan negara. Pun ketika sang kyai memiliki kesempatan untuk ‘melarikan diri’ di tengah kacaunya suatu peristiwa, ia tak menggunakannya.

Apa Saja Penggunaan EYD yang Sering Diabaikan?



Pentingkah penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dalam penulisan blog? Bagi saya penting, kecuali penggunaan kata baku, agar tulisan tak terlalu kaku. Menurut saya, tulisan yang menggunakan EYD dengan baik dan  benar akan terlihat lebih rapi dan nyaman dibaca. Fungsi utama EYD sendiri adalah sebagai alat pemersatu dan menjadi tolok ukur bagi benar tidaknya pemakaian bahasa seseorang atau sekelompok orang.
 
Pada tulisan kali ini saya mau berbagi penggunaan EYD yang sering diabaikan dalam tulisan yang dipublikasikan di dunia maya :

1.  Penulisan kata dalam bahasa asing

      Penulisan kata dalam bahasa asing yang ditulis dalam artikel berbahasa Indonesia seyogianya menggunakan huruf cetak miring. Begitu juga halnya jika ingin ‘mencampur’ bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, contoh : di-handle.

2.  Penulisan di-  sebagai kata depan dan di- sebagai imbuhan

      Sederhananya, di- yang diikuti oleh nama tempat ditulis berspasi, sedangkan di- yang diikuti kata kerja ditulis menyambung (tanpa spasi). Contoh : di sekolah, di atas, ditulis, dibayangkan.

3.  Penulisan huruf kapital pada awal kalimat

      Sering saya jumpai penggunaan huruf kecil pada awal kalimat. Sepele nampaknya, tetapi sedikit mengusik kenikmatan membaca.

4.  Penggunaan huruf kapital

      Selain digunakan sebagai unsur pertama pada awal kalimat, huruf kapital digunakan untuk nama, nama gelar kehormatan dan huruf pertama nama jabatan yang diikuti oleh nama orang, huruf pertama petikan langsung, huruf pertama nama bangsa, dsb. Contoh : 1) Ayahnya bernama Haji Muhammad Ilyas, 2) Tahun ini ayahku menunaikan ibadah haji.

5.  Penggunaan tanda baca

  • Tanda baca dalam percakapan menggunakan tanda petik yang mengapit percakapan langsung. Sebelum tanda petik kedua, terdapat tanda baca (titik, koma, atau tanda tanya). Contoh : 1) ”Kapan kita sampai?” tanya Mila, 2) “Tunggu sebentar!” seru Dina.
  • Tanda titik (.) kadang terlewatkan di akhir kalimat.
  • Tanda koma sebelum kata sambung "dan" jika terdapat lebih dari dua hal yang dihubungkan. Misal : Barang bawaanya terdiri dari buku, pena, baju, dan sepasang sepatu. 
6.  Penggunaan kata yang mubazir

Misal : Walaupun hari hujan, tetapi ia tetap berangkat sekolah. Kita cukup memilih salah satu : walaupun atau tetapi

Tentu, keenam hal di atas di luar penggunaan kata baku (silakan cek di KBBI untuk lebih lengkapnya). Silakan dikoreksi ya jika dalam tulisan ini juga terdapat penulisan yang tak sesuai dengan EYD. Mari sama-sama belajar. Penggunaan EYD (selain penggunaan kata baku) rasa-rasanya tidak akan membuat tulisan menjadi kaku, justru akan membuat tulisan menjadi lebih rapi dan estetis. 

Anda setuju?

---

Diperbarui : Ejaan Yang Disempurnakan telah diubah menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)

---

KBBI daring bisa dilihat pada situs kbbi.web.id, ada juga KBBI dalam format PDF yang siap diunduh (silakan googling ya). Untuk penggunaan EYD sendiri bisa dicari di Google dengan kata kunci "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan"

Bisakah Kita Memiliki Musala yang Nyaman?



Musala (masjid) merupakan salah satu fasilitas publik yang seyogianya disediakan dalam memenuhi kebutuhan ibadah di negara berpenduduk mayoritas Muslim ini. Namun, sayangnya, sebagian musala umum tidak memberikan kenyamanan yang cukup untuk mengakomodasi kebutuhan ibadah. Sebut saja, lokasinya yang jauh di basement, kondisi yang tidak bersih, dan sebagainya. Sebagai seorang Muslimah yang sering bepergian dan menggunakan musala umum, kondisi tersebut sedikit banyak mengurangi kenyamanan beribadah. Berikut, kriteria musala yang nyaman menurut penulis :
1.         Lokasi
Rata-rata lokasi musala terletak nun jauh di pojok basement, memerlukan usaha ekstra untuk mencapainya. Lokasi musala ideal seyogianya berada di tempat yang cukup strategis, tidak susah dijangkau.

2.         Kebersihan
Pada salah satu musala di sebuah stasiun di Jakarta Timur, lokasi musala bersebelahan dengan toilet. Otomatis, aroma toilet mengganggu kekhusyukan sembahyang. Atau, tengoklah ketika mukena menghadirkan aroma yang tak ingin diindera. 

3.         Tempat wudu terpisah
Sebagian musala umum hanya memiliki satu tempat wudu, otomatis, hal tersebut menyulitkan jama’ah perempuan karena auratnya (tangan dan kaki) dapat dilihat secara terbuka. Memiliki tempat wudu terpisah dan tertutup merupakan salah satu kriteria musala yang nyaman.

4.         Ukuran
Sebagian musala umum memiliki ukuran yang kecil, tidak sebanding dengan kapasitas pengguna tempat umum tersebut. Misalnya di sebuah stasiun besar di Jakarta Pusat, ukuran Musalanya hanya bisa menampung sekitar dua puluh orang.

Nah, sebagai pengguna tempat umum, contoh musala umum (musala berarti tempat untuk salat ya) yang nyaman (bahkan bagus/lebih dari nyaman) menurut saya :
1.         Blok M Square
Diklaim sebagai tempat salat dalam mal terbesar. Diperkirakan sanggup menampung 6.000 jama’ah. Bahkan, terdapat miniatur Ka'bah juga lho. Terletak di atap Blok M Square.
Sumber : Kaskus
2.         Tanah Abang Blok A
Masjidnya bagus, lapang, dan nyaman. Setelah berlelah-lelang mengitari Tanah Abang, masjid ini pilihan yang tepat untuk beribadah sekaligus meluruskan kaki sejenak.
Sumber : Detik Travel
3.         Kota Kasablanka
Masjidnya cukup luas, lokasi cukup mudah dijangkau, bersih dan nyaman. Interiornya juga bagus. 

Yuk, berbagi info musala/masjid di tempat umum yang nyaman. Bagi saya pribadi, tempat ibadah yang nyaman memberikan nilai plus di tempat umum tersebut dan membuat betah dalam berkunjung. Menurut kamu?

The Bridesmaid Story


Today was Indri'd wedding and i was her bridesmaid. That picture taken several minutes before akad nikah

Islam Rahmatan Lil ‘Alamin : Ketika Religiusitas Selaras dengan Perdamaian


Hampir empat belas abad yang lalu, pada bulan suci Ramadhan, Rasulullah SAW beserta sekitar 10.000 pasukan Muslim menguasai kota Mekah. Peristiwa bersejarah tersebut terekam sebagai Fathu Makkah atau Pembebasan Kota Mekah. Syaikh Ramadhan Al Buthi mengisahkan dalam kitab Fiqhus Sirah bahwa Sa’ad bin Ubadah berkata kepada Abu Sofyan,  Hari ini hari berkecamuknya perang, hari ini dihalalkan hal yang disucikan, hari ini Allah akan menghinakan Quraisy!”
 
Syahdan, Rasulullah SAW menjawabnya, “Bahkan hari ini adalah hari kasih sayang. Di hari ini, Allah mengagungkan Ka’bah,”1

Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri dalam kitab Ar-Rahiq Al Makhtum  menarasikan bahwa Rasulullah SAW menjawab, “Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan (pemuka kaum Quraisy) maka ia selamat ”2

Kedamaian dan keamanan dirasakan oleh kaum Quraisy yang memerangi Rasulullah. Andai saja Islam tidak menjunjung tinggi kasih sayang antar sesama umat manusia, niscaya kala itu tertumpah darah kaum Quraisy. Namun, dengan kasih sayang dan sifat memaafkan dari Rasulullah, penduduk Mekah berbondong-bondong masuk Islam tanpa paksaan. 

Menebar Kasih Sayang untuk Semua : Bagaimana Perdamaian Diperintahkan

Dalam Islam, heterogenitas umat manusia merupakan suatu hal yang menjadi ketetapan Allah. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal…” (terjemahan Q.S. Al Hujurat:13). 

Tidak ada satu pun dalam ajaran Islam yang menyatakan bahwa bumi hanya dihuni oleh umat Islam saja. Hal tersebut menimbulkan suatu konsekuensi logis bahwa Islam memerintahkan pemeluknya untuk berbuat baik kepada semua makhluk, tanpa terkecuali. Allah akan menunjukkan belas kasih-Nya kepada mereka yang bermurah hati. Bermurah hatilah kepada penduduk bumi, maka penguasa surga akan bermurah hati kepadamu” (H.R. al-Turmudzi)

Frasa “penduduk bumi” menunjukkan bahwa perintah untuk bermurah hati diberikan tanpa membedakan  apa dan bagaimana penduduk bumi. Bahkan, selaras dengan perintah bermurah hati, perintah untuk berlaku adil diiringi larangan untuk memperturutkan kebencian, “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (terjemahan Q.S. Al Ma’idah:8)

Perbuatan baik dalam Islam tidak memandang atribut yang melekat pada seseorang. Rasulullah SAW bersabda, “Jibril senantiasa mewasiatkan aku untuk berbuat baik kepada tetangga sampai-sampai aku mengira ia akan mendapatkan warisan dariku” (Muttafaqun ‘alaihi). Kata ‘tetangga’ yang dirujuk secara umum merupakan sebuah indikasi yang kuat akan perintah Islam untuk menebar kasih sayang tanpa terkecuali. 

Berbuat Adil :  Satu Langkah Lebih Dekat dengan Perdamaian 

Jika keadilan merupakan sebuah prasyarat bagi terciptanya perdamaian, Islam telah mengaturnya secara tegas. Secara eksplisit, dikatakan bahwa Allah SWT menyukai orang-orang yang berlaku adil, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,”(terjemahan Q.S. Al Mumtahanah:8)

Jika harta merupakan salah satu pemicu mengenai persengkataan yang dapat mengusik perdamaian dalam keluarga, Islam telah mengatur tentang hukum Faraid (hukum waris). Pembagian harta dibuat dengan suatu ketentuan yang diharapkan mampu memberikan rasa keadilan. 

Jika keadilan hanya diperuntukkan bagi satu golongan tertentu, maka hal tersebut amat layak untuk dipertentangkan. Sebuah riwayat termahsyur dari Imam Al Hakim menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib, khalifah keempat sekaligus menantu Rasulullah SAW, kehilangan baju besinya pada saat terjadi perang. Kemudian, ia mendapati bahwa baju besinya ada di tangan seorang Yahudi. Singkat cerita Ali ra. berperkara di depan hakim dengan orang Yahudi tersebut. Lantaran Ali ra. tak mampu mengajukan dua orang saksi yang independen (ia memiliki dua orang saksi dan salah satunya adalah Hasan sang anak), maka hakim memutuskan menolak kesaksian Hasan dan memenangkan orang Yahudi dimaksud. Ali ra. dengan kelegawaannya menerima keputusan tersebut dan justru hal itulah yang membuat hati sang lawan tersentuh dan kemudian memeluk Islam. Keadilan harus ditegakkan, meski pemimpin yang berdiri di hadapan.

Tidak Ada Paksaan dalam Agama : Bagaimana Islam Mendorong Perdamaian 


Ia lah Muhammad Al Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Tatkala penduduk Konstantinopel memadati Gereja Hagia Sophia dengan ketakutan, Sultan Mehmed memberikan jaminan keamanan kepada para penduduk. Selain itu ia juga memerintahkan para pengawalnya untuk menjaga gereja, rumah dan tempat publik sipil. Tidak ada paksaan bagi penduduk kota taklukannya untuk memeluk Islam, seperti diterangkan pada ayat, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam),” (terjemahan Q.S. Al Baqarah:256)

Islam Bukan Sekadar Ayat Transendental

Islam bukan hanya sekadar berbicara tentang ayat transendental. Ia lah Islam yang mengatur bagaimana urusan sebesar tata negara dan roda pemerintahan harus dijalankan. Pun, ia mengatur bagaimana unit terkecil seperti hubungan antara dua manusia seyogianya dibangun. Islam bukan hanya sekadar ritual penyembahan Tuhan sebagai implementasi dari konsep Hablu Minallah (hubungan makhluk dengan Allah), melainkan juga bagaimana membina hubungan antar manusia. Kalimat nan kuat secara maknawi seperti “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir” diikuti dengan perintah untuk memuliakan tetangga dan tamu. Barangsiapa beriman kepada Allah & hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yg baik atau diam. Dan barangsiapa yg beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya,(H.R. Muslim)

Maka, berbicara perdamaian adalah berbicara tentang Islam. Islam adalah sebuah integrasi holistik mengenai ketuhanan sekaligus kemanusiaan. Islam rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) adalah tentang bagaimana universalitas dari nilai-nilai Islam mengejawantah dalam kehidupan sehari-hari. Islam adalah tentang menebar kebaikan, berbuat baik kepada semua makhluk, berperilaku adil, menciptakan rasa aman dan damai serta memberikan manfaat bagi semua. Tak diragukan, semakin religius seseorang maka semakin ia mencintai perdamaian, sebagaimana ia mencintai bagaimana Islam ada dalam dadanya. Semakin religius seseorang maka ia akan terdorong untuk semakin meneladani sang Nabi, Rasulullah SAW, yang menjunjung tinggi perdamaian di muka bumi. Semakin religius seseorang akan semakin terhentak lakunya untuk selaras dengan ajaran Islam, menjadikan Islam sebenar-benar rahmat untuk semesta.


“dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam, (terjemahan Q.S. Al-Anbiya: 107)

#70thICRCid 

----

Referensi :
1.  Sirah Nabawiyah oleh Muhammad Sa'id Ramadhan Al Buthy
2. Ar-Rahiq Al-Makhtum oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
3. Muhammad Al-Fatih 1453 oleh Felix Y. Siauw
4. http://hizbut-tahrir.or.id/2011/06/05/hukum-dan-peradilan-islam-menjamin-keadilan-dan-ketegasan-hukum/







When You Really Want Something

Pernahkah kamu merasa benar-benar menginginkan sesuatu? Yang kamu memimpikannya, mengangankannya dan benar-benar ingin memilikinya. Lalu, kemudian kamu mendapatkannya. Sesudahnya bagaimana?

When You Really Want Something and Yo've Finally Got It

Sumber gambar : Goodreads
(1) Bolak-balik ke Gramedia, saya benar-benar kesengsem dengan buku bersampul biru itu. The Economics Book, buku yang merangkum sejarah ekonomi dunia. Berbahasa Inggris dan dihargai sebesar Rp362 ribu, beberapa kali saya hanya meliriknya. Dengan nominal uang yang sama saya bisa mendapatkan hingga enam buku, belum apakah kemudian buku itu dibaca adalah pertanyaan berikutnya. Namun, setelah beberapa bulan saya menyerah, buku itu saya bawa pulang juga. Begitu terbayang-bayang betapa bagusnya buku itu, betapa bagus isi dan ilustrasinya. Saya sangat senang ketika membelinya, setelah puasa membeli buku sekian lama untuk satu buku.
Namun, apa yang terjadi? Hingga setahun kemudian, buku itu hanya terbaca beberapa halaman.

Sumber : Sedekah.net
 (2) Gaji saya waktu itu hanya Rp850 ribu per bulan. Berulang kali saya membayangkan betapa enaknya jika punya Al Qur'an sebagus The Miracle : berwarna, ada hadits dan doa yang terkait dengan ayat, cetakan bagus, dan sebagainya. Harganya Rp299 ribu. Hingga, akhirnya, setelah mendapatkan rapelan gaji saya membelinya. Saya sangat senang ketika itu, akhirnya memiliki apa yang selama ini saya idam-idamkan.
Selanjutnya? Al Qur'an itu hanya saya gunakan beberapa kali, saya lebih nyaman menggunakan Al Qur'an berukuran lebih kecil untuk keseharian.




Apakah Kita Lebih Menghargai Sesuatu yang Tidak (Belum) Kita Miliki?

Sesuatu itu terlihat begitu indah rupa
Sesuatu itu terlihat begitu menggoda
Sesuatu itu terlihat begitu memesona
Jika sesuatu itu masih sebatas pandangan mata

Begitu mengangankannya, begitu menginginkannya
Tetapi kemudian hanya membiarkannya

When You Really Want Something and You Haven't Got It (Yet)

Beberapa waktu lalu, teman saya yang baru saja menikah mengirimkan pesan : nikmati masa lajangmu. Ia menuturkan bahwa dengan menikah itu artinya banyak hal yang akan dikorbankan, misal ego pribadi dan waktu luang. Belum lagi perjuangan demi perjuangan yang akan dilakukan. Semua ada masanya, katanya, nikmati apa yang ada sekarang. Ketika single memiliki masalah sendiri, ketika berkeluarga akan ada masalah lainnya. Yang terbaik adalah mengupayakan semaksimal kemampuan dan bersyukur. Ya, bersyukur agar nikmatnya ditambah.

Mungkin upaya perlu diperkeras, dengan doa seiring hela nafas. Atau samudra sabar perlu diperluas, tawakal usai lelah menghempas. (Tak hanya tentang jodoh ya)

Allah tak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya bukan? Pun, ia pasti akan memberikan yang terbaik. Pasti.


When you really want something, ask Allah, ask Allah, ask Allah...




Tuhan, Aku Menyerah

: kepada Tuhan yang menguasai jiwa ragaku

Tuhan, aku menyerah
membiarkan air mata menumpah ruah
lemah berpeluk pasrah

aku hanya seonggok daging yang Kau beri akal
serta nafsu duniawi yang kerapkali membuatku terjungkal
ayat-ayat Qur'an banyak yang tak ku hafal
dosa-dosa menjulang berujung sesal

gelap, Tuhan
masa depan
aku tak tahu bagaimana kelak takdir yang Kau berikan
aku tak tahu manakah jalan-jalan yang bermuara kebaikan
gelap, Tuhan
betapa ramai pikiran, pilihan demi pilihan berseliweran
betapa kelam ketakutan

Tuhan, aku tak mampu
untuk tak menaatimu
walau kerapkali laku menipu hati kecilku
aku ini hamba-Mu

Tuhan, pilihkan
Tuhan, limpahkan
Tuhan, ampunkan
Tuhan.....

Aku menyerah
izinkan jiwa dan ragaku berserah
lingkupi aku dengan semesta berkah
lindungi aku dengan gelisah tak berarah

tanpa-Mu, aku sungguh menyerah