Thursday, October 15, 2015

Islam Rahmatan Lil ‘Alamin : Ketika Religiusitas Selaras dengan Perdamaian

Hampir empat belas abad yang lalu, pada bulan suci Ramadhan, Rasulullah SAW beserta sekitar 10.000 pasukan Muslim menguasai kota Mekah. Peristiwa bersejarah tersebut terekam sebagai Fathu Makkah atau Pembebasan Kota Mekah. Syaikh Ramadhan Al Buthi mengisahkan dalam kitab Fiqhus Sirah bahwa Sa’ad bin Ubadah berkata kepada Abu Sofyan,  Hari ini hari berkecamuknya perang, hari ini dihalalkan hal yang disucikan, hari ini Allah akan menghinakan Quraisy!”
 
Syahdan, Rasulullah SAW menjawabnya, “Bahkan hari ini adalah hari kasih sayang. Di hari ini, Allah mengagungkan Ka’bah,”1

Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri dalam kitab Ar-Rahiq Al Makhtum  menarasikan bahwa Rasulullah SAW menjawab, “Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan (pemuka kaum Quraisy) maka ia selamat ”2

Kedamaian dan keamanan dirasakan oleh kaum Quraisy yang memerangi Rasulullah. Andai saja Islam tidak menjunjung tinggi kasih sayang antar sesama umat manusia, niscaya kala itu tertumpah darah kaum Quraisy. Namun, dengan kasih sayang dan sifat memaafkan dari Rasulullah, penduduk Mekah berbondong-bondong masuk Islam tanpa paksaan. 

Menebar Kasih Sayang untuk Semua : Bagaimana Perdamaian Diperintahkan

Dalam Islam, heterogenitas umat manusia merupakan suatu hal yang menjadi ketetapan Allah. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal…” (terjemahan Q.S. Al Hujurat:13). 

Tidak ada satu pun dalam ajaran Islam yang menyatakan bahwa bumi hanya dihuni oleh umat Islam saja. Hal tersebut menimbulkan suatu konsekuensi logis bahwa Islam memerintahkan pemeluknya untuk berbuat baik kepada semua makhluk, tanpa terkecuali. Allah akan menunjukkan belas kasih-Nya kepada mereka yang bermurah hati. Bermurah hatilah kepada penduduk bumi, maka penguasa surga akan bermurah hati kepadamu” (H.R. al-Turmudzi)

Frasa “penduduk bumi” menunjukkan bahwa perintah untuk bermurah hati diberikan tanpa membedakan  apa dan bagaimana penduduk bumi. Bahkan, selaras dengan perintah bermurah hati, perintah untuk berlaku adil diiringi larangan untuk memperturutkan kebencian, “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (terjemahan Q.S. Al Ma’idah:8)

Perbuatan baik dalam Islam tidak memandang atribut yang melekat pada seseorang. Rasulullah SAW bersabda, “Jibril senantiasa mewasiatkan aku untuk berbuat baik kepada tetangga sampai-sampai aku mengira ia akan mendapatkan warisan dariku” (Muttafaqun ‘alaihi). Kata ‘tetangga’ yang dirujuk secara umum merupakan sebuah indikasi yang kuat akan perintah Islam untuk menebar kasih sayang tanpa terkecuali. 

Berbuat Adil :  Satu Langkah Lebih Dekat dengan Perdamaian 

Jika keadilan merupakan sebuah prasyarat bagi terciptanya perdamaian, Islam telah mengaturnya secara tegas. Secara eksplisit, dikatakan bahwa Allah SWT menyukai orang-orang yang berlaku adil, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,”(terjemahan Q.S. Al Mumtahanah:8)

Jika harta merupakan salah satu pemicu mengenai persengkataan yang dapat mengusik perdamaian dalam keluarga, Islam telah mengatur tentang hukum Faraid (hukum waris). Pembagian harta dibuat dengan suatu ketentuan yang diharapkan mampu memberikan rasa keadilan. 

Jika keadilan hanya diperuntukkan bagi satu golongan tertentu, maka hal tersebut amat layak untuk dipertentangkan. Sebuah riwayat termahsyur dari Imam Al Hakim menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib, khalifah keempat sekaligus menantu Rasulullah SAW, kehilangan baju besinya pada saat terjadi perang. Kemudian, ia mendapati bahwa baju besinya ada di tangan seorang Yahudi. Singkat cerita Ali ra. berperkara di depan hakim dengan orang Yahudi tersebut. Lantaran Ali ra. tak mampu mengajukan dua orang saksi yang independen (ia memiliki dua orang saksi dan salah satunya adalah Hasan sang anak), maka hakim memutuskan menolak kesaksian Hasan dan memenangkan orang Yahudi dimaksud. Ali ra. dengan kelegawaannya menerima keputusan tersebut dan justru hal itulah yang membuat hati sang lawan tersentuh dan kemudian memeluk Islam. Keadilan harus ditegakkan, meski pemimpin yang berdiri di hadapan.

Tidak Ada Paksaan dalam Agama : Bagaimana Islam Mendorong Perdamaian 

Ia lah Muhammad Al Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Tatkala penduduk Konstantinopel memadati Gereja Hagia Sophia dengan ketakutan, Sultan Mehmed memberikan jaminan keamanan kepada para penduduk. Selain itu ia juga memerintahkan para pengawalnya untuk menjaga gereja, rumah dan tempat publik sipil. Tidak ada paksaan bagi penduduk kota taklukannya untuk memeluk Islam, seperti diterangkan pada ayat, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam),” (terjemahan Q.S. Al Baqarah:256)

Islam Bukan Sekadar Ayat Transendental

Islam bukan hanya sekadar berbicara tentang ayat transendental. Ia lah Islam yang mengatur bagaimana urusan sebesar tata negara dan roda pemerintahan harus dijalankan. Pun, ia mengatur bagaimana unit terkecil seperti hubungan antara dua manusia seyogianya dibangun. Islam bukan hanya sekadar ritual penyembahan Tuhan sebagai implementasi dari konsep Hablu Minallah (hubungan makhluk dengan Allah), melainkan juga bagaimana membina hubungan antar manusia. Kalimat nan kuat secara maknawi seperti “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir” diikuti dengan perintah untuk memuliakan tetangga dan tamu. Barangsiapa beriman kepada Allah & hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yg baik atau diam. Dan barangsiapa yg beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya,(H.R. Muslim)

Maka, berbicara perdamaian adalah berbicara tentang Islam. Islam adalah sebuah integrasi holistik mengenai ketuhanan sekaligus kemanusiaan. Islam rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) adalah tentang bagaimana universalitas dari nilai-nilai Islam mengejawantah dalam kehidupan sehari-hari. Islam adalah tentang menebar kebaikan, berbuat baik kepada semua makhluk, berperilaku adil, menciptakan rasa aman dan damai serta memberikan manfaat bagi semua. Tak diragukan, semakin religius seseorang maka semakin ia mencintai perdamaian, sebagaimana ia mencintai bagaimana Islam ada dalam dadanya. Semakin religius seseorang maka ia akan terdorong untuk semakin meneladani sang Nabi, Rasulullah SAW, yang menjunjung tinggi perdamaian di muka bumi. Semakin religius seseorang akan semakin terhentak lakunya untuk selaras dengan ajaran Islam, menjadikan Islam sebenar-benar rahmat untuk semesta.

“dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam, (terjemahan Q.S. Al-Anbiya: 107)

#70thICRCid 

----

Referensi :
1.  Sirah Nabawiyah oleh Muhammad Sa'id Ramadhan Al Buthy
2. Ar-Rahiq Al-Makhtum oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
3. Muhammad Al-Fatih 1453 oleh Felix Y. Siauw
4. http://hizbut-tahrir.or.id/2011/06/05/hukum-dan-peradilan-islam-menjamin-keadilan-dan-ketegasan-hukum/







11 comments:

  1. Mantep mak Monika tulisannya :) suka deh

    ReplyDelete
  2. memang benar mbak Islam adalah agama paling menghormati keberagaman dan paling menjunjung tinggi perdamaian .,

    ReplyDelete
  3. aku tiap baca sirah kenapa ngantuk ya mbak *malah curhat* :D

    ReplyDelete
  4. sebenarnya kalau umat muslim paham dengan ajarannya sendiri pasti ga ada yang namanya intoleransi meskipun Indonesia 85%nya muslim. Harusnya non-muslim pasti akan merasa nyaman, malah karena kenyamanan itu sendiri membuat mereka memasuki islam dengan suka rela seperti kejadian pembebasan Mekah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup.. Islam telah jelas2 mengatur tentang toleransi :)

      Delete
  5. yap mons udah gini aja deh contoh yang paling simple
    kalau pimpinan perusahaan non muslim lebih banyak yang SARA daripada yang enggak. larangan pake jilbab!!
    terus kalau pimpinannya muslim nih ya... berapa sih yang ngelarang staffnya pake salib atau lambang agamanya yang lain selama masih sesuai pedoman negara kita?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo salib ma jilbab sebenernya contoh yg agak beda sih.. Sama2 simbol agama tp satunya wajib satunya enggak hehe.. Anyway semoga damai2 aja negara kt :)

      Delete
  6. Manteb artikelnya kak
    kakak syabab ht yaa
    salam kenal kak

    ReplyDelete