Monilando's

Life. Books. Traveling. Socmed

Saturday, August 10, 2019

7 Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan untuk Turut Menjaga Lingkungan




Tahukah kamu bahwa Indonesia merupakan negara produsen sampah plastik terbesar kedua sedunia? Tahukah kamu bahwa Indonesia merupakan negara produsen sampah makanan terbesar kedua sedunia?

Sampah merupakan salah satu permasalahan besar yang dihadapi dunia dewasa ini. Dampak negatif sampah bisa menyebar begitu luas, misalnya lingkungan yang tercemar, sanitasi yang buruk, terganggunya ekosistem laut, dan lain sebagainya. Komposisi sampah di Indonesia terdiri dari sampah organik sebesar 50%, sampah plastik sebesar Mirisnya, sebagaimana dikutip dari Kompas, dari seluruh timbulan sampah plastik tersebut, hanya sekitar 10-15 persen yang akhirnya didaur ulang. Sementara sejumlah 60-70 persen ditampung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan 15 persen-30 persen sisanya belum terkelola. Sampah plastik yang belum terkelola sebagian besar berakhir di lautan yakni sejumlah 8,8 juta ton sampah plastik setiap tahunnya.

Upaya menjaga lingkungan membutuhkan partisipasi aktif dari berbagai pihak seperti pemerintah, pengusaha, aktivis lingkungan, dan masyarakat. Berikut 7 hal yang saya coba terapkan dalam upaya turut menjaga lingkungan :

1. Konsumsi makanan secukupnya
Sebisa mungkin saya meminimalisasi stok makanan berlimpah di rumah. Bukan apa-apa, stok makanan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko dibuang. Jadi cukup stok makanan seperlunya yang kira-kira akan habis dikonsumsi. Selain itu, usahakan memasak atau membeli makanan dalam jumlah yang kira-kira pas untuk penghuni rumah untuk meminimalisasi makanan tersebut tidak termakan.

2. Beli kemasan dalam ukuran besar

Jika membeli suatu produk, upayakan untuk membeli produk dalam ukuran besar. Misalnya, membeli shampo dalam botol ukuran besar daripada ukuran sachet. Produk dalam ukuran kecil dapat menimbulkan lebih banyak sampah.

3. Membawa tempat makan dan minum sendiri
Tak ada salahnya jika kita membiasakan diri membawa kotak makan dan minum sendiri ketika membeli makanan atau minuman (sebagian toko yang menjual minuman memperbolehkan pembeli menggunakan tumbler pribadi). Hal tersebut dapat mengurangi sampah dari produk yang sekali pakai seperti tempat makanan atau minuman.

Sehari-hari
4. Membawa tas belanja sendiri
Tas belanja lipat yang praktis dibawa kemana-mana dapat mengurangi pemakaian plastik sebagai alat membawa barang. Selain itu, lebih hemat juga bukan mengingat sebagian toko sekarang sudah mengenakan kebijakan plastik berbayar.

5. Membawa sedotan sendiri
Meskipun tampaknya sepele, penggunaan sedotan plastik sekali pakai merupakan penyumbang sampah plastik yang cukup signifikan. Karena itu, alangkah lebih baiknya jika kita bisa membawa sedotan sendiri, utamanya sedotan berbahan stainless steel atau bambu untuk turut menjaga lingkungan.

6. Olah sampah

Jangan lekas-lekas membuang wadah produk yang sudah habis dipakai. Misalnya, wadah lulur yang sudah tak terpakai bisa diolah lagi menjadi wadah peniti dan jarum pentul. Tinggal dipercantik dengan kertas kado sesuai seleramu. Berbagai ide do-it-yourself yang berseliweran di internet bisa kamu gunakan untuk mencari ide kreativitas pengolahan sampah.

7. Efisiensi pemakaian produk sekali pakai
Cobalah mengganti barang yang sekali pakai dengan produk yang bisa dipakai berkali-kali, misalnya menggunakan sapu tangan untuk menggantikan tisu. Selain itu, menggunakan kertas bolak-balik untuk print untuk pegawai kantoran dan meminimalkan penggunaan kertas merupakan langkah efisiensi yang bisa dilakukan.

Memang, kita tidak mungkin tidak menghasilkan sampah. Meski belum sempurna, setidaknya terdapat upaya kita dalam turut menjaga lingkungan, bukan? Yuk, bagikan hal-hal sederhana yang kamu lakukan untuk untuk merjaga lingkungan.

***

Referensi :
1. https://tirto.id/indonesia-penghasil-sampah-plastik-nomor-dua-di-dunia-deyY
2. https://tirto.id/ri-produsen-sampah-makanan-kedua-dunia-bappenas-stunting-tinggi-dhlh
3. https://nasional.kompas.com/read/2018/11/22/15323351/sampah-dan-plastik-jadi-ancaman-seperti-apa-kebijakan-pemerintah?page=all.

Tuesday, July 30, 2019

Investasi Surat Berharga Negara: Investasi Aman dari Kita untuk Kita

Sebuncah haru menyelimuti dada. Rekening bertambah tujuh digit. Begini rasanya memiliki gaji sendiri setelah dua puluh satu tahun hidup di dunia. “Mama, aku gajian, Ma,” seruku melalui telepon dengan gembira. Sejumlah nominal saya berikan kepada orang tua. Rasanya sungguh bangga, bisa menghasilkan uang dari jerih payah sendiri.
Hari berganti hari, saya pun semakin terbiasa dengan kehidupan ibu kota. Ajakan makan enak di mal, nonton, jalan-jalan, ayo saja. Saya ingin menikmati uang hasil jerih payah sendiri. Namun, sayang sekali, saat itu saya masih belum bijaksana dalam mengelola keuangan. Pundi-pundi rupiah seakan menguap begitu saja. Ketika teman-teman membicarakan tentang rencana masa depan mereka seperti menikah atau membeli rumah, saya seperti tertampar. Tabungan cukup tipis untuk hitungan orang yang sudah dua tahun bekerja. 
Saya tak bisa terus begini..
Sebagai seorang pegawai negeri, nominal yang saya terima setiap bulannya sudah terukur. Dengan pemasukan yang bisa dibilang tetap, saya bisa menghitung jumlah maksimal yang bisa disisihkan untuk ditabung. Sosokku sebagai anak pertama dari keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana membuat saya harus memutar otak untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Saya pun memutuskan untuk menjadi distributor sebuah merek hijab bersama adik perempuan. Lumayan, minimal saya bisa mendapatkan tiga juta rupiah setiap bulan kala itu.
Namun, lambat laun, saya merasa keteteran. Berjualan menguras energi dan juga waktu. Saya tak enak bila mengganggu jam kerja sebagai pegawai sehingga akhirnya memutuskan berhenti berjualan. Nah, bagaimana menghasilkan penghasilan tambahan? Investasi adalah solusi.

Mengapa Harus Berinvestasi?

Ada dua pilihan untuk menambah nominal tabungan bagi seorang pegawai yakni menambah pemasukan atau mengurangi pengeluaran. Pilihan pertama lebih menggoda dan menantang. Nah, bagaimana caranya menambah pemasukan? Bisa melalui berjualan atau investasi. Opsi berjualan pernah saya coba tapi hanya bertahan selama dua tahun karena berjualan membutuhkan fokus yang tinggi, sesuatu yang tak bisa saya lakukan karena saya juga bekerja apalagi terkadang lembur. Otomatis, opsi investasi adalah pilihan yang lebih masuk akal.
Terdapat dua jenis investasi yakni investasi sektor riil dan sektor non riil. Investasi sektor riil merupakan investasi pada aset yang berwujud seperti investasi pada properti, tanah, emas, dan sebagainya. Adapun investasi sektor non riil atau sektor finansial merupakan investasi pada aset yang tak berwujud pada aset keuangan seperti saham, reksa dana, obligasi, dan sebagainya. 
Sebenarnya, apa manfaat investasi? Secara umum, ada tiga alasan utama mengapa kita harus berinvestasi : 
Pertama, investasi sebagai sumber pemasukan tambahan. Uang yang diinvestasikan bisa memberikan nilai tambah alias sumber pemasukan baru dibandingkan misalnya hanya disimpan saja dalam bentuk tabungan. Terlebih lagi, nilai uang dalam tabungan digerus oleh inflasi yang mana rata-rata inflasi di Indonesia berkisar antara 3-5% dalam sepuluh tahun terakhir. Investasi dapat memberikan imbal hasil yang menarik melebihi tingkat inflasi.  Misalnya invetasi Surat Utang Negara (SUN) untuk tenor 10 tahun memberikan imbal hasil sekitar 7% yang melebihi tingkat inflasi.
Kedua, investasi mampu menghasilkan passive income yakni pendapatan yang kita peroleh tanpa harus terlibat aktif. Kata orang, biarkan investasi kita ‘jalan’ sementara kita jalan-jalan. Contoh penghasilan pasif seperti menerima pembayaran bulanan dari menyewakan kamar kos. 
Ketiga, merencanakan masa depan melalui investasi. Peruntukan investasi dibagi menjadi dua yakni investasi jangka pendek dan investasi jangka panjang. Misalnya, investasi pada logam mulia lebih tepat jika diperuntukkan jangka panjang. 

Investasi Harus Aman

Pernah membaca tentang penipuan berkedok investasi Pandawa Group yang sempat menghebohkan di tahun 2017?  Pernah mendengar kasus investasi bodong alias investasi fiktif? Satgas Waspada Investasi sebagaimana dikutip oleh Kontan2 menyebutkan bahwa total nilai kerugian masyarakat akibat investasi bodong mencapai Rp88,8 triliun dalam kurun waktu 2008-2018 atau hanya dalam sepuluh tahun.
Mengerikan ya? Bayangkan kamu sudah susah payah menyisihkan penghasilanmu untuk ditabung kemudian sebagian dari tabunganmu itu kamu investasikan. Kamu membayangkan mendapatkan imbal hasil dari investasimu itu. Apesnya, alih-alih untung malah buntung. Uangmu dibawa lari oleh pihak yang tak bertanggung jawab.
Nah, untuk itu kita perlu memastikan bahwa investasi yang kita lakukan aman. Salah satu investasi yang benar-benar aman adalah investasi pada surat berharga negara. 

Apa Itu Investasi pada Surat Berharga Negara?

Secara sederhana, Surat Berharga Negara (SBN) merupakan surat berharga yang dikeluarkan oleh negara. Secara garis besar, SBN dibagi menjadi dua yakni Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) untuk surat berharga yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara (UU SUN), SUN didefinisikan sebagai “surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia, sesuai dengan masa berlakunya
Pendek kata, negara meminjam dana kepada masyarakat dan kemudian negara akan mengembalikan sejumlah pokok pinjaman dan juga imbal hasil. Sebagai pengakuan utang, negara menerbitkan surat utang negara.


Thursday, July 18, 2019

3 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menggunakan KPR Syariah untuk Pembiayaan Rumah




Membeli rumah pada dasarnya bukan merupakan aktivitas yang mudah. Selain mempertimbangkan jenis bangunan, pembiayaan dari harga jual rumah tersebut turut menjadi faktor kerumitan dalam memboyong sebuah rumah. Permasalahan pembiayaan rumah saat ini pada dasarnya telah terjawab dengan keberadaan fitur Kredit Perumahan Rakyat (KPR) yang mana para konsumen dapat memiliki rumah dengan skema pembiayaan cicilan per bulan. Dewasa ini, skema pembiayaan KPR di Indonesia dibedakan menjadi dua  yakni KPR konvensional dan KPR Syariah.

Dalam satu dekade terakhir, KPR Syariah mendapatkan tempat sebagai fitur kemudahan dalam pembiayaan rumah-rumah secara jangka panjang. Secara garis besar, popularitasnya dikarenakan skema pembayaran dengan cicilan bernominal tetap. Secara historis, pengaplikasian awal KPR syariah diketahui hanya terbatas pada pembiayaan rumah-rumah di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Misalnya rumah dijual di Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Tangerang Selatan.

KPR syariah didefinisikan sebagai fasilitas pinjaman rumah yang dikeluarkan disalurkan oleh bank-bank syariah yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keungan dengan prinsip-prinsip yang berbasis syariat Islam. Meskipun saat ini banyak perumahan-perumahan berlabel syariah seperti beberapa proyek rumah dijual di Bogor tipe syariah, KPR syariah pada dasarnya adalah skema pembiayaan yang bersifat general. Tidak hanya dapat meng-cover perumahan-perumahan syariah seperti rumah dijual di Bogor, KPR Syariah kini juga dapat meng-cover hunian-hunian konvensional yang ada.

Wednesday, July 17, 2019

Menggenggam Hidayah : Perjalanan Panjang Menemukan Islam


Jika kamu tidak terlahir muslim, apakah kamu akan terus berada di jalan ini?

Tujuh tahun lalu, di sebuah masjid aku menyaksikan seorang teman kuliah mengucapkan dua kalimat syahadat. Bergetar dadaku demi memandang seorang perempuan yang dulunya aktivis agamanya telah menjadi seorang muslimah. Ada secuil rasa iri yang menyergap pikiranku kala itu.
“Enak ya dia... Masuk Islam dosanya terhapus semua,”

Namun, satu kalimat yang barangkali terucap serampangan bisa menimbulkan konsekuensi panjang...


***

Monday, July 15, 2019

Tujuh Alasan Traveling ke Kota Solo

Traveling ke Solo - Angin sepoi-sepoi seolah membelai lembut, suasana sore itu terasa begitu menyenangkan. Jauh dari hiruk pikuk ibukota, kami berteduh di bawah sebuah pohon rindang. Di Keraton Solo kami asyik berbincang sembali sesekali mengamati orang-orang yang berlalu lalang.

Tenang, begitulah saya mendeskripsikan Kota Solo, salah satu kota di Jawa Tengah yang menjadi destinasi favorit liburan, entah bersama teman-teman atau keluarga. Jika bersama keluarga, kami lebih suka menikmati wisata kuliner bersama di Kota Solo yang kami singgahi sebelum tiba di Sragen, kota kelahiran Mama. Jika bersama teman-teman, kami lebih suka mengeksplorasi Kota Solo dan sekitarnya.

Dengan akses transportasi yang saat ini semakin mudah, Kota Solo dapat dicapai dengan berbagai moda. Dari Jakarta, ada sekitar sepuluh penerbangan langsung setiap harinya yang bisa ditempuh dalam waktu satu jam lima belas menit saja. Jika memilih menggunakan mobil, dengan konektivitas jalan tol yang semakin baik, perjalanan Jakarta-Solo bisa ditempuh hanya dalam waktu sekitar tujuh jam, jarak tempuh sekitar 500 km dalam waktu yang tak terlalu lama. Kalau dari kota kelahiran saya di Semarang, dengan adanya tol yang terhubung, kini cukup 1,5 jam untuk mencapai Kota Solo atau kota yang memiliki nama lain Surakarta.

Saturday, May 25, 2019

Weekend Escape dari Jakarta? Karimunjawa Pilihan Menggoda

“Pengen liburan tapi cuti terbatas.” 
“Pengen ke pantai-pantai yang indah yang nggak jauh-jauh dari Jakarta?” 
“Pengen liburan yang nggak banyak menguras isi kantong.” 
“Pengen ke pantai yang tenang dan sedikit keramaian?”

Kalau jawabanmu ‘yes’ untuk ketiga pertanyaan di atas, kamu bisa banget mempertimbangkan Karimunjawa sebagai destinasi liburan selanjutnya. Karimunjawa adalah kepulauan di Laut Jawa yang terdiri dari 27 pulau, secara geografis termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Dijamin akan membuatmu rileks dari hiruk pikuknya ibukota.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk weekend escape bersama teman-teman satu geng. Kami berdelapan mau mengadakan perpisahan untuk lima orang teman yang hendak meneruskan pendidikan S2 selama dua tahun. Liburan ke Karimunjawa menjadi pengalaman yang mengesankan bagi kami. 


Menuju Karimunjawa


Banyak cara menuju ke Karimunjawa mengingat Kabupaten Jepara yang tak jauh-jauh amat dari Jakarta. Kamu bisa naik mobil pribadi, bus, atau travel langsung ke ke Jepara sebelum menyeberang ke Karimunjawa dari Pelabuhan Kartini Jepara. Perjalanan ini kira-kira bisa ditempuh dalam waktu delapan jam atau lebih cepat lagi karena sekarang jalan tol Jawa yang sudah terintegrasi.

Kamu juga bisa naik kereta lalu turun di Stasiun Tawang atau Stasiun Poncol Semarang untuk kemudian naik bus atau travel ke Jepara sebelum nanti menyeberang dari Pelabuhan Kartini. Perjalanan dengan kereta dari Jakarta ke Semarang ditempuh sekitar enam jam dengan kereta eksekutif dan tujuh jam untuk kereta ekonomi.

Dari Pelabuhan Kartini Jepara, wisatawan menggunakan kapal cepat atau kapal ferry untuk menyeberang. Perjalanan dengan kapal cepat membutuhkan wake sekitar 1 jam 15 menit, adapun jika menggunakan kapal feri kira-kira membutuhkan waktu 4,5 jam.

Kalau mau lebih nyaman lagi atau mungkin kamu kurang nyaman dengan perjalanan laut, kamu bahkan bisa naik pesawat ke Karimunjawa langsung loh dari Semarang atau Surabaya. Penerbangan ke Karimunjawa dari Semarang dijadwalkan tiga kali seminggu. 

Jadi, banyak alternatif transportasi yang bisa digunakan. Tinggal pilih sesuai budget dan kenyamanan masing-masing, ya.

Apa Saja yang Ada di Karimunjawa?


Yang utama, tentu saja, pantai. Awalnya saya tak terlalu berekspektasi tinggi dengan pantai di Karimunjawa (paling nggak bagus-bagus amat, pikir saya) tapi ternyata saya salah dong. Keindahan pantai di Karimunjawa jauh melebihi ekspektasi saya. Hamparan nyiur melambai, gundukan pasir putih yang halus, pantai yang bersih dan jernih, karang-karang cantik yang sangat instagrammable, bonus ayunan yang serasa membawa lagi ke kenangan masa kecil. Belum lagi, pemandangan matahari terbit atau terbenamnya yang cakep banget. 

Thursday, May 2, 2019

#AyoHijrah Menuju Pengelolaan Keluarga Makin Berkah Bersama Bank Muamalat Indonesia yang Murni Syariah


Kata orang kehidupan baru dimulai setelah menikah. Tepat tanggal 24 Maret 2019 lalu, saya resmi melepas masa lajang. Kehidupan setelah menikah ibarat hijrah yang mana berarti harus lebih baik dibandingkan ketika masih sendiri. Dalam Islam, hijrah berarti berpindah menuju hal yang lebih baik. Dalam hadits Rasulullah SAW juga disebutkan bahwa orang yang kondisi hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia termasuk merugi, bukan?


Apakah Saya Sudah Hijrah?

Jika ditanya apakah kamu sudah hijrah? Kapan kamu hijrah? Saya tak berani mengatakan bahwa saya telah berhijrah. Bagi saya, hijrah adalah sebuah proses berkelanjutan selama hayat masih dikandung badan karena akan selalu ada ruang untuk perbaikan. Namun, tentunya, ada titik mula (starting point) hijrah seseorang. Hijrah bagi saya dimulai ketika saya memutuskan berhijab di usia tujuh belas tahun, di usia itu semakin terbuka mata hati untuk menjalankan perintah agama.

Lalu kemudian saya mendalami Ma’had Tarbiyah selama dua tahun sembari kuliah jurusan akuntansi untuk memperdalam pengetahuan agama.

Apakah mulus-mulus saja macam jalan tol? Oh, tentu tidak. Orang yang mau berhijrah pasti ada saja cobaannya.  Namanya mau naik tingkat, kan?

Kondisi spiritual saya sempat mundur sekian langkah karena pada waktu itu dihampiri beberapa masalah yang membuat saya ingin menyerah. Tapi, masak iya mau udahan hijrahnya? Hijrah adalah proses menjadi lebih baik. Ada titik mulanya tetapi tidak ada titik berhentinya, kecuali jika nyawa sudah meninggalkan raga.

Hijrah selalu memiliki titik mula tetapi tidak ada berhentinya

Akhirnya, saya pun memutuskan mengambil kuliah jurusan ilmu dakwah di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al Manar selepas kerja, seminggu tiga kali. Alhamdulillah, semakin bertambahnya ilmu membuat iman semakin tebal, semakin semangat pula untuk sedikit demi sedikit menambah amal.

Jadi, ya, rasa-rasanya selalu ada momentum yang mana manusia diingatkan oleh Allah akan hijrah. Sampai mana hijrahnya? Seberapa kuat hijrahnya?
Ibarat naik tangga, selalu ada anak tangga dari sebuah proses bernama hijrah.

Membangun Keluarga Adalah Momen Hijrah

Salah satu momen hijrah yang cukup berkesan bagi saya adalah hijrah dari status single menjadi status menikah. Bagaimana bukan hijrah kalau menikah merupakan sebuah penyempurnaan agama, senda gurau suami istri saja dianggap sebagai sebuah ibadah.

Menikah ibarat mengatur ulang (reset) kehidupan menjadi dimulai lagi dari nol. Untuk suami, dialah imam yang bertanggung jawab akan keselamatan keluarganya di dunia dan akhirat. Untuk istri, bila suami ridha padanya maka istri bisa masuk surga dari pintu mana saja yang ia suka.

Saya selalu teringat kata-kata suami di hari pertama kami memulai rumah tangga, “Mulai sekarang, kalau kamu berbuat dosa misalnya ngomongin orang lain, ingatlah kamu sudah punya suami. Abang bertanggung jawab atas kamu. Yuk, kita sama-sama senantiasa memperbaiki diri,”

Hijrah Bersama dalam Ikatan Keluarga

Ibarat berlayar bersama dalam satu kapal, dalam satu keluarga haruslah menuju ke arah yang sama.  Sebagai pengantin baru, saya dan suami bersegera merumuskan hal-hal yang penting bagi keluarga kami, mulai dari aspek ibadah, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya. Ibarat membangun rumah, pondasi keluarga haruslah kuat agar tak mudah goyah. Komunikasi dan keterbukaan ibarat semen yang merekatkan pondasi dalam rumah tangga.

Khusus untuk pondasi finansial, kami menyusun tujuh pedoman pengelolaan keuangan keluarga. Tujuannya agar pengelolaan keuangan keluarga bisa dilakukan secara syariah agar hidup semakin berkah. Ya, apalagi yang dicari dalam hidup kalau bukan berkah alias kebaikan yang bertambah-tambah.

Apa saja pedomannya?

Thursday, February 28, 2019

I Wish I Found You Sooner



A : “ Kenapa ya enggak dari dulu aja kita dipertemukan? Why does it take long time for us to meet?”

B : “Karena mungkin kalau kita ketemu lebih cepat, rasa syukur kita enggak sebesar sekarang,”

Cause you are worthy the long enough wait ~

Thursday, January 31, 2019

Doa yang Nanggung

“Ya Allah, saya pengen ngerasain wawancara beasiswa S2. Selanjutnya, terserah Engkau.”
Hampir setahun lalu, saya ingat persis pernah berdoa demikian sebelum mendaftar beasiswa internal Kementerian Keuangan untuk ke luar negeri (beasiswa FETA namanya). Jadi, seleksi untuk mendapatkan beasiswa itu ada beberapa tahap : tahap pertama seleksi administrasi, jika lolos lanjut ke tahap kedua seleksi tertulis (Tes Potensi Akademik dan Tes Bahasa Inggris), jika lolos lagi kemudian lanjut ke seleksi tahap ketiga yakni psikotes dan wawancara. Baru jika lolos seleksi tahap ketiga dinyatakan sebagai calon awardee (penerima beasiswa).

Dan Allah benar-benar mengabulkan doa itu…

Saya lolos hingga tahap terakhir, psikotes dan wawancara. Namun, kemudian langkah saya terhenti karena tak dinyatakan lolos. Ya, saya persis mendapatkan hasil seperti doa yang saya ucapkan sebelum mendaftar.

Kenapa nggak minta supaya mendapatkan beasiswa itu?

Karena pada waktu itu, ada sebuah pertimbangan yang membuat saya ragu-ragu. Mendapatkan beasiswa tentu memiliki berbagai konsekuensi. Nah, saya dalam keadaan antara ya dan tidak atas konsekuensi itu.

Terus? Nyesel? Sempat merasa menyesal berdoa seperti itu lantaran pada akhirnya saya benar-benar ingin mendapatkan kesempatan itu.

Saya pun teringat sebuah hadits.
“Di surga itu terdapat seratus tingkatan, Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah, jarak antara keduanya seperti antara langit dan bumi. Karena itu, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus, karena sungguh dia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya ada Arsy Sang Maha Pengasih, dan darinya sumber sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari 2790 & Ibnu Hibban 4611).

Dalam sebuah kajian yang pernah saya datangi, sang ustadz mengatakan bahwa mudah saja bagi Allah SWT mengabulkan doa kita, apapun itu. Untuk surga sebagai sebagai-baik balasan, kita disuruh meminta surga yang tertinggi. “Jangan berdoa : nggak papa ya Allah, saya di emperan surga aja nggak papa. Di surga yang paling rendah aja nggak papa. Jangan. Mintalah surga tertinggi,”

Nah, tetapi untuk urusan dunia, kita kan nggak tahu yang terbaik yang mana?

Saya berusaha meminta yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat. Enggak menyebutkan yang ‘neko-neko’ lagi seperti doa yang nanggung tadi. Selain itu juga memanjatkan doa ini, “Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan. Artinya: Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya.” (HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah no. 46, An-Nasa’i dalam Al-Kubra 381: 570, Al-Bazzar dalam musnadnya 4/ 25/ 3107, Al-Hakim 1: 545. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 227).

Allahu a’lam.