Dear Perempuan Lajang, Jangan Mau Menurunkan Standar

perempuan single

 

“Mon, kriteriamu gimana?” tanya seorang rekan kantor. Waktu itu saya masih single di usia 28 tahun. Teman-teman seumuran rata-rata sudah berkeluarga.

“Ya minimal sesama pegawai Kemenkeu lah,”

“Wah, matre juga kamu. Nggak mau hidup susah,”

Eh? Saya tak menyangka akan mendapatkan komentar demikian. Apa salahnya? Toh pegawai di tempat bekerja ada 80 ribu orang, lebih dari setengahnya lelaki. Saya tak mengkhayal terlalu tinggi.

Kalau saya bilang ingin menikah dengan pangeran tampan dari kerajaan, bolehlah saya disadarkan dari angan.


Setiap orang memiliki preferensi jodoh tersendiri. Ada yang ingin memiliki pasangan dengan tingkat pemahaman agama tinggi atau rupa yang menawan hati. Sementara saya menginginkan pasangan yang setara : pemahaman agama, latar belakang keluarga, pendidikan, dan pekerjaan.


Teman yang lain pernah berkata, “Udah Mon, terima saja siapa saja yang datang. Usiamu sudah berapa, kamu mau punya anak umur berapa,”

“Udah Mon, terima saja yang datang. Stok ikhwan sholeh menipis, apalagi yang seusia kita,”

Namun namanya rasa, tak bisa dipaksa. Katanya, jangan pilih-pilih, kamu semakin tua. Tapi masak iya? Menikah dengan siapa saja?


**