Cara Memasak Nasi dengan Kompor Gas

cara memasak nasi mudah

Cara memasak nasi dengan kompor gas mudah dilakukan. Di zaman serba elektronik seperti sekarang, memasak nasi seringkali dilakukan dengan rice cooker. Tinggal colokkan rice cooker ke stop kontak dan ceklek. Namun, bagaimana jika listrik mati dan sudah keburu lapar? Nah, tak ada salahnya jika kita mengetahui cara memasaknasi dengan kompor gas, apalagi cara ini simpel dan juga mudah dilakukan.

Memasak nasi dengan kompor gas dapat dilakukan dengan cara mengukus menggunakan dandang. Bagi yang belum tahu, mengukus adalah cara mengolah bahan pangan melalui pemanasan menggunakan uap air mendidih dalam wadah tertutup. Cara ini diajarkan oleh Mama. Hingga sekarang di rumah, Mama masih memasak nasi dengan dikukus meskipun sudah ada rice cooker.

Alat yang dibutuhkan adalah dandang sebagai alat pengukus dan rantang stainless steel untuk tempat beras/nasi. Selain rantang bisa juga menggunakan wadah lain berbahan stainless steel atau kayu, tentu asal masuk ke dalam dandang tersebut ya.

Bagaimana langkah-langkahnya?

Pertama, cuci beras hingga bersih alias tidak keruh. Saya biasanya mencuci beras sebanyak maksimal tiga kali agar vitamin dalam beras tidak hilang.

Kedua, masukkan beras yang telah dicuci bersih dalam rantang. Maksimal hingga setengah rantang saja karena beras akan mengembang.

Dilarang Sombong di Madinah

Kamu harus menjaga kata-kata di kota suci Mekah dan Madinah, begitu pesan teman-teman yang sudah umroh sebelumnya ketika saya meminta nasihat sebelum menjejakkan kaki di Saudi. Hari menunjukkan pukul 10 malam waktu Madinah ketika kami sampai di hotel Grand Oasis.

“Besok Subuh langsung di Masjid Nabawi ya. Lurus mentok, belok kanan mentok sudah masjid,” begitu kira-kira pesan Ustadz Bakir, muthowif (pembimbing) kami. “Besok langsung aja ya berangkat sendiri-sendiri,”

Ah, gampang lah, pikirku. Lurus mentok, belok kanan mentok. Paket internet ada, tinggal buka Google Maps kalau bingung. Kalaupun nyasar, kemampuanku berbicara dalam Bahasa Inggris bisa diandalkan, Bahasa Arab bisa juga sedikit-sedikit. 

Sungguh saya merasa percaya diri pada saat itu. 


***


Waktu Subuh di kota Madinah sekitar pukul 5.45. Saya bersama dengan adik Muthia, dan Papa menuju Masjid Nabawi sekitar pukul 5.15. Shaf perempuan sudah penuh. Alhamdulillah, saya dan Muthia masih kebagian shaf paling belakang yang masih berada di dalam masjid. Sebisa mungkin kami tak sholat di halaman masjid. 

Kami berdua  janjian bertemu Papa di depan Gate 15 sebelum kembali ke hotel. Pukul 07.30 kami harus sudah siap di lobi hotel karena rombongan jama’ah akan bersama-sama menuju Raudhah. Kami meninggalkan Masjid Nabawi ketika langit masih gelap, matahari belum terbit. 

Tiba-tiba Muthia nyeletuk,”Wah, pengen deh liat sunrise, Mbak. Bagus pasti ya,” 

Saya mengangguk. Siluet Masjid Nabawi dalam balutan sinar matahari pagi pasti indah.

Sekian menit kami bertiga berjalan, kami mendadak bingung. “Eh tadi darimana kita ya? Ini kita belok kiri, kanan, apa lurus?”

Refuse-Derived Fuel, Harapan Energi Terbarukan Masa Depan

Persoalan sampah kian hari semakin membuat resah. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan bahwa di Indonesia pada tahun 2020 terdapat 67,8 juta ton timbunan sampah. Jumlah sampah tersebut masih akan terus bertambah.

Secara garis besar, sampah terbagi menjadi dua : organik dan anorganik. Sisa makanan merupakan sampah organik terbesar. Adapun sampah anorganik terbanyak berasal dari plastik.

Permasalahan sampah makanan di Indonesia mengkhawatirkan. Berdasarkan laporan The Economist Intelligence Unit pada tahun 2016, setiap tahunnya setiap orang di Indonesia membuang 300 kilogram makanan. Indonesia merupakan negara penyumbang sampah makanan nomor dua dari seluruh negara di dunia.

Urusan sampah plastik tak kalah mengusik. Greenpeace Indonesia menyebutkan bahwa setiap tahunnya Indonesia memproduksi 64 juta ton sampah yang mana sebanyak 16 persen dari jumlah tersebut merupakan sampah plastik. Indonesia menempati urutan kedua di dunia sebagai negara penyumbang sampah plastik ke lautan.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan oleh Journal Science pada Juli 2020 lalu disebutkan bahwa pada tahun 2040 diperkirakan sejumlah 710 juta ton sampah plastic akan mencemari lingkungan. Jika tak ada upaya luar biasa maka diprediksikan pada tahun 2050 polusi menjadi dua kali lipat sebagai dampak dari sampah plastik yang tak tertangani secara tepat.

Jika tidak dipikirkan dengan matang, urusan sampah akan mengancam masa depan. Sampah tak hanya mencemari daratan, tetapi juga bermuara ke lautan. Permasalahan sampah tak hanya tentang lingkungan. Sampah yang tak terkelola dengan baik dapat membahayakan kesehatan. Tak kalah penting, terdapat pula permasalahan ekonomi dan yang ditimbulkan.

Oleh karena itu, persoalan sampah harus diatasi dengan sebuah terobosan. Perlu cara yang tak biasa agar urusan sampah tak menjadi polemik berkepanjangan.

Peluang Bisnis Minim Modal : Penyelenggara Kelas Daring

peluang bisnis hemat



Peluang Bisnis Minim Modal - Pandemi memunculkan kebiasaan baru yang menggeser kebiasaan lama. Belajar dan bekerja dapat dilakukan di rumah saja. Pertemuan tak lagi dilakukan secara tatap muka. Semua orang seolah mendadak akrab dengan Zoom, sebuah aplikasi konferensi video yang ketiban pulung lantaran wabah Corona. Pendapatan Zoom melesat hingga lebih dari dua kali lipat pada kuartal pertama tahun 2020 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dalam satu hari, Zoom mencetak rekor unduhan hingga lebih dari dua juta.

Pergeseran sosial di masyarakat ini memunculkan peluang. Berbagai penyedia kelas daring bermunculan bak cendawan di musim hujan. Sebut saja Skill Academy oleh Ruang Guru. Meski sudah diluncurkan pada bulan September 2019, Skill Academy menemukan momentum emasnya ketika pandemi. Tanggal 23 Maret 2020, Skill Academy dengan jeli memberikan promo untuk mengikuti kelas gratis selama dua pekan. Tentu tak luput juga kelas pra kerja yang memunculkan penyedia jasa kelas daring yang baru terdengar namanya.

Perkenalan pertama saya dengan aplikasi Zoom pada bulan September 2019, jauh sebelum pandemi. Waktu itu, saya mengikuti sebuah lokakarya gentle birth secara daring dan luring untuk menyambut kedatangan buah hati. Dari Klaten, sebuah kota kecil di Jawa Tengah, sang bidan memberikan pelatihan kepada puluhan ibu hamil agar bisa melahirkan dengan aman dan nyaman melalui aplikasi Zoom. Wah asyik juga ya aplikasi Zoom ini, begitu pikir saya saat pertama menggunakannya.

Belajar secara daring memiliki berbagai keunggulan. Yang pertama, tak perlu menguras energi dan waktu untuk perjalanan menembus kemacetan. Tak perlu juga mengeluarkan biaya transportasi. Bagi ibu-ibu, kelas daring artinya kelas yang bisa dilakukan sembari mengasuh anak. Suatu tugas mulia yang kerap kali menjadi tantangan untuk belajar.

Pembelajaran daring bisa dilakukan melalui berbagai platform. Bisa melalui situs penyedia berbagai kelas daring seperti Skill Academy yang menyediakan video pembelajaran atau Zoom untuk pembelajaran yang bersifat satu kali pertemuan. Bisa juga melalui grup Whatsapp atau telegram dengan pembelajaran melalui video, pesan suara, hingga bahan tayang.

Sebagai seseorang yang sangat sering mengikuti seminar dan kelas baik secara daring dan luring, saya bisa mengatakan bahwa bisnis penyedia layanan belajar ini sangat menggiurkan, terutama kelas daring. Pada bulan Mei 2019 saya mengikuti sebuah kelas pemberdayaan diri melalui grup Whatsapp. Kelas saya berisi hampir dua ratus orang, ada 16 kelas untuk satu angkatan, per orang membayar 250 ribu rupiah. Mari berhitung. Dengan asumsi satu kelas 150 orang, 16 kelas, 250 ribu per peserta maka penyedia jasa mendapatkan penghasilan sebesar 600 juta rupiah. Angka yang sangat fantastis, bukan?

Resep Masakan Praktis dan Enak : Sliced Beef Ala Yoshinoya


Resep Sliced Beef Ala Yoshinoya - Ingin masak enak tapi malas rempong? Tenang, kali ini saya mau bagi resep masakan andalan sebagai seorang ibu bekerja. Resep kali ini sangat simpel tapi tentu saja enak dan bergizi. Yap, resep sliced beef ala Yoshinoya.

Hanya dengan lima langkah mudah, masakan lezat sudah terhidang di meja.

Bahan Masakan :

  • Sliced beef 500 gram (biasanya saya beli online di Tokopedia/Shopee). Bisa untuk dua orang, dua kali makan atau untuk dua orang satu kali makan jika ingin porsi daging lebih banyak. 
  • Kikkoman soy sauce/teriyaki (sesuai selera). Sudah ada halal MUI
  • Bawang bombay 1 buah, iris tipis-tipis
  • Sayuran (wortel, iris tipis/jagung manis pipil)
  • Paprika (opsional)
  • Gula secukupnya

Matinya Kepakaran : Mengapa Orang Awam Berani Berkoar di Media




Review Matinya Kepakaran - Penyanyi Anji membuat gaduh dunia jagad maya. Di tengah perjuangan para tenaga kesehatan menjadi garda terdepan melawan pandemi Coronaavirus Disease-19 (Covid-19) dan masih tingginya kasus positif Corona di Indonesia, pernyataan Anji bahwa Corona tidak semenakutkan itu sungguh kontradiktif. Anji bisa jadi merupakan seorang yang jenius di bidang musik, tapi di bidang kesehatan ia merupakan seorang awam, dalam arti tidak memiliki kompetensi keilmuan atau jam terbang pengalaman yang memadai.

Namun, mengapa seorang awam berani berkoar-koar sesuatu yang bukan keahliannya?

Tom Nichols menyajikan ulasannya secara apik dalam buku berjudul The Death of Expertise (telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Matinya Kepakaran). 

Internet adalah tersangka utama dari perubahan pada masyarakat. Internet mengubah cara masyarakat membaca dan berpikir menjadi lebih instan.

Pada zaman Internet yang sangat mudah diakses seperti sekarang, kita kerap kali kesulitan untuk menelusuri mana informasi yang benar dan mana yang palsu. Internet memungkinkan semua orang untuk menemukan sumber yang mendukung apapun opini seseorang, tak peduli betapa tidak ilmiahnya opini tersebut. Akibatnya, orang menjadi merasa lebih berdaya untuk menyuarakan opininya.

Nah, apa yang lebih buruk dari hal tersebut? Orang biasa mungkin tidak memiliki basis massa yang banyak atau jangkauan menyuarakan pandangannya secara luas. Namun, bagaimana jadinya jika selebritis atau tokoh terkenal yang mempromosikan informasi yang salah? Tentu, akibatnya jauh lebih masif.

Pertanyaannya, mengapa manusia bisa percaya pada argumen yang salah dan begitu percaya diri dengan pandangannya?

Informasi berlimpah yang bisa ditemukan hanya dengan menggeser layar gawai mendukung orang memiliki sumber untuk berdebat mengenai apapun, mulai dari hal yang ringan seperti film hingga teori ilmu alam. Ketiadaan latar belakang pendidikan formal tidak menurunkan kepercayaan diri orang yang hanya didukung beberapa artikel lantas mereka merasa menguasai sebuah persoalan. Itulah mengapa banyak perdebatan yang memicu keributan di dunia maya.

Penyebab Orang Percaya pada Argumen yang Salah


Kabar buruknya, kita memiliki sifat manusiawi yang membuat kita percaya pada argumen yang salah.
Ketika ditelisik lebih lanjut, baik para ahli maupun orang awam, memiliki kecenderungan untuk percaya pada argumen yang salah. Setidaknya terdapat dua penyebab kecenderungan manusia memercayai argumen yang salah. Pertama, apa yang disebut dengan the Dunning-Kruger Effect dan kedua, bias konfirmasi (confirmation bias).


The Dunning-Kruger Effect


Pada tahun 1999, David Dunning dan Justin Kruger, psikolog dari Universitas Cornell mengemukakan bahwa orang yang kurang memiliki keahlian justru tidak menyadari bahwa mereka tidak kompeten. People don’t know that they don’t know.

Pendek kata, the Dunning-Kruger Effect merupakan sebuah bias kognitif yang membuat orang terlalu percaya diri akan pengetahuannya, khususnya malah di area yang kurang mereka kuasai. Penyebabnya adalah kurangnya kesadaran atas proses berpikir seseorang yang menyebabkan mereka malah ngeyel atas opini yang mungkin jelas-jelas salah.


The Dunning-Kruger Effect 

Pandemi, Momentum Perkuat Ketahanan Pangan


Sebagaimana lazimnya penduduk Pulau Dewata, Dek Didi menggantungkan hidup pada pariwisata. Namun, laiknya parasailing yang terbang tinggi lalu kembali ke bumi, pandemi Covid-19 memaksa Dek Didi memutar haluan demi mengisi periuk nasi. Ia kembali ke akarnya sebagai seseorang yang lahir dan besar di daerah produsen sayur. Dengan jeli, ia membuat sebuah aplikasi pertanian yang menghubungkan petani dengan calon pembeli.

Dek Didi adalah contoh kaum muda yang mengakrabi pertanian pasca pandemi. Meski tak lebih menguntungkan dibandingkan pariwisata, jelas pertanian jauh lebih memiliki daya tahan. Manusia bisa hidup tanpa jalan-jalan tapi tak ada yang bisa hidup tanpa makanan, bukan?

Sumber gambar : Unsplash

Tangguhnya sektor pertanian dibuktikan dengan meningkatnya nilai ekspor pertanian pada April 2020 yang tumbuh sebesar 12,66 persen secara tahunan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertanian merupakan satu-satunya sektor yang mencatat pertumbuhan nilai ekspor. Artinya, pertanian masih digdaya di tengah pandemi.

Peningkatan sektor ekspor pertanian tak lepas dari peningkatan permintaan pangan global sebagai efek penurunan produksi pangan di sejumlah negara lantaran kebijakan lockdown. Food and Agriculture Organization (FAO) telah memperingatkan tentang ancaman kelangkaan pangan di masa pandemi. Untuk itu, FAO mengimbau agar setiap negara menjaga kelancaran rantai pasokan pangan.

Kita boleh sedikit berbangga akan tinggi ekspor pertanian. Namun, mirisnya, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) dan Insititut Pertanian Bogor memperingatkan Indonesia tentang ancaman krisis pangan.

Bagaimana bisa terdapat ancaman krisis pangan sementara terdapat peningkatan ekspor sektor pertanian?

Perencanaan Keuangan untuk Generasi Sandwich : Penting Banget

perencanaan keuangan generasi sandwich


Kamu mau beli rumah di mana? Rumah makin mahal loh kalau nggak buru-buru ambil KPR?

Pertanyaan seperti itu beberapa kali dilontarkan teman setelah saya menikah. Jamaknya pengantin baru langsung mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR), bahkan sebagian orang belum mau menikah jika belum memiliki rumah.

“Ya, lagi nabung dulu,” jawab saya singkat.

Rasa-rasanya kami tak perlu menjelaskan kepada orang-orang bahwa kami memiliki kewajiban moral untuk membantu orang tua meski mereka tidak pernah meminta.

**

Baru saya sadari bahwa memiliki orang tua yang tak perlu dibantu secara finansial adalah sebuah privilese. Pada waktu saya lulus kuliah, teman kampus saya banyak yang segera menikah. Resepsi pernikahan yang meriah. Rumah yang nyaman ditempati meski tak mewah. Uang siapa? Sebagai pegawai negeri dari sekolah kedinasan, nominal gaji sudah pasti sekian rupiah.

Obrol punya obrol dengan beberapa teman, pernikahan mereka dibiayai orang tua. Rumah yang dihuni merupakan pemberian atau pinjaman yang boleh dibayar kapan saja. Setidaknya uang muka pembelian rumah sudah disediakan orang tua, mereka tinggal mencicil seketika gaji tiba. Gaji mereka utuh untuk keperluan mereka, toh orang tua tak butuh.

**

Literasi keuangan masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNILK) tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan, indeks literasi keuangan berada pada angka 38,03 persen. Adapun indeks inklusi keuangan mencapai 76,19 persen. Indeks literasi keuangan menunjukkan tingkat pemahaman keuangan masyarakat sedangkan indeks inklusi keuangan menunjukkan tingkat akses masyarakat atas produk dan layanan jasa keuangan.

7 Pertanyaan yang Perlu Diajukan Ketika Ta’aruf




“The right question is usually more important than the right answer.” (Plato)

Ta'aruf - Bagaimana kamu yakin bahwa dia adalah jodohmu? Bagaimana kamu tahu bahwa seseorang adalah orang yang tepat untukmu? Kalau kamu pacaran, mungkin kamu memiliki waktu yang lama untuk mencari tahu. 

Namun, jika kamu memutuskan untuk ta’aruf, apalagi dengan orang yang sama sekali tidak kamu kenal sebelumnya, apa yang harus kamu lakukan agar kamu tidak membeli kucing dalam karung?

Bayangkan kamu duduk di sebuah ruangan bersama seseorang yang tak pernah kamu kenal sebelumnya, dengan perantara di antara kalian. Kamu sudah membaca CV ta’aruf yang disampaikan oleh bakal calon pasanganmu dan dia juga dia telah membaca CV kamu. Lalu, kalian dipertemukan. Ini adalah kesempatanmu untuk mengenal lebih lanjut tentang sosoknya. Kamu memiliki waktu, katakanlah 2-3 jam untuk kemudian memutuskan apakah ta’aruf bisa dilanjutkan menjadi khitbah atau cukup disudahi. Bisa jadi ini adalah satu-satunya kesempatanmu.

Apa saja yang akan kamu tanyakan? Pertanyaan-pertanyaan apa yang bisa memberikan jawaban yang meyakinkanmu untuk berkata ya atau tidak atas kelanjutan ta’aruf?


Dalam konteks ta’aruf, kira-kira mengapa kamu harus menanyakan pertanyaan yang tepat?

Karena pertanyaan yang tepat akan bisa memvalidasi.

Benarkah ia adalah orang yang tepat untukmu? Benarkah kamu adalah orang yang tepat untuknya? Benarkah kamu dan dia bisa menjadi dua orang yang beriringan bersama dalam menjalani kehidupan?

Jadi, apa saja pertanyaan yang perlu kamu tanyakan ketika ta’aruf?

Jangan ta’aruf dengan tangan kosong

Sebelum kamu mengajukan pertanyaan ketika ta’aruf, jangan ta’aruf dengan tangan kosong. Kamu harus mengidentifikasi kebutuhan dan keinginanmu dengan menetapkan kriteria pasangan yang kamu mau dan mengidentifikasi rumah tangga seperti apa yang kamu inginkan.

Mengapa? Agar kamu bisa fokus dan memudahkanmu melakukan filter.

Misal, kamu memiliki kriteria utama suami yang sholat 5 waktu berjama’ah di masjid, tidak merokok. Itu akan menjadi panduanmu ketika ta’aruf. Semisal, bakal calon pasangan tidak memenuhi kriteria itu. Ya sudah, jangan lanjutkan jika memang hal tersebut tidak ada pada bakal calon pasangan.

Kamu ingin rumah tangga yang bersama-sama menjadi penghafal Al Qur’an. Kamu bisa menanyakan bagaimana pandangannya tentang hal tersebut.

Setelah menentukan kriteria utama pasangan dan rumah tangga yang kamu inginkan, silakan siapkan pertanyaanmu ketika ta’aruf. Apa saja?

Pertanyaan Penting Ketika Ta’aruf



Saya membaginya menjadi tujuh jenis pertanyaan :

Pertama, AGAMA
Wanita dinikahi karena 4 hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, maka kalian akan beruntung.” (H.R. Bukhari)



Penjual yang Tidak Mau Dibeli Dagangannya


Seumur-umur baru sekali saya menemukan penjual yang ‘tidak mau’ dibeli dagangannya. Pak Ahmad Arya namanya, seorang penjual kacamata yang kerap wira-wiri di lingkungan kantor.

Alkisah, pada suatu waktu saya memesan kacamata ke beliau. Setahun berlalu, saya ingin mengganti kacamata dengan model yang lebih kekinian.


“Pak, saya mau pesen kacamata dong Pak, Bapak datang ya ke kantor,”

Tapi, apa kata beliau?

“Aduh Bu, saya kira kacamatanya rusak. Ini kenapa mau diganti?”

“Ya nggak papa Pak, pengen ganti aja, udah setahun,”

Kalau enggak rusak, jangan diganti bu. Sayang. Kacamata mah bisa sampai tiga tahun lebih,”

Gagal. Saya nggak jadi ganti kacamata pada waktu itu. Beberapa bulan kemudian, saya ingin memiliki kacamata cadangan, baru lah si bapak mau menjual barang dagangannya ke saya.


Lalu, frame kacamata baru itu patah. “Pak, saya beli kacamata baru ya Pak,
“Nggak usah bu. Saya ganti frame-nya aja,”

Beberapa hari kemudian beliau membawa frame kacamata baru dengan lensa kacamata lama.

Biayanya? Seperlima kacamata baru saja.

Beberapa waktu kemudian, lensa saya tergores, lapisan kacamatanya rusak (tandanya adalah pudarnya semacam warna pelangi pada lensa). Saya pun ingin mengganti baru, “Pak, saya ganti kacamata ya Pak. Lensanya tergores nih,”

7 Tips Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi




Tips menjaga kesehatan mental - Pandemi Corona Virus Disease-2019 (Covid-19)/virus Corona mengubah banyak hal dalam aspek kehidupan pada tahun 2020 ini. Dari aspek finansial, Covid-19 menyebabkan turun bahkan hilangnya sumber pendapatan bagi banyak orang. Pandemi ini juga menyebabkan para pekerja harus bekerja dari rumah, para murid harus belajar dari rumah, dan masyarakat terkena pembatasan sosial skala besar. Rapat virtual jauh lebih melelahkan dan berdiam diri di rumah berbulan-bulan membosankan. Tak mengherankan apabila situasi serba tak pasti yang berlangsung dari Maret 2020 ini meningkatkan kecemasan bagi sebagian orang.

Penting sekali untuk menjaga kesehatan fisik dan mental di masa sulit ini. Menjaga pola makan dan berolahraga adalah upaya untuk menjaga kesehatan raga. Nah, bagaimana tips menjaga kesehatan jiwa selama pandemi?

Stop mengkonsumsi berita negatif

Pada masa awal pemberitaan Corona di Indonesia, setiap hari saya menunggu pak Achmad Yurianto mengumumkan berapa jumlah orang yang positif Corona atau meninggal. Tanpa disadari hal tersebut menyebabkan tingkat kecemasan saya meningkat drastis. Tidur terganggu dan bayangan “bagaimana jika saya terkena Corona?” membuat hidup tak tenang.

Saya berpikir tak sehat juga jika dibiarkan. Akhirnya, saya pun berhenti mengkonsumsi pemberitaan terkait Corona, saya tak mau mengikuti perkembangan data terkait pasien Corona lagi. Toh, tak ada gunanya selain memuaskan rasa ingin tahu saja.

Jika dirasa perlu, pada level ekstrem, jangan meng-klik pemberitaan apapun tentang Corona. Berita negatif bisa masuk ke pikiran hingga alam bawah sadar.

Fokus pada apa yang bisa kita kontrol

Melihat keramaian masyarakat di pusat keramaian seolah mengabaikan penyebaran virus, saya merasa sedikit emosional. Namun, kita tak bisa mengkontrol orang lain bukan? Yang bisa kita lakukan adalah fokus pada apa yang bisa kita kontrol.

Hal-hal yang bisa kita kontrol antara lain asupan gizi, pikiran, ikhtiar menjaga kebugaran, dan tentu saja di atas itu segala ikhtiar adalah doa.

Jaga kondisi fisik

Ada istilah mens sana in corpore sano atau di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Kondisi fisik dan jiwa saling terkait. Olah raga tak harus dilakukan di luar rumah tetapi latihan fisik sederhana bisa dilakukan di rumah. Misalnya, melakukan stretching sederhana, yoga, atau zumba dengan dipandu dengan video yang ada di Youtube.

Tips Traveling ke Golden Triangle India




Traveling ke India - Traveling ke India itu seru. Kenapa? Karena ada saja drama yang ditemui sepanjang perjalanan. Nggak percaya? Setidaknya begitulah pengalaman saya dan suami selama sembilan hari di New Delhi, Jaipur, dan Agra. Tiga kota yang disebut sebagai Golden Triangle India. Setelah postingan Traveling ke Golden Triangle India yang lebih membahas tentang tempat-tempat yang kami kunjungi, kali ini saya mau berbagi tips traveling ke India agar perjalanan lebih menyenangkan dan bisa mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.
Sebelum ke India, teman saya yang sudah dua kali ke India memperingatkan bahwa di India banyak scam agar saya lebih waspada.
Alhamdulillah, bulan madu kami di India pada bulan April 2019 lalu berjalan lancar. Hati-hati itu harus tapi tentu tetap menikmati perjalanan.
Apa saja tips jalan-jalan ke India? Yuk, check it out!

Install aplikasi Uber atau Ola
Uber di India seperti taksi, semua seragam berwarna putih. Uber membantu untuk memperkirakan tarif perjalanan (misal selanjutnya mau naik tuktuk/sebutan untuk bajaj di sana). Jadi, misal tarif uber 60 rupee (sekitar 12 ribu rupiah), kalau dimahalin ya bisa memperkirakan biar tak terlalu jauh selisihnya. Ohya, Uber ada di Delhi, Jaipur, Agra. Hanya saja di Agra tempo hari agak susah mendapatinya. Selain Uber ada juga aplikasi Ola.

Bajaj dan uber di India (dok. pribadi)

Hindari Street Food
Hindari street food mengingat higienitasnya kurang terjamin (lalat bertebaran di mana-mana). Kami hanya beli makan di tempat makan tetapi ya begitulah masih saja kena diare karena mencari tempat makan yang benar-benar higienis agak susah di India. Namun, kalau mau mencoba ya tidak apa-apa jika memiliki ‘ketahanan perut’ yang cukup tinggi. Lebih baik juga kalau kita sedia obat diare.

Mata Minus Tinggi Melahirkan Normal, Bisa?



“Kalau minus tinggi nggak bisa lahiran normal, nanti retinanya bisa robek,”

Dari semenjak belum bertemu jodoh, beberapa orang sudah mengatakan kalau perempuan dengan mata minus tinggi tidak bisa melahirkan normal. Harus operasi caesar karena dikhawatirkan retina lepas akibat mengejan pada proses persalinan normal. Karena itu sebagai perempuan dengan minus tinggi (kategori minus tinggi jika lebih dari minus enam), saya pun sudah mempersiapkan mental jauh-jauh hari jika memang harus melahirkan dengan jalan operasi.

Hingga saya mengikuti kelas Amani Gentle Birth yang memberikan pengetahuan bahwa perempuan berminus tinggi bisa melahirkan normal. Begitu pula ketika saya membaca situs Bidan Kita yang juga merupakan penggiat gentle birth. Membuat saya bersemangat untuk berikhtiar melahirkan normal.

Tentu, ketika periksa kandungan ke dr. Oni Khonsa di RSIA Tambak Jakarta Pusat, saya menanyakan hal tersebut kepada beliau.

“Dok, kalau minus tinggi bisa lahiran normal?’

“Bisaaa,” (dengan nada bersemangat)

Namun, sebagai bentuk kehati-hatian, saya pun menemui dr. Siti Sundari Sutedja Sp.M (k). yang praktik di Candi Eye Center, Semarang (saya berencana melahirkan di kota kelahiran). Di klinik mata tersebut dilakukan berbagai pengecekan mata yakni pengecekan minus, cek retina, USG mata, dan mengecek axial length (panjang axis bola mata).


Ingin Miliki Marmer Berkualitas? Fagetti Pilihan yang Paling Pas

Supplier Marmer Utama di Indonesia - Marmer atau pualam merupakan batuan alam yang identik dengan corak yang unik dan tampilan yang artistik. Selain itu, marmer memiliki banyak keunggulan seperti sifat kokoh, tahan lama, tahan panas, mudah dibersihkan dan mudah dipahat sehingga menjadikannya salah satu bahan bangunan yang paling banyak dilirik.

Bahkan, marmer merupakan material yang membentuk Taj Mahal, satu dari tujuh keajaiban dunia yang terletak di kota Agra, India. Sangat megah dan indah, begitulah kesan yang saya rasakan ketika menjumpai istana putih tersebut di depan mata.

Taj Mahal nan megah (koleksi pribadi)
Taj Mahal terbuat dari batu marmer yang indah

Kamu setuju kan dengan keindahannya?

Jadi penasaran dengan marmer? Yuk, mari mengenal marmer lebih jauh lagi!

Apa Itu Marmer?

Batu marmer merupakan salah satu jenis batuan metamorf atau malihan yang mana proses terbentuknya marmer ini disebabkan oleh proses metamorfosis batu kapur atau batu gamping. Secara umum, marmer tersusun dari mineral kalsit dengan kandungan mineral minor lainnya seperti kuarsa, mika, klorit, dan silikat lainnya.

Doa Mohon Diberi Kesehatan dan Terhindar dari Penyakit




“Tidak ada yang dapat mencegah takdir kecuali do’a dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali amal kebajikan,” (HR Tirmidzi, 2065)

Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) sebagai sebuah pandemi global bisa jadi menimbulkan ketakutan dan was-was. Tentu wajar mengingat kesehatan merupakan sebuah kenikmatan yang tak tergantikan. Health is the real wealth. Berbagai ikhtiar fisik seperti tetap tinggal di rumah, menjaga jarak (social distancing), mencuci tangan dengan sabun selama minimal 20 detik, dan sebagainya harus diupayakan. Namun, sudah semestinya seorang Muslim menyempurnakan ikhtiar dengan doa yang merupakan senjata terkuat umat Islam. 

Di atas segala ketakutan, Allah yang menentukan.... 

Berikut berbagai doa perlindungan diri dan memohon kesehatan yang dapat dipanjatkan :


Doa memohon perlindungan dari Allah


Doa ini bisa dibaca pagi dan sore sebanyak 3x (terdapat di dalam dzikir pagi dan petang)

Bismillahilladzii laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fissamaa’i wa huwas samii’ul ‘aliim (HR At-Tirmidzi, hasan shahih)

Artinya : Dengan menyebut nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakan, baik di bumi maupun langit. Dialah Yang Maha Mendengar dan Yang Maha Mengetahui.


Doa memohon kesehatan 



Allahumma ‘aafinii fii badanii, allahumma ‘aafinii fii sam’ii, allahumma ‘afinii fii bashorii, laa illaha illaa anta (HR. Al Bukhari, hasan)

Artinya : “Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.”


Traveling ke Golden Triangle India : Penuh Warna

Traveling ke Golden Triangle India - Apa yang ada di benakmu ketika mendengar negara India? Film yang penuh tarian dan musik? Taj Mahal? Atau malah kesan bahwa India adalah negara yang tak aman untuk para wisatawan, khususnya para perempuan?

India sudah lama mencuri hati saya. Mungkin karena dulu saat kecil, saya sering menemani nenek menonton film Bollywood. Mayoritas bercerita tentang film India, ingat Inspektur Vijay? Mungkin juga karena ketika saya dewasa, saya kecanduan film India yang makin ke sini makin berkurang nari-narinya, Saya juga takjub melihat kemegahan Taj Mahal ketika pertama melihatnya melalui gambar di buku sejarah. Apalagi melihatnya langsung, ya kan?

Ketika pak suami menanyakan mau bulan madu ke mana beberapa hari setelah nikah, saya pun googling negara-negara yang tak mempersyaratkan visa untuk pemegang paspor Indonesia, bisa menggunakan visa on arrival atau visa elektronik. Cuti nikah masih sisa sekitar delapan belas hari dan posisi kami di rumah orang tua di Semarang. Bukannya nggak cinta Indonesia, tapi demi melihat harga tiket ke destinasi wisata di Indonesia yang belum pernah kami kunjungi mahalnya gila-gilaan, sekaligus pengen mencari suasana baru, kami pun memutuskan untuk bulan madu ke luar negeri. Dan akhirnya, ting ting, saya pun berkata,”India, yuk!”

Harga tiket pesawat ke India yang masih terjangkau, visa ke India menggunakan visa elektronik yang (katanya) mudah dan cepat didapat, biaya hidup di India yang (katanya) lebih murah dari di Indonesia, dan keinginan terpendam mengunjungi India menjadi perpaduan kebulatan tekad kami memilih India sebagai destinasi honeymoon.
Katanya nggak aman? Bismillah!

Hiruk Pikuk New Delhi

Dari Jakarta, kami terbang ke Kuala Lumpur selama 2 jam 10 menit, transit sekitar 3 jam 35 menit, kemudian terbang ke New Delhi selama 5 jam 47 menit. Maskapai yang kami gunakan Malindo. Malindo ini masih satu grup dengan Lion Air, tampilan dan fasilitasnya serupa dengan Batik Air. Kami tiba di Bandara Internasional Indira Gandhi sekitar pukul 19.30 waktu setempat.  Rencananya, kami akan dijemput dengan mobil pribadi yang saya pesan melalui aplikasi Klook. Kami pun dengan pedenya menunggu di Terminal 3 International Arrival karena di aplikasi saya sudah menulis waktu kedatangan dengan jelas sekaligus melebihkan waktu kedatangan, jaga-jaga jika pesawat kami delay dan menunggu proses pengambilan bagasi.

Dan…  Drama pertama di India pun dimulai!

Kami celingak-celinguk mencari nama di antara penjemput sambil sesekali mengecek ponsel, mana tahu ada kabar dari pihak rental atau Klook. Nihil. Setelah menunggu sekitar satu jam, kami pun menerima kenyataan bahwa tidak ada pihak rental yang menjemput. Hiks. Plan B pun dijalankan. Kami memesan Uber untuk mengantar kami dari bandara ke hotel (jangan lupa install aplikasi Uber dulu). Terdapat semacam Uber pick point di seberang Terminal 3 International Arrival. Ohya, dulu Uber pernah beroperasi di Indonesia sebelum diakuisisi Grab. Bedanya dengan Uber yang di Indonesia yakni armada Uber yang beroperasi di India seragam alias seperti taksi berwarna putih sedangkan dulu armada Uber di Indonesia bisa berbeda-beda karena mobil pribadi.

Sekitar jam 11 malam lewat kami tiba di hotel Aiwan-E-Shahi. Saya memesan hotel di Jalan Chandni Chowk, daerah Old Delhi, kota New Delhi. Nah, di sinilah saya sedikit ‘luput’. Pertimbangan saya memesan hotel tersebut karena dekat dengan Masjid Jama’ sehingga suami bisa sholat di masjid dan juga banyak makanan halal di sekitarnya. Namun, ternyata daerah Old Delhi yang merupakan bagian dari Old Delhi merupakan daerah yang bisa dibilang (maaf) kumuh. Sempat terkejut juga ketika kami bermaksud jalan-jalan pagi dan di depan hotel banyak orang tidur begitu saja di trotoar.

Masjid Jama’ New Delhi

Destinasi pertama kami di New Delhi tentu saja Masjid Jama’ yang berada di seberang hotel. Baru kali ini saya masuk masjid dan disuruh bayar 300 rupee (sekitar Rp60 ribu) per orang, alasannya karena membawa ponsel berkamera. Saya bilang kami menggunakan satu ponsel saja untuk memotret tapi tetap disuruh membayar 600 rupee untuk dua orang. Ya sudahlah. Ngomong-ngomong, aturan ini diberlakukan untuk turis asing saja. Orang lokal dibiarkan lalu lalang begitu saja.

Masjid Jama’ New Delhi didirikan oleh Shah Jahan, raja yang membangun Taj Mahal, pada tahun 1656 M. Arsitekturnya bergaya Mughal dengan bangunan yang dibangun dari batu tanahmerah dan marmer. Megah. Sayangnya, masjid ini nampak agak kotor dan kurang terawat.

Ada pengalaman menarik saat kami mengunjungi Masjid Jama’ New Delhi. Kami didatangi seorang Bapak orang India yang mengajak berbincang dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Ia mengatakan bahwa beberapa tahun sebelumnya ia pernah ke Jakarta. Kemudian, ia memperkenalkan kami ke rombongan keluarga besarnya yang berasal dari Jaipur (sekitar dua puluh orang) dan kemudian mengajak foto bersama. Di situ kami merasakan persaudaraan Muslim antar negara.


Jami Mosque New Delhi


Interior di Jami Mosque New Delhi

Red Fort New Delhi

Red Fort atau disebut juga Lal Qila merupakan kompleks benteng yang terbuat dari batu pasir merah yang dibangun oleh Shah Jahan juga di pertengahan abad ke-17. Dulunya, Red Fort merupakan istana Shah Jahan untuk ibukota pemerintahannya yakni Shahjahanbad, kota baru yang dibuat ketika Shah Jahan memindahkan ibukotanya dari Agra ke Delhi. Arsitekturnya perpaduan arsitektur Islam dan Mughal. Arsitektur Mughal sendiri merupakan perpaduan Persia, Timurid, dan Hindu.
Dan ya.. kompleks Red Fort benar-benar indah. Mulai dari istananya, bentengnya, tamannya. Banyaknya pohon membuat suasana menjadi teduh, di tengah kota New Delhi yang panas kala itu.

Jadi, jangan sampai melewatkan Red Fort yang merupakan salah satu situs warisan dunia Unesco jika berkunjung ke New Delhi ya. Pemandangannya memanjakan mata dan suasananya membuat betah berlama-lama.


Red Fort New Delhi

Yang Menarik dari New Delhi

New Delhi merupakan kota metropolis terpadat kedua di India setelah Mumbai. Jadi, tak heran kalau kotanya sangat padat. Yang menarik, tiga stasiun kereta lokal di New Delhi yang kami datangi bisa dibilang (maaf) kumuh dengan lalat beterbangan dan juga ada anjing liar di dalam stasiun tetapi stasiun Metro (MRT) New Delhi sangat modern, rapi, dan bagus seperti halnya Bandara Internasional Indira Gandhi yang pernah dinobatkan sebagai bandara terbaik di dunia.

Selain itu, penampilan masyarakat pengguna kereta Metro dan kereta lokal pun berbeda. Dari sana, saya merasakan kesenjangan sosial masyarakat India yang cukup tinggi.

Ngomong-ngomong, saran saya, jika traveling ke India sebaiknya jangan sendirian, apalagi perempuan. Secara data, pada tahun 2018, lima orang perempuan diperkosa setiap harinya di New Delhi. Mungkin, karena itulah, di bus ditempel nomor aduan untuk melaporkan pemerkosaan.

Jaipur, A Beautiful Pink City

Jaipur.. Jaipur..

Begitu teriakan kondektur bus yang membawa kami dari Inter State Bus Terminal di New Delhi menuju Jaipur. Ngomong-ngomong, India memiliki 29 negara bagian dan 7 wilayah persatuan. Nah dari New Delhi yang merupakan ibu kota dari negara bagian Delhi, kami bermaksud melanjutkan perjalanan menuju Jaipur yang merupakan ibu kota negara bagian Rajashtan. Perjalanan menggunakan bus Super Luxury Volvo ditempuh dalam waktu sekitar lima jam. Harga tiket bus untuk laki-laki senilai 852 rupee dan perempuan senilai 705 rupee, jadi memang ada harga diskon untuk penumpang perempuan. 

Awalnya, kami mau menggunakan kereta lokal tapi ternyata kami kehabisan tiket. Kami terlalu pede nggak memesan via online sebelumnya, kami pikir masih ada lah tiket kereta go show. Eng ing eng, setelah mencari di tiga stasiun lokal, kami akhirnya menyerah dan memutuskan naik bus. Namun, hal itu membawa hikmah. Kami jadi tahu kalau terminal bus tersebut bagus dan modern, berbeda dengan kondisi stasiun lokal yang (maaf) kumuh. 

Jaipur merupakan ibukota sekaligus kota terbesar di negara bagian Rajashtan. Jaipur dijuluki sebagai ‘Pink City’ lantaran bangunan berwarna pink (warna pink batu bata atau mirip pink salmon) tampak mendominasi kota. Belum lagi banyak pria Jaipur yang mengenakan kemeja pink muda. 

Jaipur, Perpaduan Kota Tua dan Modern

Di antara tiga kota yang disebut sebagai Golden Triangle India (New Delhi-Jaipur-Agra), Jaipur lah yang mencuri hati saya dengan kecantikannya. Empat hari di Jaipur rasanya teramat kurang. 

Jaipur ditetapkan sebagai ibukota Rajashtan (Rajashtan sendiri bermakna tempat tinggal para raja) pada tahun 1727 dan merupakan kota pertama yang didesain dengan terencana. Yes, tata kotanya rapi dan elok dipandang dengan nuansa pink yang kuat. 

Menjelajah Jaipur ibarat menjelajahi kota yang merupakan perpaduan unsur modern dan kuno. Mal besar dengan desain futuristik ada, benteng megah nan amat indah membuat mata terpana, bangunan peninggalan sejarah dengan desain khas Rajashtan yang penuh warna. 

Kami menyewa tuk-tuk untuk mengantarkan aktivitas kami selama dua hari penuh di Jaipur, dua hari lainnya kami menggunakan Uber yang cukup mudah didapatkan di kota ini. 

Tempat Wisata Menarik di Jaipur

Beberapa tempat wisata yang kami datangi di Jaipur :

Hawa Mahal


Hawa Mahal (Mahal memiliki arti istana) atau disebut juga istana Angin (Palace of Breeze) dibangun pada tahun 1799 sebagai perpanjangan The Royal City Palace of Jaipur. Hawa Mahal yang memiliki 953 jendela ini dibangun dengan batu pasir berwarna merah dan pink dengan arsitektur khas Rajput dan Mughal, ornamen yang mengelilinginya sungguh cantik. Ketika kami masuk ke dalamnya, udara sejuk dapat kami rasakan, di tengah panasnya kota Jaipur.


Hawa Mahal dari luar


Hawa Mahal tampak atas
Dari atas Hawa Mahal tampak kota Jaipur
Hawa Mahal

Amer Fort


Amer Fort disebut juga Amber Fort atau Amer Palace karena dahulu pernah menjadi tempat kediaman Raja Rajput. Amer Fort merupakan benteng yang terletak di daerah Amer, Rajashtan, sekitar sebelas kilometer dari kota Jaipur. Siapkan energi untuk mendaki benteng yang berada di atas bukit ini, apalagi ketika kami datang, matahari sudah mulai terik. Namun, semua itu terbayar ketika menyaksikan kemegahan dan keindahan benteng yang dibangun pada tahun 1592 ini.

Bangunannya disusun dari batu pasir merah dan juga batu marmer putih dengan dikelilingi arsitektur indah dan dihiasi ornamen cantik perpaduan Hindu dan Islam. Belum lagi lukisan tentang kehidupan India kuno dan pemerintahan Rajput menambah keelokan Amer Fort. Berdiri di salah satu sisi bangunan, dari balik jendela kita bisa menyaksikan Danau Maotha, danau yang merefleksikan kemegahan benteng.

Yang membuat saya takjub adalah betapa cantik arsitektur di dalam Amer Fort, terutama dekorasi dinding berwarna dominan hijau yang ramai, khas Rajashtan. Sangat artistik.

Ada pengalaman menarik saat kami berada di Amer Fort. Kami didekati oleh seorang polisi yang kemudian mengajak kami mengikuti langkahnya. Sedikit deg-degan tapi kami pun mengikutinya, ia mengajak kami masuk ke berbagai ruangan di dalam benteng dan memberi penjelasan tentang detail, dulu ruangan tersebut digunakan sebagai apa dan bagaimana filosofinya. Pada akhirnya, ia kemudian menanyakan apakah kami senang dan menunjukkan bahasa tubuh meminta tips. Tentu, kami dengan senang hati memberikannya karena ia bersikap sopan dan tidak memaksa. 


Amer Fort


Albert Hall Museum


Museum Albert Hall merupakan museum tertua di Jaipur yang selesai dibangun pada tahun 1887.  Museum ini juga merupakan museum negara bagian Rajashtan. Desain bangunannya mirip dengan Victoria and Albert Museum di London. Maklum, desainer museum Albert Hall merupakan orang Inggris. Nama museum sendiri terinspirasi dari King Albert Edward VII dari Inggris.

Kesan saat memasuki museum ini adalah cantik dan megah. Arsitekturnya perpaduan Mughal dan Rajput dengan kubah putih yang khas. Burung dara yang terbang di sekitar museum menambah kecantikan lanskap. Di dalam museum Albert Hall terdapat 16 galeri mulai dari lukisan, seni patung, seni marmer, instrumen musik, dan sebagainya. Penataannya rapi dan tidak membosankan.

Ohya, ketika malam hari, tak ada salahnya menyempatkan diri berfoto di depan Museum Albert Hall karena lampu hias berwarna-warni menambah keindahan museum. 


Di depan Albert Hall Museum


Dari dalam Albert Hall Museum

Patrika Gate


Patrika Gate merupakan gerbang pintu masuk Jawahar Circle Garden. Walau ‘hanya’ sebuah gerbang, arsitekturnya sangat cantik berwarna-warni khas tanah Rajashtan. Jadi, jangan lewatkan untuk mampir ke Patrika Gate dan mengambil dokumentasi di sana.


The Patrika Gate, Jaipur

Maharaja Sawai Mansigh II Museum Trust


Nah, ini salah satu hidden gem yang kami temukan di Jaipur. Tempat ini tidak ada di itinerary kami sebelumnya karena memang dari hasil googling tentang tempat wisata di Jaipur, kami tidak menemukannya. Tiba-tiba supir tuk-tuk yang kami sewa membelokkan kami ke sini. Katanya tempat ini merupakan cemetery sang Maharaja dan keluarganya. Oke, kami coba masuk dulu, supir tuk-tuk meyakinkan kalau tempat ini bagus dan worth a visi
Langit cerah Jaipur pada hari itu menyambut kami. Tidak adanya pengunjung lain selain kami membuat kami leluasa menikmati keindahan arsitektur museum ini sekaligus tentu mengambil foto banyak-banyak tanpa ada photobomb. Arsitekturnya sangat cantik, berpondasikan marmer putih dengan desain khas perpaduan Rajput (Hindu) dan Mughal (Islam).