Monday, November 9, 2015

Resensi Buku : Pesantren Impian

Sumber gambar : Goodreads
Pesantren Impian. Asma Nadia, siapa yang tak kenal dengan penulis produktif yang telah menghasilkan 50 karya ini. Awalnya, saya tak menyangka bahwa buku bergenre thriller religi ini mampu menghadirkan sebuah rentetan kisah yang sedemikian legit untuk dibaca. Bagaimana tidak, Asma Nadia ‘terlanjur’ membentuk imaji sebagai seorang penulis nonfiksi dan fiksi yang sarat akan kisah mengharubiru tentang perempuan dan pernikahan, sebut saja seperti serial Catatan Hati, Assalamu’alaikum Beijing, dan Surga yang Tak Dirindukan. Namun, buku setebal 292 halaman ini lahap terindera hanya dalam waktu satu setengah jam saja, tak lain karena kepiawaian bertutur sang penulis dan ketegangan yang dihadirkannya.

Siapa yang Tak Memiliki Masalah? Siapa yang Tak Memiliki Dosa?
Lima belas remaja putri dan putra dengan masa lalu kelam menerima undangan misterius untuk menetap di Pesantren Impian, sebuah tempat rehabilitasi yang terletak di sebuah pulau yang bahkan tak tercantum di dalam peta. Novel ini dibuka dengan tiga cuplikan peristiwa yang menimpa tiga orang gadis di tempat berbeda : “si Gadis” yang melakukan pembunuhan atas seorang laki-laki di sebuah kamar hotel, Rini yang mencoba mengakhiri hidupnya lantaran menjadi korban pemerkosaan dan mengandung janin yang tak pernah diinginkannya, dan Sissy si ‘gadis pesta’ yang telah lama mengakrabi dunia obat terlarang.

Bersama kedua belas gadis lainnya, mereka kemudian berupaya untuk mengubur masa lalunya dalam-dalam. Pesantren Impian, itulah nama yang tersemat dari sebuah tempat di mana para pendosa ingin bersimpuh merangkai taubat. Sebuah pondok pesantren dengan fasilitas lengkap yang dimiliki oleh sesosok misterius yang kerap dipanggil dengan nama Teungku Budiman. Semisterius rentetan peristiwa yang kemudian terjadi di Pesantren Impian.

Misteri Demi Misteri
Bisa dibilang buku ini penuh dengan misteri, meski ada beberapa yang cukup bisa ditebak. Mulai dari siapakah sosok yang disebut dengan “Si Gadis”, pembaca akan dibawa menerka-nerka siapakah sosok sebenarnya di antara kelima belas gadis. Potongan-potongan informasi tentang identitas “Si Gadis” terserak pada keseluruhan novel dengan gambar sampul perempuan bertopeng ini. Dengan gaya bertutur orang ketiga tunggal, secara garis besar novel ini berkisah tentang “Si Gadis” dan pelariannya selepas melakukan pembunuhan, Rini dan misteri tentang lelaki yang menghamilinya, serta misteri tentang siapa sebenarnya pemilik Pesantren Impian beserta latar belakangnya. Kekuatan buku ini adalah bagaimana simpul terjalin di antara serangkai peristiwa yang pada awalnya seperti tak berhubungan.

Ditunjang dengan alur yang cepat, rentetan peristiwa menimbulkan sensasi keseruan sekaligus ketegangan. Menebak siapa sebenarnya “si Gadis” dengan mengumpulkan potongan informasi merupakan sebuah keasyikan, identitasnya baru dibuka di halaman terakhir novel. Sedikit demi sedikit, penulis memberikan “petunjuk” atas benang merah cerita, bahkan menyisipkan beberapa ‘trik’ untuk mengaburkan pembaca yang tengah menebak identitas “si Gadis”. Keunggulan penulis salah satunya adalah ketika sebuah frasa dapat menjadi sebuah petunjuk yang menyibak misteri. Pembaca akan dimanjakan dengan sensasi merangkaikan senarai informasi dan petunjuk.

Tentang Kekelaman dan Kematian
Nuansa “gloomy” agaknya lekat dengan novel yang memiliki sub judul “Cinta, Teka-Teki, dan Kematian” ini. Tentang ketakutan demi ketakutan para tokoh, tentang peristiwa menakutkan yang terjadi di pesantren seperti ketika salah seorang santriwati mengalami sakaw hingga pembunuhan di sebuah malam.

Tentu, satu hal yang patut diacungi jempol dari penulis yang kerap menghasilkan karya bestseller ini adalah kepandaiannya menyusun deskripsi. Semisal, saat bercerita tentang pembunuhan disebutkan “Bulan sesaat tersaput awan. Semua terjadi begitu cepat. Yanti bahkan tak sempat berteriak.” lalu bab berikutnya dimulai dengan kalimat “Terbunuhnya Yanti…”

Pun, ketika kelam mendera, 
Betapa mengerikan ketika seseorang tak mengetahui apa yang harus dipercayainya,” (halaman 245)
Namun, penulis yang memiliki prinsip “sebab menulis itu berjuang” ini melukiskan kematian -yang kerap dipandang sebagai suatu hal yang menakutkan- dengan indah : 
Kematian adalah kebebasan. Kematian adalah klimaks kehidupan, puncak pengabdian. Bukan akhir kehidupan. Kematian membuat kita lebih dekat pada peristiwa yang memberikan kebahagiaan tertinggi, saat kita bisa memandang wajah-Nya. Memandang Maha Keindahan, seperti yang Dia janjikan bagi mereka yang beriman dan selalu berharap-harap untuk bertemu dengan-Nya.
Bagi orang-orang yang sedang menapaki jalan kebaikan, kematian adalah berkah menuju pintu surga,” (halaman 186)
Keindahan lain dari buku ini adalah adanya deskripsi pada halaman sebelum bab baru dimulai, selaras dengan judul bab baru. Misal, ketika sebuah bab berjudul “Panik”, deskripsi di halaman sebelumnya berbunyi, “Jangan tanya di mana kusembunyikan kegamangan pada duka Shinta yang memesona atau luka Rahwana yang menebarkan dahaga,”

Jika boleh saya memberikan kritik…
Gaya bahasanya, menurut saya, sederhana (bukan berarti tak indah ya). Cara bertuturnya lebih sederhana dibandingkan karya Asma Nadia lainnya, yang saya nikmati benar keindahan tuturnya. Apakah ini lantaran Pesantren Impian pada awalnya dipublikasikan tahun 2000 dan kemudian dipublikasikan ulang tahun 2014? Lalu, secara personal, jenis font (atau ukurannya yang terlalu besar?) yang digunakan kurang eye-catching.

Secara keseluruhan….

Novel ini amat layak untuk Anda jadikan koleksi. Benar-benar membuat tak sabar untuk menuntaskan misteri demi misteri dan membuat saya tak berhenti membaca hingga usai. Berita bagusnya, novel ini sedang dalam proses syuting untuk dijadikan film layar lebar. Ya, rasanya tak sabar menunggu keseruan dalam novel berlanjut dalam bentuk film. 

---

Judul buku : Pesantren Impian
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : Asma Nadia Publishing House
Tebal : 292 halaman
Cetakan pertama : Juli 2014

5 comments:

  1. Terima kasih reviewnya adinda😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mba Asma.. Terima kasih kunjungannya.. Ditunggu filmnya :D

      Delete
  2. pengen baca ini juga sih hihi tapi lagi menyelesaikan buku yang kebeli dulu huhu

    ReplyDelete
  3. Curious deh pesantren Impian. kayaknya novel ini uda gak ada di Gramedia Jogja...

    Thanks ulasannya :D
    #AlwaysHappyWriting

    ReplyDelete