Saturday, May 25, 2019

Weekend Escape dari Jakarta? Karimunjawa Pilihan Menggoda

“Pengen liburan tapi cuti terbatas.” 
“Pengen ke pantai-pantai yang indah yang nggak jauh-jauh dari Jakarta?” 
“Pengen liburan yang nggak banyak menguras isi kantong.” 
“Pengen ke pantai yang tenang dan sedikit keramaian?”

Kalau jawabanmu ‘yes’ untuk ketiga pertanyaan di atas, kamu bisa banget mempertimbangkan Karimunjawa sebagai destinasi liburan selanjutnya. Karimunjawa adalah kepulauan di Laut Jawa yang terdiri dari 27 pulau, secara geografis termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Dijamin akan membuatmu rileks dari hiruk pikuknya ibukota.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk weekend escape bersama teman-teman satu geng. Kami berdelapan mau mengadakan perpisahan untuk lima orang teman yang hendak meneruskan pendidikan S2 selama dua tahun. Liburan ke Karimunjawa menjadi pengalaman yang mengesankan bagi kami. 


Menuju Karimunjawa


Banyak cara menuju ke Karimunjawa mengingat Kabupaten Jepara yang tak jauh-jauh amat dari Jakarta. Kamu bisa naik mobil pribadi, bus, atau travel langsung ke ke Jepara sebelum menyeberang ke Karimunjawa dari Pelabuhan Kartini Jepara. Perjalanan ini kira-kira bisa ditempuh dalam waktu delapan jam atau lebih cepat lagi karena sekarang jalan tol Jawa yang sudah terintegrasi.

Kamu juga bisa naik kereta lalu turun di Stasiun Tawang atau Stasiun Poncol Semarang untuk kemudian naik bus atau travel ke Jepara sebelum nanti menyeberang dari Pelabuhan Kartini. Perjalanan dengan kereta dari Jakarta ke Semarang ditempuh sekitar enam jam dengan kereta eksekutif dan tujuh jam untuk kereta ekonomi.

Dari Pelabuhan Kartini Jepara, wisatawan menggunakan kapal cepat atau kapal ferry untuk menyeberang. Perjalanan dengan kapal cepat membutuhkan wake sekitar 1 jam 15 menit, adapun jika menggunakan kapal feri kira-kira membutuhkan waktu 4,5 jam.

Kalau mau lebih nyaman lagi atau mungkin kamu kurang nyaman dengan perjalanan laut, kamu bahkan bisa naik pesawat ke Karimunjawa langsung loh dari Semarang atau Surabaya. Penerbangan ke Karimunjawa dari Semarang dijadwalkan tiga kali seminggu. 

Jadi, banyak alternatif transportasi yang bisa digunakan. Tinggal pilih sesuai budget dan kenyamanan masing-masing, ya.

Apa Saja yang Ada di Karimunjawa?


Yang utama, tentu saja, pantai. Awalnya saya tak terlalu berekspektasi tinggi dengan pantai di Karimunjawa (paling nggak bagus-bagus amat, pikir saya) tapi ternyata saya salah dong. Keindahan pantai di Karimunjawa jauh melebihi ekspektasi saya. Hamparan nyiur melambai, gundukan pasir putih yang halus, pantai yang bersih dan jernih, karang-karang cantik yang sangat instagrammable, bonus ayunan yang serasa membawa lagi ke kenangan masa kecil. Belum lagi, pemandangan matahari terbit atau terbenamnya yang cakep banget. 

Thursday, May 2, 2019

#AyoHijrah Menuju Pengelolaan Keluarga Makin Berkah Bersama Bank Muamalat Indonesia yang Murni Syariah


Kata orang kehidupan baru dimulai setelah menikah. Tepat tanggal 24 Maret 2019 lalu, saya resmi melepas masa lajang. Kehidupan setelah menikah ibarat hijrah yang mana berarti harus lebih baik dibandingkan ketika masih sendiri. Dalam Islam, hijrah berarti berpindah menuju hal yang lebih baik. Dalam hadits Rasulullah SAW juga disebutkan bahwa orang yang kondisi hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia termasuk merugi, bukan?


Apakah Saya Sudah Hijrah?

Jika ditanya apakah kamu sudah hijrah? Kapan kamu hijrah? Saya tak berani mengatakan bahwa saya telah berhijrah. Bagi saya, hijrah adalah sebuah proses berkelanjutan selama hayat masih dikandung badan karena akan selalu ada ruang untuk perbaikan. Namun, tentunya, ada titik mula (starting point) hijrah seseorang. Hijrah bagi saya dimulai ketika saya memutuskan berhijab di usia tujuh belas tahun, di usia itu semakin terbuka mata hati untuk menjalankan perintah agama.

Lalu kemudian saya mendalami Ma’had Tarbiyah selama dua tahun sembari kuliah jurusan akuntansi untuk memperdalam pengetahuan agama.

Apakah mulus-mulus saja macam jalan tol? Oh, tentu tidak. Orang yang mau berhijrah pasti ada saja cobaannya.  Namanya mau naik tingkat, kan?

Kondisi spiritual saya sempat mundur sekian langkah karena pada waktu itu dihampiri beberapa masalah yang membuat saya ingin menyerah. Tapi, masak iya mau udahan hijrahnya? Hijrah adalah proses menjadi lebih baik. Ada titik mulanya tetapi tidak ada titik berhentinya, kecuali jika nyawa sudah meninggalkan raga.

Hijrah selalu memiliki titik mula tetapi tidak ada berhentinya

Akhirnya, saya pun memutuskan mengambil kuliah jurusan ilmu dakwah di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al Manar selepas kerja, seminggu tiga kali. Alhamdulillah, semakin bertambahnya ilmu membuat iman semakin tebal, semakin semangat pula untuk sedikit demi sedikit menambah amal.

Jadi, ya, rasa-rasanya selalu ada momentum yang mana manusia diingatkan oleh Allah akan hijrah. Sampai mana hijrahnya? Seberapa kuat hijrahnya?
Ibarat naik tangga, selalu ada anak tangga dari sebuah proses bernama hijrah.

Membangun Keluarga Adalah Momen Hijrah

Salah satu momen hijrah yang cukup berkesan bagi saya adalah hijrah dari status single menjadi status menikah. Bagaimana bukan hijrah kalau menikah merupakan sebuah penyempurnaan agama, senda gurau suami istri saja dianggap sebagai sebuah ibadah.

Menikah ibarat mengatur ulang (reset) kehidupan menjadi dimulai lagi dari nol. Untuk suami, dialah imam yang bertanggung jawab akan keselamatan keluarganya di dunia dan akhirat. Untuk istri, bila suami ridha padanya maka istri bisa masuk surga dari pintu mana saja yang ia suka.

Saya selalu teringat kata-kata suami di hari pertama kami memulai rumah tangga, “Mulai sekarang, kalau kamu berbuat dosa misalnya ngomongin orang lain, ingatlah kamu sudah punya suami. Abang bertanggung jawab atas kamu. Yuk, kita sama-sama senantiasa memperbaiki diri,”

Hijrah Bersama dalam Ikatan Keluarga

Ibarat berlayar bersama dalam satu kapal, dalam satu keluarga haruslah menuju ke arah yang sama.  Sebagai pengantin baru, saya dan suami bersegera merumuskan hal-hal yang penting bagi keluarga kami, mulai dari aspek ibadah, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya. Ibarat membangun rumah, pondasi keluarga haruslah kuat agar tak mudah goyah. Komunikasi dan keterbukaan ibarat semen yang merekatkan pondasi dalam rumah tangga.

Khusus untuk pondasi finansial, kami menyusun tujuh pedoman pengelolaan keuangan keluarga. Tujuannya agar pengelolaan keuangan keluarga bisa dilakukan secara syariah agar hidup semakin berkah. Ya, apalagi yang dicari dalam hidup kalau bukan berkah alias kebaikan yang bertambah-tambah.

Apa saja pedomannya?

Thursday, February 28, 2019

I Wish I Found You Sooner



A : “ Kenapa ya enggak dari dulu aja kita dipertemukan? Why does it take long time for us to meet?”

B : “Karena mungkin kalau kita ketemu lebih cepat, rasa syukur kita enggak sebesar sekarang,”

Cause you are worthy the long enough wait ~

Thursday, January 31, 2019

Doa yang Nanggung

“Ya Allah, saya pengen ngerasain wawancara beasiswa S2. Selanjutnya, terserah Engkau.”
Hampir setahun lalu, saya ingat persis pernah berdoa demikian sebelum mendaftar beasiswa internal Kementerian Keuangan untuk ke luar negeri (beasiswa FETA namanya). Jadi, seleksi untuk mendapatkan beasiswa itu ada beberapa tahap : tahap pertama seleksi administrasi, jika lolos lanjut ke tahap kedua seleksi tertulis (Tes Potensi Akademik dan Tes Bahasa Inggris), jika lolos lagi kemudian lanjut ke seleksi tahap ketiga yakni psikotes dan wawancara. Baru jika lolos seleksi tahap ketiga dinyatakan sebagai calon awardee (penerima beasiswa).

Dan Allah benar-benar mengabulkan doa itu…

Saya lolos hingga tahap terakhir, psikotes dan wawancara. Namun, kemudian langkah saya terhenti karena tak dinyatakan lolos. Ya, saya persis mendapatkan hasil seperti doa yang saya ucapkan sebelum mendaftar.

Kenapa nggak minta supaya mendapatkan beasiswa itu?

Karena pada waktu itu, ada sebuah pertimbangan yang membuat saya ragu-ragu. Mendapatkan beasiswa tentu memiliki berbagai konsekuensi. Nah, saya dalam keadaan antara ya dan tidak atas konsekuensi itu.

Terus? Nyesel? Sempat merasa menyesal berdoa seperti itu lantaran pada akhirnya saya benar-benar ingin mendapatkan kesempatan itu.

Saya pun teringat sebuah hadits.
“Di surga itu terdapat seratus tingkatan, Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah, jarak antara keduanya seperti antara langit dan bumi. Karena itu, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus, karena sungguh dia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya ada Arsy Sang Maha Pengasih, dan darinya sumber sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari 2790 & Ibnu Hibban 4611).

Dalam sebuah kajian yang pernah saya datangi, sang ustadz mengatakan bahwa mudah saja bagi Allah SWT mengabulkan doa kita, apapun itu. Untuk surga sebagai sebagai-baik balasan, kita disuruh meminta surga yang tertinggi. “Jangan berdoa : nggak papa ya Allah, saya di emperan surga aja nggak papa. Di surga yang paling rendah aja nggak papa. Jangan. Mintalah surga tertinggi,”

Nah, tetapi untuk urusan dunia, kita kan nggak tahu yang terbaik yang mana?

Saya berusaha meminta yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat. Enggak menyebutkan yang ‘neko-neko’ lagi seperti doa yang nanggung tadi. Selain itu juga memanjatkan doa ini, “Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan. Artinya: Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya.” (HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah no. 46, An-Nasa’i dalam Al-Kubra 381: 570, Al-Bazzar dalam musnadnya 4/ 25/ 3107, Al-Hakim 1: 545. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 227).

Allahu a’lam.