7 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Memutuskan Ta'aruf

Ta’aruf - Apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar kata “ta’aruf”? Dua orang asing yang dipertemukan dalam sebuah majelis untuk tujuan menikah? Sebuah cara menjemput jodoh tanpa pacaran untuk melindungi diri dari zina?

Singkatnya, ya. Dengan ta’aruf, seorang Muslim dan seorang Muslimah diperkenalkan melalui perantara. Tentu, bukan perkenalan biasa, melainkan perkenalan yang ditujukan untuk sebuah pernikahan apabila setelah perkenalan itu dirasa terdapat kecocokan dan kemantapan di antara keduanya. Diharapkan dengan ta’aruf, dua insan berlainan jenis akan mampu menikah dengan terhindar dari zina (baik zina kecil maupun zina besar).

Tahapannya antara lain saling bertukar Curriculum Vitae (CV) alias dokumen yang berisi data-data pribadi yang terkait. Formatnya bebas, tidak ada format baku, pastikan berisi data diri yang relevan dalam rangka memperkenalkan dirimu kepada ‘bakal calon’ pasangan. Misalnya : data pokok (tempat tanggal lahir, pekerjaan, pendidikan), kelebihan dan kekurangan diri, keluarga (gambaran anggota keluarga), kriteria pasangan yang diinginkan, gambaran rumah tangga yang diinginkan, dan informasi lainnya yang menurutmu relevan.

Kalau pengalaman saya dulu, saya cuma bikin CV minimalis sebanyak 4 halaman, bentuknya seperti CV mencari kerja. Adapun suami sangat niat membuat CV, 23 halaman full colour layaknya majalah digital, maklum dia berprofesi sebagai desainer grafis. Tak dapat dipungkiri bahwa CV memberikan kesan pertama karena itu buatlah CV sebaik-baiknya yang menggambarkan dirimu dengan baik dan tentu saja, jujur.

Ohya barangkali ada yang membutuhkan format CV ta’aruf, silakan klik CV ta’aruf

Selanjutnya, apabila dua belah pihak cocok dengan CV pihak lainnya, ta’aruf dapat dilanjutkan dengan nadzor (secara harfiah artinya ‘melihat’) atau pertemuan pihak laki-laki dan perempuan dengan didampingi oleh perantara sebagai sebuah sesi tanya jawab. Selanjutnya, apabila setelah nadzor, keduanya merasa cocok dan mantap meneruskan ke tahap selanjutnya, pihak laki-laki dapat melakukan khitbah atau lamaran sebelum kemudian keduanya menentukan tanggal pernikahan. 

Nah, kalau kamu sudah mantap ingin menikah dengan ta’aruf, ada hal-hal penting yang seyogianya kamu perhatikan, tidak hanya sekadar ‘merasa ingin’. Jadi, kamu melangkah menuju ta’aruf tak hanya bermodal merasa ‘tertinggal’ seperti “Teman-temanku sudah banyak yang nikah kok aku belum? Kok aku masih jomblo aja?”atau “Pokoknya aku mau nikah segera, iri banget rasanya lihat postingan couple-goal di Instagram,”

Ta’aruf bukan merupakan sebuah perbuatan iseng-iseng. Namun, merupakan sebuah ikhtiar menjemput jodoh dengan cara yang mudah-mudahan diridai Allah SWT.



Nah, apa saja yang perlu kamu persiapkan sebelum memutuskan untuk ta’aruf? 

1. Luruskan Niat

Yes, hal terpenting dari segala sesuatu adalah niat. Tanyakan pada hati terdalam apa niatmu untuk ta’aruf. Karena ingin menyempurnakan agama? Karena sudah ‘kepanasan’ dipanggil jomblo dan merasa teman-teman sebaya sudah menikah? Karena ingin menjaga diri? Pastikan niatmu adalah niat yang lurus karena manusia akan mendapatkan apa yang diniatkannya.

Tanyakan ke dirimu. Sudah luruskah niatku? Apa aku sudah siap menikah dalam waktu dekat? Karena jika semua tahapan ta’aruf berjalan lancar, khitbah seyogianya segera dilakukan dalam waktu dekat (1-3 bulan), dan kemudian pernikahan dalam waktu yang tidak terlalu lama dari khitbah.

Ta’aruf bukan perkara main-main. Jika memang kamu belum serius, please, lebih baik menunda dulu keinginanmu untuk ta’aruf. Nggak lucu kan kalau di tengah-tengah ta’aruf kamu tiba-tiba membatalkannya karena kamu belum yakin dengan dirimu sendiri?

2. Persiapan Ilmu

Memutuskan ta’aruf artinya kamu siap untuk memasuki gerbang pernikahan dalam waktu dekat. Pernikahan merupakan suatu perjanjian yang kokoh, artinya kamu harus mempersiapkan ilmu untuk hal sepenting pernikahan. Sudah tahu koridor ta’aruf yang syari? Sudah tahu hak dan kewajiban sebagai suami atau istri? Bagaimana adab dalam rumah tangga? Tentu, kita ingin pernikahan yang kita jalani merupakan pernikahan yang akan membuat kita makin taat kepada Allah SWT dan membawa kebaikan, bukan? Bukan sekadar ‘asal nikah’, berganti status di KTP. 

3. Pastikan Siapa Perantaramu

Perantara ta’aruf merupakan penghubung antara sang laki-laki dan perempuan agar tidak terjadi khalwat/berdua-duaan. Terdapat beberapa pihak yang bisa dijadikan sebagai perantara ta’aruf. Misal, pihak perantara bisa merupakan murobbi/mentor, teman, keluarga. Baiknya, perantara merupakan orang yang sudah menikah dan tentu saja, paham syariat agama khususnya perihal ta’aruf sehingga ta’aruf dapat berjalan dalam koridor syariat.

Misalnya, saat bertukar CV melalui perantara. Pihak perempuan memberikan CV kepada perantara perempuan, pihak laki-laki memberikan CV kepada perantara laki-laki. Lalu, kedua perantara tersebut saling bertukar CV pihak yang diperantarai. Bisa juga jika perantaranya hanya satu orang, tetapi baiknya orang tersebut sudah menikah.

Nah, kalau belum ada calon bagaimana? Ya cari calonnya hehe. Misalnya, jika kita ada ketertarikan lebih dengan seseorang dan ingin mengajaknya ta’aruf, carilah orang yang bisa menjadi perantara. Atau, jika memang belum ada bayangan siapa calon kita, kita bisa meminta orang yang tepercaya untuk mencarikan calon dan menjadi perantara kita nantinya. Kalau kamu meminta seseorang mencarikan calon, pastikan ia memiliki pemahaman agama yang cukup baik serta cukup mengenalmu sehingga ia tahu karaktermu dan juga tipe pasangan yang kamu inginkan.

Mengapa? Begini contohnya. Dulu, saya pernah ditawarin dikenalkan dengan seseorang. Kata temen saya,”Sholeh kok orangnya,”, Nah, kemudian saya mencari tahu tentang orangnya dari sumber yang lain. Ternyata laki-laki yang dimaksud tersebut kalau sholat seringkali ‘injury time’ alias sholat dhuhur jam 2 siang, sholat ashar jam 5 sore. Saya pun konfirmasi ke teman yang bilang kalau temannya itu sholeh. Ternyata ia menganggap bahwa seorang laki-laki Muslim yang tak meninggalkan sholat itu sholeh. Sementara, kalau menurut saya ya laki-laki yang sholeh itu laki-laki yang sholat berjama’ah di masjid pada awal waktu. Nah, berbeda pandangan kan? 

Oleh karena itu, secara pribadi saya nggak merekomendasikan ta’aruf online. Online di sini adalah kita mengumpulkan CV ke situs penyedia jasa ta’aruf atau ke penyelenggara jasa ta’aruf yang hanya dikenal via dunia maya. Mengapa? Pertama, kita tidak mengetahui tingkat pemahaman agama sang penyedia jasa dan yang kedua, kita memberikan data yang sangat pribadi (CV merupakan data yang sangat pribadi, bukan?) ke orang yang kita tidak tahu amanah atau tidak. Jangan sampai data pribadimu beredar secara sembarangan. 

4. Persiapan Finansial

Ketika kamu memutuskan ta’aruf artinya kamu sudah harus memiliki kesiapan mental dan finansial apabila menikah dalam waktu dekat (3-6 bulan). Baik kamu laki-laki maupun perempuan. Karena kita tidak tahu nanti siapa yang akan membiayai pernikahan, apakah calon suami semua atau ditanggung berdua, apakah orang tua bersedia turut membiayai atau tidak. Masalah pembiayaan pernikahan bisa dibicarakan setelah kedua belah pihak setuju untuk melanjutkan ta’aruf menjadi khitbah.

5. Kondisikan keluarga

Pengkondisian keluarga merupakan hal yang sangat penting sebelum kamu memutuskan ta’aruf. Mengapa? Karena keluarga akan menerima anggota baru (jika ta’aruf berlanjut) yang merupakan orang yang kemungkinan besar sama sekali tak pernah diketahui sebelumnya. Sebelum memutuskan untuk ta’aruf, amat disarankan untuk bertanya kepada orang tua berbagai pertanyaan berikut : bagaimana jika kamu menikah dalam waktu dekat apakah orang tua berkenan/tidak keberatan, apakah ada preferensi tertentu dari orang tua tentang calon menantu (misal harus satu suku, rentang usia, pekerjaan, dsb), apakah ada persyaratan tertentu dari orang tua untuk menerima calon menantu (misalnya, bagi perempuan harus bisa memasak). Pengkondisian keluarga (khususnya orang tua) merupakan sebuah prasyarat mutlak sebelum kamu ta’aruf.

Dengan demikian, jika ta’aruf berlanjut, diharapkan tidak ada permasalahan yang timbul dari pihak keluarga. Misal, kedua pihak laki-laki dan perempuan sudah saling sreg dan cocok tapi kemudian pernikahan tidak berlanjut karena salah satu tidak memenuhi ekspektasi keluarga.

6. Sudah move on!

Ketika kamu memutuskan ta’aruf, hatimu harus sudah move on dari perasaanmu sebelumnya alias sudah melupakan mantan pacar atau mantan gebetan (jika ada). Kamu benar-benar siap menerima orang yang mungkin sama sekali baru bagimu. Kamu sudah lepas dari bayang-bayang masa lalu. Ya, kalau tidak, kasihan calonmu nanti dan kamu pun nggak akan merasa benar-benar bahagia.

7. Hati yang pasrah dan lapang

Nah, kalau kamu mau ta’aruf, kamu harus mempersiapkan hati yang pasrah dan lapang. Istilah gaulnya jangan baper dulu. Ta’aruf belum tentu berlanjut ke pernikahan dan ketika kamu dan dia sedang dalam masa ta’aruf itu sama sekali belum ada ikatan apa-apa di antara lain. Betapapun hatimu sudah merasa condong ke dia, selama ijab qabul belum dilakukan, berusahalah untuk menjaga hati. Pegang keyakinan bahwa jika seseorang tersebut jodohmu maka ia akan menjadi pasangan halalmu karena lanjut ta’aruf belum tentu lanjut ke pernikahan jika Allah tidak meridhoi.

Ketika saya sedang dalam proses ta’aruf dengan suami, saya berusaha meyakinkan diri untuk jangan baper dulu dan bersikap nothing to lose. Kalau memang jodoh pasti bersanding dan kalau nggak jodoh ya tak ada ruginya. Pola pikir itu menjaga saya tetap logis selama masa penantian sebelum pernikahan.

Jadi, kamu sudah siap untuk ta’aruf? 

4 comments

  1. Semoga yang mau menikah dapat dipertemukan jodohnya 2020 ini .Aamin

    Makasih sharingnya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. semoga diberikan jodoh yang terbaik.. sama2 mba, terima kasih juga sudah mampir :)

      Delete
  2. maaksih sharingnya, wah bgeitu ya buat semacam cv juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, untuk lebih memperkenalkan diri dan ngasih tau gini loh yang kita mau hehe

      Delete